Jadi Enterpreneur, Siapa Takut?

image_pdfimage_print

KADEMANGAN – Jumlah pengangguran yang terus meningkat hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Demikian pula di Kota Probolinggo. Menurut data terkini, pengangguran di Kota Probolinggo didominasi oleh lulusan SMA sederajat. Hal ini disampaikan Kepala Bappeda Litbang Kota Probolinggo, Rey Suwigtyo saat menggelar seminar “How To Be A Millenial Enterpreneur” di Hotel Bromo View, Selasa (23/10). Seminar ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Kota Probolinggo dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Kota Probolinggo. 

Diikuti sekitar 150 peserta dari pelajar SMA sederajat hingga perwakilan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), seminar ini mengundang Martalinda Basuki, pemilik usaha Cokelat Klasik asal Malang. Menurut Tyok, sapaan akrab Rey Suwigtyo, melalui acara ini diharapkan dapat menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan para pelajar SMA, karena pada masa ini lah kreativitas dari para pemuda bisa muncul. 

“Anak zaman sekarang kurang tertarik pada kewirausahaan dan malahan lebih tertarik pada game online. Generasi millenia di Indonesia jangan boleh kalah dengan persaingan anak-anak muda dari negara lain. Yang harus dimiliki dalam jiwa generasi millenia adalah jiwa kewirausahaan sebagai syarat untuk menghadapi berbagai tantangan ke depan,” tutur Tyok. 

Cokelat Klasik adalah salah satu produk coklat yang didirikan sejak tahun 2011. Hingga kini, Cokelat Klasik telah tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan kurang lebih 365 cabang dan 8 kafe. Lala, sapaan Martalinda Basuki, selaku pemilik usaha ini mengaku dirinya sempat mengalami jatuh bangun dalam prosesnya. Di awal membangun usaha, ia bahkan sempat mengalami kebangkrutan. Namun dengan segala upaya dan penerapan strategi dalam membangun bisnis, kini di usianya yang baru menginjak 27 tahun, Lala telah meraih kesuksesan. 

Menurutnya ada sedikit perbedaan antara pedagang, pebisnis, dan enterpreneur. Pedagang, tidak membutuhkan strategi khusus dan hanya merupakan salah satu profesi untuk menyambung hidup. Di sisi lain, pebisnis merupakan salah satu profesi yang dalam pelaksanaannya hanya mementingkan profit semata. Lain halnya dengan enterpreneur. Profesi ini selain mengejar keuntungan, juga lebih memprioritaskan bagaimana usahanya dapat memberikan manfaat bagi orang lain. “Dalam membangun bisnis, jangan hanya menguntungkan diri sendiri. Bisnis itu sendiri harus bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” tutur Lala. 

Dalam seminar ini, ia pun membeberkan bagaimana membangun sebuah usaha. Menurut Lala, apa pun produk yang kita jual bisa meraup keuntungan asal dijalankan dengan menggunakan strategi yang tepat. Branding sebuah produk harus lah kuat, bagaimana kita merancang agar produk kita mudah dikenal orang lain. Media sosial yang digunakan oleh hampir seluruh pemuda, dapat menjadi salah satu media untuk mempromosikan produk yang ingin dijual. 

Dalam memulai bisnis, tidak boleh takut untuk mengambil resiko. Semakin besar resiko yang akan ditanggung, maka semakin besar pula hasil yang akan diraih, demikian juga sebaliknya. “Kenali usaha dan produk yang kita jual. Ini menjadi poin penting lainya dalam membangun usaha. Salah satu poin menarik lainnya adalah memuliakan tim dan pegawai yang kita pekerjakan dalam bisnis yang kita jalani. Ini adalah aset berharga yang harus dijaga dengan baik,” terangnya. 

“Muliakan tim dan pegawai anda karena mereka adalah aset kita, sumber rezeki kita itu ya di pegawai kita. Allah menitipkan pegawai kepada kita. Muliakanlah mereka maka Allah akan memuliakan kita,” sambungnya.  (alfien/humas)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.