image_pdfimage_print

WONOASIH  –Sanitasi yang tak baik, jadi salah satu faktor penyebab stunting (kondisi dimana seorang anak memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya).

Bad sanitation ecome one of stunting (condition where the children have delayed growth) causes.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Probolinggo, Amin Fredy, saat peresmian IPAL Komunal Kedung Kemiri di Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, Selasa (8/1) sore.

It is said by the head of Public Work and Spatial Planning Agency (PUPR), Amin Fredy at the inauguration of communal wwtp “Kedung Kemiri” at Kedungasem village, Wonoasih sub-district, Probolinggo city, on Tuesday (8/1) afternoon.

Menurutnya, populasi di Indonesia terus meningkat. Pemukiman terus berkembang dan semakin padat. Namun peningkatan populasi ini, tidak diimbangi dengan penyediaan akses sanitasi layak pada pemukiman tersebut. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi menyebabkan kualitas sanitasi di Indonesia semakin tertinggal di dari negara lain.

He said that Indonesia’s population increase continously, so is the settlement. But in the other hand, there are many unappropriate sanitation in those settlement. The lack of awareness of the importance of sanitation will make the sanitation quality in Indonesia is poorer than another country.

Dan, saat ini Indonesia menempati peringkat sanitasi terburuk ke-2 di dunia setelah India. “Akhir-akhir ini sedang ngetren kasus stunting yang terus meningkat di berbagai daerah. Tidak terkecuali di Kota Probolinggo. Salah satu penyebab stunting adalah sanitasi yang kurang baik. Dimana bakteri dari air tinja mengkontaminasi air minum/makanan penduduk,” jelas Amin.

Now, Indonesia is on the second rank of bad sanitation after India. “Recently, we’ve been heard about the increasing of stunting cases in many region, so as in Probolinggo city. One of the causes of stunting is poor sanitation where there are many bacteries coming from dirty water and contamining the drinking water,” said Amin.

Saat ini di daerah perkotaan di negara maju, kata Amin dalam laporannya, sudah tidak lagi menggunakan septictank individu melainkan sistem perpipaan (sewerage) untuk dialirkan ke instalasi pengolah skala kota. Negara berkembang seperti Vietnam atau Bangladesh pun sudah mulai membangun sistem tersebut.

Amin in his report said that many cities in developed country has no longer using individual septictank but sewerage which flows to city’s treatment plant. Developing countries such as Vietnam and Bangladesh also has been applying this system.

Namun sistem itu masih sulit diterapkan di Indonesia. Sehingga, pemerintah pusat merancang Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) skala permukiman atau yang sering disebut IPAL Komunal.

But, it is hard if it will be applied in Indonesia, so center government planned Sistem Pengelolaan Air limbah Domestik Terpusat (Integrated domestic waste water treatment plant) for housing scale or it can be called communal WWTP.

“Pembangunan IPAL Komunal ini menggunakan sistem sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas). Yakni direncanakan, dilaksanakan dan diawasi sendiri oleh masyarakat. Harapannya, masyarakat memiliki kepedulian untuk merawat IPAL Komunal yang terbangun,” ungkap Amin.

 “The development of this communal WWTP is based on society, which means it is planned, applied, and supervised by the society itself. Hopefully, they have more awareness to keep it,” said Amin.

Sanitasi Layak (Appropriate Sanitation)

Pilot project IPAL Komunal dimulai pada tahun 2003 di 6 kota. Pada 2010 mulai didorong secara nasional melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Selain dana tersebut, juga dana bantuan dari luar negeri seperti lembaga USAID, AUSAID, USRI dan lainnya yang bertujuan membantu memperbaiki sanitasi di Indonesia.

The pilot project of communal WWTP began at  2003 in six cities, and it become national project at 2010 using Dana Alokasi Khusus (Specific allocation fund/DAK) and funding from some organization such as USAID, AUSAID, USRI and so on which help to improve the quality of sanitation in Indonesia.

“Idealnya seluruh laporan masyarakat berhak mendapatkan akses sanitasi layak. Namun dengan terbatasnya anggaran maka kegiatan Sanimas diprioritaskan pada kawasan dengan perilaku BABS (Buang Air Besar Sembarangan), kasus stunting atau banyaknya keluarga yang menggunakan air tanah sebagai air baku untuk minum atau memasak,” terang mantan Kepala BPBD ini.

All citizen have the right to have a good sanitation, but since the limited budget, the communal WWTP program depends on the area with carelessly defecation behaviour, stunting cases, and the area which has many household using ground water for their daily needs,” said the man who is the former of the head of BPBD.

Amin Fredy melaporkan, sejak 2011, kegiatan Sanimas dimulai Dinas Pekerjaan Umum (kini Dinas PUPR) dengan dana DAK dan Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) dengan dana USRI untuk membangun 19 unit IPAL Komunal dengan cakupan 1.336 kepala keluarga (KK).

Amin Fredy said, since 2011, communal WWTP program has been done by Public Work Agency (now it changed to PUPR Agency) using specific allocation fund (DAK) and Badan Pemberdayaan Masyarakat (Society Empowerement Agency) using USRI fund to build 19 units of communal WWTP for 1336 household.

Tahun 2017 membangun 6 IPAL Komunal yang melayani total 354 KK. Rinciannya, 1 IPAL Komunal dari Sanimas APBN di Kelurahan Pakistaji untuk 55 KK; 5 IPAL Komunal dari Sanimas DAK untuk 299 KK di Kelurahan Kademangan (54 KK), Pilang (64 KK), Kedunggaleng (61 KK), Jati (50 KK) dan Sumbertaman (70 KK).

On 2017, it has been built 6 communal WWTP for 354 households, those are 1 communal WWTP using state fund built in Pakistaji village for 55 households; 5 communal WWTP using DAK for 299 households built in Kademangan village for 54 households, Pilang village for 64 households, Kedunggaleng village for 61 households, Jati village for 50 households, and Sumbertaman village for 70 households.

Nah, saat ini, air minum dan sanitasi telah ditetapkan sebagai urusan wajib pelayanan dasar bidang pekerjaan umum. Lantaran itu, diharapkan pemda mengalokasikan DAK untuk ikut mendanai pembangunan sanitasi.

Now, drinking water and sanitation has become basic service matter on public work field. Moreover, hopefully, the regional government will allocate DAK to improve the sanitation.

“Oleh karena itu, tahun 2018 terlaksana 8 paket yang mencakup 533 KK. Sebanyak 5 paket memakai DAK dan 3 paket dari DAU. Masing-masing paket senilai Rp 400 juta,” jelas Amin lagi.

“Thus, on 2018, there are 8 communal WWTP for 533 households, which is 5 WWTP are funded by DAK and the rest are from DAU with 400 millions budget for each WWTP,” said Amin.

Ada dana swadaya yang diberikan oleh masyarakat, bantuan tersebut untuk ongkos tukang, makanan, pepohonan hingga tanah (belum termasuk lahan masyarakat yang dimanfaatkan untuk IPAL Komunal).

Also, there are fund come from the society used for the fare and the food of the workers, trees and land (the fare of the land used for the WWTP do not included)

Untuk DAU dana swadaya Kelurahan Kedungasem 72 KK nilai swadaya Rp 16 juta; Kedunggaleng 89 KK Rp 21.688.000; Kareng Lor sebanyak 51 KK Rp 12.096.000; Triwung Lor 52 KK Rp 5,8 juta; Triwung Kidul 70 KK Rp 6,9 juta; Jrebeng Lor 71 KK Rp 15.300.000; Jrebeng Kulon 73 KK Rp 10.100.000; Sumberwetan 53 KK Rp 5.750.000. Jadi, hingga saat ini IPAL Komunal yang terbangun di Kota Probolinggo telah melayani 2.223 KK atau sekitar 8.892 jiwa.

 

“Upaya peningkatan akses sanitasi layak yang telah dan akan terus dilakukan Dinas PUPR, mengingat sanitasi yang baik dapat mengurani biaya kesehatan, meningkatkan produktifitas dan kualitas hidup masyarakat. Kami juga mengharapkan peranan masyarakat untuk turut serta menjaga dan memelihara serta merawat IPAL Komunal yang sudah terbangun,” ungkapnya.

“PUPR agency will always try to improve the sanitation, since it will reduce healthy fund, and improve the productivity and the quality of society’s life. We hope that the society will take a apart to keep the communal WWTP,” he said.

Wali Kota Probolinggo Rukmini yang meresmikan IPAL Komunal waktu itu pun menegaskan, dari data yang ada sebagian besar rumah masyarakat sudah memiliki septictank. Tetapi tidak dapat dipastikan berapa persen septictank benar-benar kedap, tidak bocor.

Probolinggo mayor Rukmini who launched communal WWTP said most households has had septictank already, but it can’t be sure whether it is in a good condition.

Disamping itu masih sedikit masyarakat yang sadar bahwa septictank harus dilakukan sedot lumpur tinja secara berkala. Setidaknya, tiga tahun sekali.

More, less people know that they have to clean the septictank routinely, at least one per three years.

Karena jika lumpur di septictank penuh, maka airnya akan mencemari air tanah. “Padahal bakteri yang menyebar melalui tinja itu beberapa cukup berbahaya. Seperti TBC dan ada juga bakteri yang bisa menggerogoti gizi anak-anak kita sehingga menimbulkan stunting,” tutur Rukmini.

When the septictank is full, its water will contamine the ground water. “and it contains many dangerous bacteria, such as TBC and kind of bacteria which makes our children get malnutrition, and it will cause stunting,” said Rukmini.

Pemerintah Kota Probolinggo sendiri sangat serius untuk meningkatkan kualitas sanitasi. Ada Pokja Sanitasi yang terdiri dari beberapa OPD yang bekerja sama untuk melakukan penanganan sanitasi di Kota Probolinggo.

Probolinggo city government seriously has an effort to improve the quality of sanitation. There are working group of sanitation consisting of some working unit which collaborate to handle sanitation problems in Probolinggo city.

Salah satu kegiatan yang dilakukan untuk menangani permasalahan sanitasi dengan membangun IPAL Komunal. “Dengan IPAL Komunal maka seluruh air limbah dari rumah yang tersambung akan diolah di IPAL, baik itu air limbah WC, dapur maupun kamar mandi. Dengan demikian diharapkan lingkungan akan bersih dan sehat, got menjadi bersih karena hanya dialiri air hujan,” imbuh Wali Kota Rukmini.

One of activity of this working group in handling sanitation problem is to build communal WWTP. “by communal WWTP, all the waste water of households, whether is from water closet, cooking process, and bathing, will be processed in one place. So we will have a healthier and cleaner environment, and the irrigation is also cleaner since it is only for rain,” said mayor Rukmini.

Dalam jangka panjang, kata Rukmini, air tanah diharapkan akan membaik karena tidak ada lagi air limbah yang diresapkan ke tanah. “Masyarakat sekitar menjadi lebih sehat. Kalau sehat akan mengurangi biaya berobat dan mengurangi antrean di puskesmas dan rumah sakit,” sambungnya.

For long term, there will have a better ground water, because there are no waste water in soil. “People will have a healthier condition, and it helps them to save their health fund and hospital and Puskesmas will also have less patients,” said her.

Rukmini mengapresiasi masyarakat yang telah berpartisipasi dalam melakukan swadaya baik itu berupa tenaga, pikiran maupun material. Ia berharap semakin banyak masyarakat Probolinggo yang sadar akan pentingnya sanitasi.

Rukmini appreciate all the people who participate in this communal WWTP making. She hoped there will be more people who have awareness on the importance of sanitation.

“Berpartisipasi bersama-sama Pemerintah Kota Probolinggo untuk memperbaiki sanitasi demi kualitas hidup yang lebih baik,” harap wali kota yang akan mengakhiri jabatannya pada akhir Januari ini.

“Together we improve our sanitation for better quality of our lives,” said the mayor who ends her reign in this January.

Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kota Probolinggo, Sidiq mengungkapkan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah setempat. Ia pun rela lahan milik keluarga dimanfaatkan untuk IPAL Komunal yang diresmikan sore itu.

The head of Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM/SocietyGroup) of Probolinggo city, Sidiq thanked to local government for their attention in this problems. He is one of the people who gift his land to use as communal WWTP.

“Kami tidak masalah karena ini untuk kepentingan masyarakat banyak,” ucapnya. Selain itu, banyak manfaatkan dari sisi kesehatan yang punya dampak langsung kepada masyarakat. (famydecta/humas)

“We are really thankful since it is for our needs,” he said. Besides, there are many benefits which directly impact to the society.

Leave a Reply

Your email address will not be published.