image_pdfimage_print

KANIGARAN– “Terimakasih kepada Ibu saya, suami, anak, menantu dan seluruh keluarga…,” begitu tutur Wali Kota Rukmini dengan suara bergetar. Isak tangis pun pecah. Dengan terbata-bata ia membacakan sambutan saat upacara bendera, Senin (21/1) pagi, di halaman Kantor Wali Kota Probolinggo.

“Thank you for my mother, my husband, my sons and daughters, in-laws, and all of my family,” that wahat mayor Rukmini said in shivered voice. She is crying while giving some speech in flag-ceremony at the yard of mayoral office of Probolinggo city, Monday (21/1) morning.

“Karena berkat doa, dukungan dan kasih sayang mereka telah menghantarkan saya menjadi seperti saat ini. Walaupun perjalanan tidak semulus rencana, tetapi berkat bimbingan keluarga, semua pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo dan para tokoh masyarakat serta alim ulama semua tantangan berhasil dilewati,” lanjutnya.

“since their prayer, support, and their love made me in this position. Even there are many obstacles, but I can get through it, due to the guidance of family, all officers of Probolinggo city government, community and religious leaders,” she continued.

Ya, upacara itu menjadi upacara terakhir yang dipimpin Rukmini sebagai wali kota. “Lima tahun telah berlalu, tidak terasa hari-hari berharga yang saya rasakan menjadi Wali Kota Probolinggo akan segera berakhir. Banyak kenangan dan pengalaman yang telah kita lalu bersama. Banyak pula pencapaian luar biasa yang diupayakan untuk memajukan Kota Probolinggo yang sangat kita cintai,” katanya.

Yes, it is the last ceremony led by Rukmini as the mayor. “It’s been five years, there are valuable things that I feel as a mayor and it will be ended soon. Many memories and experiences that we passed, many achievement that we get to develop Probolinggo city that we love,” she said.

Rukmini mengemban amanah sebagai Wali Kota Probolinggo pada 28 Januari 2014 silam. Ia menggantikan suaminya, HM Buchori yang telah memimpin kota selama dua periode.

Rukmini become Probolinggo mayor since 28 January 2014, replacing her husband HM. Buchori who was two periods mayor in this city.

“Alhamdulillah, program kerja bersama membangun Kota Probolinggo menjadi lebih baik telah terlaksana. Sekitar seminggu lagi, saya akan meletakkan jabatan sebagai wali kota perempuan pertama di Kota Probolinggo,” ucapnya sambil mengelap air mata.

“Alhamdulillah (Thanks God), our collaboration in making Probolinggo city better has done. A week more, I will ended my duty as an first female mayor of Probolinggo city,” she said while shed tears.

Pada kesempatan itu, Rukmini juga berharap kepada kepemimpinan selanjutnya dapat mempertahankan prestasi dan penghargaan yang pernah diraih Kota Probolinggo.

In this occasion, Rukmini hoped that next leader will maintain all the achievement of Probolinggo city.

“Jaga terus Kota Probolinggo. Lanjutkan program yang sudah baik dan dilaksanakan selama periode kepemimpinan sebelumnya,” harap Ibu empat anak itu.

“Still keep Probolinggo city, Please continue all good programs in previous period,” hoped that mother of four.

Menurut Wali Kota Rukmini, bukan hal yang mudah untuk memimpin sebuah daerah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan adanya dukungan dan kekompakan dari berbagai komponen masyarakat.

According mayor Rukmini, it is not easy to lead a region. It needs support and unity from all community component.

“Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada seluruh masyarakat Kota Probolinggo yang telah ikut serta dalam mewujudkan Kota Probolinggo yang lebih baik di segala bidang. Dengan harapan, peran dan kontribusi kita semua tetap terus terjaga guna mendukung program pembangunan pada periode kepemimpinan Wali Kota Hadi Zainal Abidin Dan Wakil Wali Kota HM Soufis Subri,” ungkap Rukmini.

“So, I’d like to say thank you from the bottom of my heart to all people of Probolinggo city who involve in making Probolinggo city better in every way. Hopefully, we still have our roles and contribution in next period with Hadi Zainal Abidin as a mayor and HM Soufis Subri as vice mayor,” said Rukmini.

Wali kota juga menyampaikan permohonan maaf dan rasa terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat. Ia percaya pemimpin yang telah terpilih merupakan pemimpin terbaik pilihan masyarakat.

Mayor also say an apology and thankfulness to all element of community. She believed that the chosen leader is the best leader of people’s choice.

Banyak program tahun 2019 yang sudah kami rencanakan pada 2018. Semoga, tahun ini semua bisa terealisasi, karena dasar program kegiatan tersebut atas dasar kebutuhan dari masyarakat Kota Probolinggo.

Many Program of 2019 has been planned on 2018. Hopefully those will be realized in this year, since those programs are based on people’s need.

“Akhirnya, perkenankan saya dengan penuh ketulusan kembali mengucapkan terimakasih kepada seluruh masyarakat Kota Probolinggo dan seluruh karyawan karyawati di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo. Atas dukungan dan kerjasama yang telah terjalin selama periode kepemimpinan saya sebagai Wali Kota Probolinggo periode 2014-2019,” kata wali kota yang akan mengakhiri jabatan pada 28 Januari 2019 mendatang.

“Finally, let me say thank you to all people of Probolinggo city, to all employees of Probolinggo city government, for all support and collaboration during my reign as Probolinggo mayor for 2014-2019 period,” said the mayor who will ended at 28 January 2019.

Pagi itu, Rukmini pun berpesan kepada seluruh pegawai untuk bijak bermedia sosial. Mengajak memerangi virus ujaran kebencian, hoax dan prasangka negatif. Sekaligus meningkatkan kedisiplinan sebagai contoh tauladan bagi masyarakat. Menurutnya, kunci sukses sebuah pekerjaan harus diawali dari kedisiplinan.

That morning, Rukmini say to all employees to be wise in using social media, asking them to fight hate speech, hoax and negative prejudice, and also improving their discipline as an example for the people. She said, the key of success start at discipline matter.

Usai upacara, saat ditanya kenapa ia menangis saat menyampaikan sambutan, perempuan pekerja keras ini mengaku, ada hal yang tak dapat terungkap tapi akhirnya ia bisa sampaikan saat upacara. “Seperti ada yang tidak bisa saya ucapkan, tapi harus saya sampaikan saat sambutan,” tuturnya lirih.

After ceremony, when she is asked why she cried , this hard-working woman confess that there are things unrevealed but she has to say it. “Just like there are something unspoken but I have to say it,” she said softly.

Suasana haru saat itu juga dirasakan sejumlah peserta upacara. Bahkan ada dari mereka yang membasuh air mata dengan jilbab yang dipakainya. “Sambutannya membuat terharu. Jadi ingat bagaimana beliau memimpin kota ini,” imbuh Malinda Bulgis, salah satu peserta upacara.(famydecta/humas)

The touched situation is also felt by some audience of ceremony, even some of them are crying too. “Her speech is so touched, it reminds me on how she lead this city, said Malinda, one of the ceremony participants.

Leave a Reply

Your email address will not be published.