Putri Indonesia Bunga Jelitha Meriahkan Festival Batik Kota Probolinggo

image_pdfimage_print

KANIGARAN- Pada tahun 2014 Pemerintah Kota Probolinggo berinisiatif untukmeminta kembali motif-motif batik kuno Probolinggo yang tersimpan di Tropen Museum, Amsterdam Belanda. Sebanyak 155 motif batik dibawa kembali kala itu. Untuk memperkenalkan kembali motif batik kuno tersebut, maka Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo menggelar festival batik, Rabu (7/11) di halaman kantor pemkot Probolinggo.

Mengangkat tema “Ultimate Reborn Probolinggo Batik Festival”, kegiatan yang sudah kali kedua ini menampilkan motif batik kuno yang di-reprot ulang oleh para pebatik Kota Probolinggo. Sejumlah 20 motif ditampilkan oleh para model-model profesional, diantaranya motif kembang koro, campur sari, Panji Litik, Lurking, Sriti, udan emas, dan lain-lain. 

Yang membuat festival batik kali ini spesial juga kedatangan dari Putri Indonesia Tahun 2017, Bunga Jelitha Ibrani. Dengan mengenakan rok batik bermotif “Kapal Keruk”, dia dengan luwesnya melenggak-lenggok diatas panggung. Mengaku baru pertama kali ke Kota Probolinggo, dia sangat mengagumi hasil hasil karya para pebatik lokal. 

“Suatu kebanggaan bisa ikut tampil di acara seperti ini, menampilkan batik sebagai warisan budaya. Salah satu alasan saya bangga menjadi warga Indonesia adalah batik,” katanya. Dia juga menambahkan bahwa pebatik merupakan aset daerah karena dari mereka (pebatik) bisa melestarikan batik.

Sekretaris Daerah Kota Probolinggo, dr Bambang Agus Suwignyo pun berharap agar batik kuno ini bisa dikembangkan. “Mungkin nanti bisa dijadikan salah satu seragam bagi pegawai Pemkot,” katanya. Dia juga berharap agar festival batik menjadi agenda wisata tahunan. “Supaya digabungkan dengan event lain, seperti Probolinggo Tempo Doeloe, yang rencananya akan diadakan selama lima hari, sehingga mampu meningkatkan nilai tambah pariwisata Kota Probolinggo,” katanya.

Selain peragaan motif batik kuno, festival batik kali ini juga membuka pameran batik di halaman pemkot, display peragaan pembuatan batik, dan pameran koleksi batik kuno. “Festival ini selain bertujuan untuk memperkenalkan motif batik kuno, memang bertujuan untuk meningkatkan peluang dan jaringan kerjasama untuk menunjang aktifitas pariwisata,” kata kepala Disbudpar, Tutang Heru Aribowo. Dalam kesempatan ini pula, diberikan penghargaan kepada 20 pembatik yang bekerjasama untuk pembuatan ulang motif batik kuno yang ditampilkan. (hariyanti/humas)

 

Putri Indonesia Bunga Jelitha Jazz up Batik Festival of Probolinggo

In 2014, Probolinggo City Government took the initiative to ask the ancient batik motifs of Probolinggo stored in Tropen Museum, Amsterdam Netherlands. 155 batik motifs were brought back at that time. To reintroduce the ancient batik motif, the Department of Culture and Tourism (Disbudpar) of Probolinggo City held a batik festival on Wednesday (7/11) at the courtyard of the Probolinggo municipal office.

Raising the theme “Ultimate Reborn Probolinggo Batik Festival”, this second time festival shows ancient batik motifs that are reprocessed by the batik maker of Probolinggo. A total of 20 motifs are displayed by professional models, including the Kembang koro, campur sari, Panji Litik, Lurking, Sriti, udan emas, and any other motifs.

What made this batik festival special this time was also the arrival of Putri Indonesia 2017, Bunga Jelitha Ibrani. Wearing a batik skirt “kapal keruk” motif, she flexibly walked on the stage. Claiming to be the first time to the city of Probolinggo, he greatly admired the work of local batik makers.

It’s a pride to be able to participate in this show, displaying batik as a cultural heritage. One of the reason why I am proud to be an Indonesian is batik,” she said. She also added that the batik makers was a regional asset because they could preserve batik.

Regional Secretary of Probolinggo City, dr. Bambang Agus Suwignyo also hoped that this ancient batik could be developed. “Maybe later it can be used as one of the uniforms for City Government employees,” he said. He also hoped that the batik festival will be an annual tourism agenda. “To be combined with other events, such as Probolinggo Tempo Doeloe, which is planned to be held for five days, so as to increase the value of Probolinggo City tourism,” he said.

In addition to the demonstration of ancient batik motifs, this batik festival also held a batik exhibition at the yard of mayor’s office, batik making process, and an exhibition of ancient batik collections. “Not only to introduce ancient batik motifs, this festival also aims to increase opportunities and networking to support tourism activities,” said the head of Disbudpar, Tutang Heru Aribowo. On this occasion, was given an award to 20 batik makers who collaborated to remake the ancient batik motifs displayed. (unofficial translation/hariyanti)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.