Ikuti Pameran Internasional, Pelita Si Abah Ramai Pengunjung

image_pdfimage_print

JAKARTA — Setelah sukses meraih Penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik yang digelar oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) Republik Indonesia, inovasi Pelita Si Abah diundang Kemenpan RB untuk mengikuti pameran internasional yang digelar bersamaan dengan International Public Service Forum (IPSF) 2018, Rabu (7/11), di Assembly Hall Jakarta Convention Center. 

Kegiatan ini dibuka Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Digelar pula penyerahan penghargaan Top 40 inovasi pelayanan publik yang diberikan langsung oleh Jusuf Kalla, forum diskusi internasional terkait pelayanan publik, hingga best practice sharing. Sayangnya, kali ini Pelita Si Abah belum berhasil merangsek ke posisi Top 40 inovasi pelayanan publik. Meskipun demikian, inovasi yang diusung oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Probolinggo ini patut berbangga diri mengingat dari sekian banyak inovasi di seluruh Indonesia, Pelita Si Abah masuk dalam daftar Top 99.

Jusuf Kalla dalam sambutannya mengapresiasi segala bentuk inovasi yang telah diciptakan oleh instansi pemerintah. Menurutnya, ini merupakan upaya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. 

“Instansi pemerintah harus menganut entrepreneurship bureaucracy, harus ada perbaikan dalam birokrasi. Pemerintah bisa belajar dari pengusaha sehingga pelayanan dapat diberikan dengan cepat dan bersih,” ujar Jusuf Kalla.

Digelar selama 2 hari, IPSF diikuti oleh ratusan peserta mulai dari penerima penghargaan Top 99 hingga para pemenang United Nations Public Service Awards (UNPSA) dari tahun 2012 hingga 2018. 

Kepala Dinas Lingkugan Hidup Kota Probolinggo, Budi Krisyanto, menyatakan pameran ini menjadi salah satu kesempatan menarik bagi Kota Probolinggo untuk mengenalkan Pelita Si Abah. Menurutnya, dengan mengikuti pameran ini, diharapkan Pelita Si Abah dapat dikenal masyarakat luas dan bahkan dapat direplikasi oleh daerah lain.

“(Pameran internasional) Ini menjadi kesempatan menarik yang diberikan Kemenpan RB pada Kota Probolinggo untuk mengenalkan Pelita Si Abah. Bisa kita lihat, dari tadi pagi Pelita Si Abah mendapat respon positif dari para pengunjung. Harapannya, inovasi ini dapat direplikasi di daerah lain,” ujar Budi Kris.

Selama pameran digelar, antusiasme pengunjung terhadap Pelita Si Abah memang cukup tinggi. Sejak dibuka mulai kemarin pagi, stan Pelita Si Abah tak pernah sepi pengunjung. Banyak pengunjung yang tertarik dengan inovasi ini mengingat pengolahan limbah tahu menjadi biogas yang dapat digunakan sebagai energi alternatif masih belum banyak ditemukan di daerah lain. 

I Gede Hery salah satunya. Pegawai Dinas Perhubungan Kota Denpasar, Bali ini mengapresiasi inovasi yang telah diusung oleh DLH Kota Probolinggo. Ia menyatakan bahwa inovasi ini dapat direplikasi di daerahnya mengingat limbah tahu masih menjadi masalah yang belum terselesaikan di Denpasar.

“Inovasi ini sangat menarik. Kami akan koordinasikan dengan pihak terkait di daerah kami. Limbah tahu di daerah kami hanya dibuang begitu saja dan bahkan menjadi sumber bau tak sedap. Hal ini juga sempat menyebabkan salah satu pabrik tahu di daerah kami sampai tutup. Kalau pimpinan kami setuju, tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan studi banding ke Kota Probolinggo,” ujar I Gede Hery. (mita/humas)

 

Joined International Exhibition, Pelita Si Abah Attract Many Visitors

After successfully winning the Top 99 Public Service Innovation Award held by the Ministry of Administrative and Bureaucratic Reform (Kemenpan RB) of the Republic of Indonesia, Pelita Si Abah’s innovation was invited by Kemenpan RB to attend an international exhibition, in conjunction with the International Public Service Forum (IPSF) 2018, on Wednesday (11/7), at the Assembly Hall in Jakarta Convention Center.

This activity was opened by Indonesian Vice President Jusuf Kalla. There were also awarding Top 40 public service innovations given directly by Jusuf Kalla, international discussion forums related to public services, to best practice sharing. Unfortunately, this time Pelita Si Abah has not succeeded in reaching Top 40 public service innovation. Even so, the innovation carried out by the Environmental Agency of Probolinggo City should be proud considering that of the many innovations throughout Indonesia, Pelita Si Abah was included in the Top 99 list.

Jusuf Kalla in his speech appreciated all forms of innovation that have been created by governmental agencies. According to him, this is an effort to provide the best service for the community.

“Government agencies must adhere to entrepreneurship bureaucracy, there must be improvements in bureaucracy. The government can learn from entrepreneurs so that services could be provided quickly and clean,” Jusuf Kalla said.

Held for 2 days, IPSF was attended by hundreds of participants such as the recipients of the Top 99 awards and the winners of the United Nations Public Service Awards (UNPSA) on 2012-2018.

Budi Krisyanto, Head of Environmental Agency of Probolinggo city, said that the exhibition was one of the interesting opportunities for Probolinggo City to introduce Pelita Si Abah. According to him, by participating in this exhibition, it is expected that Pelita Si Abah can be known to the wider community and can even be replicated by other regions.

“This international exhibition is an interesting opportunity given by Kemenpan RB for us to introduce Pelita Si Abah. We can see, from this morning Pelita Si Abah received a positive response from visitors. Hopefully, this innovation can be replicated in other areas,” Budi Kris said.

During the exhibition, the enthusiasm of visitors to Pelita Si Abah was indeed quite high. Since it opened yesterday morning, the Pelita Si Abah booth has crowded by visitors. Many visitors interested in this innovation remembering that the processing of tofu waste into biogas as an alternative energy is still rare found in other areas.

I Gede Hery is one of them. He, who is an employee of the Denpasar City Transportation Agency, Bali, appreciates this innovation. He stated that this innovation could be replicated in his area considering that tofu waste is still an unresolved problem in Denpasar.

“This innovation is very interesting. We will coordinate with related parties. In our region, Tofu waste is just thrown away and even release unpleasant odors. This also causes one of the tofu factories in our region close down. “If our leaders agree, it is possible that we will do a comparative study in Probolinggo City,” said I Gede Hery. (unofficial translation)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.