foto1
foto1
foto1
foto1
foto1
0335-436103
humaskotaprob@gmail.com

 

PROBOLINGGO–Warga Kota Probolinggo diimbau cerdas dalam memilih makanan segar untuk dikonsumsi sehari-hari. Sebab, saat ini dimungkinkan terdapat makanan dengan pengawet di pasaran. 

Hal itu terungkap saat Sekda Kota Probolinggo dr Bambang Agus Suwignyo melakukan inspeksi mendadak (sidak) di tiga pasar di kota mangga, Rabu (20/12). Saat itu terungkap ada sejumlah pedagang yang menjual teri nasi dan terasi yang mengandung formalin. 

 

“Formalin ini di dunia kesehatan digunakan sebagai pengawet mayat. Banyak mengonsumsi (formalin) akan mengakibatkan penyakit kanker. Saya mengimbau masyarakat untuk memilih ikan yang segar, tidak kaku atau istilahnya baru menangkap,” tutur sekda. 

 

Namun sekda juga menyatakan, tidak menjamin ikan yang baru saja ditangkap akan bebas formalin. “Tapi yang jelas, ikan kering justru berisiko mengandung pengawet,” kata mantan direktur RSUD dr Saleh ini. 

 

Terbukti dari tiga pasar yang disidak, di pasar Ketapang tim mendapati penjual teri nasi, teri kering dan terasi yang mengandung formalin. Kandungannya lebih dari 1,5 part per million (ppm). 

 

Ketiga pedagang asal Kabupaten Probolinggo berinisial Wk, Ms dari Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih dan HL warga Desa Ambulu, Kecamatan Sumberasih. 

 

Atas temuan tersebut, Sekda Bambang segera memerintahkan Dinas Perikanan dan Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) untuk melakukan pembinaan kepada para pedagang tersebut. 

 

“Ini terkait perilaku pedagangnya. Dinas terkait akan mendatangi dan membina tiga pedagang ini, menginformasikan jika yang mereka jual mengandung formalin. Kami berharap ada pengawasan ke depannya agar tidak meresahkan masyarakat. Sekali lagi, pembeli juga harus lebih berhati-hati,” tegasnya. 

 

Kepala Dinas Perikanan Budi Krisyanto pun menyatakan siap melakukan pembinaan kepada pedagang ikan yang mengandung formalin itu. Secara program kerja, Dinas Perikanan mempunyai kegiatan sidak ikan berformalin pada akhir tahun karena asumsinya akan banyak masyarakat yang mengonsumsi ikan. 

 

“Kami ingin memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa ikan di pasar ini aman untuk dikonsumsi. Sehingga, ketika masyarakat ke pasar ada rasa aman mau membeli ikan atau olahannya. Kami mengindikasi ada teri nasi dan teri kering yang mengandung formalin di pasar Ketapang,” jelas Budi Kris – sapaannya. 

 

Dinas Perikanan pun telah menyiapkan langkah sosialisasi untuk memberikan pemahaman pada pedagang agar hati-hati mengambil dagangan dari pihak lain. 

 

“Khusus yang tidak diolah sendiri, kami berharap hati-hati mengambil dari mana. Kami akan telusuri pedagang ini membeli dimana, kulakan dimana. Kami siap berkoordinasi dengan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait,” tegas pria berkumis ini. 

 

Selain itu, Dinas Perikanan segera memberikan surat peringatan kepada pedagang. Jika tetap diulangi diberi surat teguran kemudian ada pelarangan berjualan jenis dagangan yang mengandung formalin tersebut. 

 

Efek jangka pendek mengonsumsi olahan berformalin adalah pusing dan mual. Jangka panjang dapat mengakibatkan gangguan fungsi organ hingga tumor dan kanker. 

 

Olahan berformalin dapat dilihat secara kasat mata, apabila tidak dihinggapi lalat dan tidak berbau amis. Cara membersihkannya, jika formalin masih di batas tolerir dapat dikukus dan direbus. 

Saat ditanya tentang peredaran formalin di Kota Probolinggo, Budi Kris mengungkapkan, dari sidak itu akan mendorong OPD (organisasi perangkat daerah) yang bertanggungjawab untuk lebih melakukan pengawasan penjualan formalin.  

 

Dimulai pukul 07.00 tim sidak yang terdiri dari Dinas Perikanan, DKUPP, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan Satpol PP beranjak ke Pasar Ketapang, Pasar Baru dan Pasar Ikan Mayangan. Sampel dagangan sejumlah pedagang diambil kemudian dimasukkan dalam plastik yang sudah terlabel identitas pedagang. 

 

Kemudian sampel tersebut diuji lab di rumah kemasan milik Dinas Perikanan, di Mayangan menggunakan test kit formal dheid. Caranya, sampel ikan atau olahan ikan itu dimasukkan ke dalam mangkok kemudian diberi cairan carrez I dan carrez II. Setelah halus dimasukkan ke botol untuk proses penyaringan.

 

Usai disaring dimasukkan tabung reaksi lalu diisi cairan FO-1 dan FO-2. Dalam durasi 3-4 menit akan ada reaksi perubahan warna bila sampel mengandung formalin. 

 

Jika warna tidak pekat maka kandungan formalin tidak berbahaya atau tidak mengandung formalin, sebaliknya jika pekat dan kadarnya tinggi sangat berbahaya untuk dikonsumsi. (famy decta/humas)

 

DATA PERS 2018

SAKIP 2017

LINK BADAN/DINAS

  • Badan Perencanaan Daerah dan Penelitian Pengembangan
  • Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah
  • Badan Kesatuan Bangsa dan Politik
  • Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
  • Dinas Perikanan
  • Dinas Kesehatan
  • Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
  • Dinas Perhubungan
  • Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
  • Dinas Komunikasi dan Informatika
  • Dinas Lingkungan Hidup
  • Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
  • Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
  • Dinas Perberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana

 

LINK BAGIAN/KANTOR

  • Bagian Administrasi Pembangunan
  • Bagian Administrasi Perekonomian
  • Bagian Hukum
  • Bagian Humas Dan Protokol
  • Bagian Kesejahraan Rakyat
  • Bagian Organisasi
  • Bagian Pemerintahan
  • Bagian Umum
  • Dinas Perpustakaan & Kearsipan
  • Inspektorat
  • Kantor Satpol. Pp
  • RSUD Dr. Moch. Saleh
  • Sekretariat Dewan
  • Sekretariat KPUD

LINK KECAMATAN

  • Kecamatan Mayangan
  • Kecamatan Kedopok
  • Kecamatan Wonoasih
  • Kecamatan Kademangan
  • Kecamatan Kanigaran