Habib Hadi: Pers Harus Mengedukasi

image_pdfimage_print

SURABAYA – Tepat dalam peringatan Hari Pers Nasional 2019, Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin berharap semua pers bisa membangun dan memberikan edukasi kepada masyakat, dengan menyajikan pemberitaan positif dan membangun. Berita positif bisa mengajak masyarakat lebih pro aktif melihat fakta yang ada.

Pernyataan itu, disampaikan Habib Hadi usai menghadiri Puncak Hari Pers Nasional 2019 bersama Presiden RI Joko Widodo, di Convention Hall Grand City Surabaya, Sabtu (9/2) pagi. “Memang benar, selama ini masyarakat disajikan berita hoax sehingga mudah terpancing, terpengaruh dengan hoax,” ujarnya.

Namun, lanjut Habib Hadi, setelah melihat data yang disampaikan Presiden Joko Widodo, media mainstream masih tinggi presentasenya dibanding media sosial (medsos) dalam menyajikan berita positif kepada masyarakat. Karena masyarakat butuh media yang dipercaya dan beritanya terklarifikasi.

“Jika ada berita hoax, pers harus bisa menjadi pembanding sehingga masyarakat bisa mendapatkan edukasi yang bagus. Selamat Hari Pers Nasional untuk semua elemen pers di Indonesia, khususnya di Probolinggo. Anda (pers) merupakan salah satu mitra pemerintah,” kata wali kota yang dilantik pada 30 Januari lalu itu.

Puncak HPN bertemakan “Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital” yang digelar begitu mewah dan luar biasa itu dihadiri pejabat negara dan insan pers di Indonesia. Penanggung jawab HPN 2019 Margiono pun menyampaikan, bahwa dalam HPN juga memberikan penghargaan kepada kalangan yang ikut berperan dalam pers di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo mengajak wartawan Indonesia kembali pada ketaatan jurnalisme dan profesional dalam menjalankan profesi. Pers wajib bersifat independen dan sajikan berita akurat.

Beberapa penekanan disampaikan oleh Yosep terkait kesejahteraan wartawan yang harus menjadi perhatian banyak pihak. “Serta semakin mahalnya bahan baku kertas yang menjadi poin penting bagi media cetak, mungkin pemerinth bisa memikirkannya,” tutur Yosep.

Pada kesempatan itu, Presiden Joko Widodo menegaskan tak ingin dianggap pencitraan dalam memaparkan capaian pemerintah dalam pembangunan. Apa yang dilakukan adalah untuk membentuk masyarakat yang sadar informasi. Diakui oleh presiden, masyarakat banyak mengakses media sosial dan apa yang viral di media sosial menjadi rujukan berbagai media massa.

Namun, 63 persen masyarakat lebih memercayai informasi dari media arus utama atau media konvensional ketimbang media sosial (40 persen). Derasnya arus informasi dan akses internet membuat siapapun dapat bekerja sebagai jurnalis. Kondisi ini banyak dimanfaatkan untuk menebar kegaduhan. Presiden pun mengharap media bisa meningkatkan perannya, termasuk menyajikan informasi yang terverifikasi dan terpercaya pada publik. (famydecta/humas)

Leave a Reply

Your email address will not be published.