Wali Kota Khawatirkan Tingginya Angka Pernikahan Dini 

image_pdfimage_print

KANIGARAN – Tingginya angka pernikahan dini (di bawah usia 18 tahun) di Kota Probolinggo menjadi kekhawatiran Wali Kota Hadi Zainal Abidin. Pasalnya, penikahan dini itu terjadi lantaran akibat dari pergaulan bebas hingga hamil kemudian mengajukan pernikahan ke Pengadilan Agama (PA).

Informasi tentang tingginya angka pernikahan dini tersebut diterima Wali Kota Hadi saat bertemu dengan forum anak, dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Alun-alun, Selasa (12/2) kemarin. Segera, Rabu (13/2) Habib Hadi pun mengundang perwakilan pengurus forum anak bertemu dengannya di Ruang Transit Wali Kota.

Berdasarkan data forum anak yang diperoleh dari Pengadilan Agama, tahun 2017 terjadi 361 pernikahan dini, sedangkan tahun 2018 menurun ke angka 225. Rinciannya, di Kecamatan Mayangan 52 kasus; Kademangan 40 kasus; Wonoasih 37 kasus; Kanigaran 50 kasus; Kedopok 46 kasus. Peringkat tertinggi ada di wilayah Mayangan.

“Penyebab pernikahan dini itu ternyata karena sudah terjadi (kehamilan). Jadi, pengadilan harus menyetujui dan mengesahkan agar anaknya diakui secara negara. Kalau sudah begini kan, ada yang harus ditanggulangi, apa yang harus dilakukan?,” kata Habib Hadi.

Melalui forum anak tersebut, wali kota berharap bisa mendapat informasi lebih mendalam dan mengena, karena anak-anak pasti mengetahui akar permasalahan yang ada. Habib Hadi yakin cara yang dilakukan memang tidak akan 100 persen menuntas problem yang terjadi, namun setidaknya ada upaya untuk mencegah sebelum semakin tidak terkontrol.

Forum anak menyampaikan, pernikahan dini terjadi karena faktor lingkungan yang mendominasi. Pengaruh dari teman sangat besar sehingga memunculkan rasa ingin tahu. Disamping semakin derasnya arus informasi yang secara mudah dapat diterima melalui gadget.

“Biasanya mereka akan bercerita dengan temannya, dan tidak malu menceritakan hal yang buruk yang telah dilakukan,” terang Arimbi Wilujeng, Ketua Forum Anak Kota Probolinggo.

Untuk itu, kata Habib Hadi, tingginya problem pergaulan bebas harus ada solusinya. Begitu banyak informasi yang diterima wali kota dari forum anak menjadi bekal Habib Hadi dalam menyusun kebijakan yang solutif. Tidak hanya soal pergaulan bebas saja, ada permasalahan kenyamanan belajar mengajar bagi anak sekolah hingga memfasilitasi anak-anak dalam berkegiatan.

“Pendidikan agama, pendidikan akhlaq harus dipertebal di kalangan anak-anak muda ini. Karena dengan begitu, mereka bisa lebih membatasi diri dan sadar mana hal yang berdampak buruk bagi mereka. Saya berharap angka pernikahan dini bisa tertanggulangi,” kata Habib Hadi.

 

Beberapa usulan yang disampaikan forum anak antara lain permintaan gedung sekretariat forum anak yang akan digabung dengan ruang pusat pembelajaran keluarga (edukasi permasalahan anak) dan pusat kreatifitas anak; ruang bermain anak di setiap kelurahan dan kecamatan yang dibagi dalam berbagai usia; fasilitas kegiatan anak seperti jambore anak, penyusunan suara anak kota, temu bocah, pengiriman perwakilan ke forum anak nasional setiap tahunnya.

Sedangkan kegiatan yang belum terlaksana antara lain kampanye helm anak, kampanye pernikahan usia anak dan pemberian fasilitas gizi pada ibu hamil dan anak balita.

“Soal ruang bermain anak insyaallah ada. Yang lain, kalau bisa saat Perubahan APBD sesuai OPD terkait. Yang berkaitan dengan kesehatan, Dinas Kesehatan supaya bisa melibatkan forum anak,” tegas Habib Hadi.

Arimbi Wilujeng, mengaku senang mendapat kesempatan bisa bertatap muka dengan wali kota. “Seneng. Wali kota-nya responsif banget sama forum anak. Dulu kegiatan forum anak belum di-push. Sekarang beliaunya mengundang kami dan menyampaikan apa-apa saja yang dikeluhkan,” terangnya.

Forum anak berharap, wali kota selalu jaya dan terus berkarya untuk Kota Probolinggo. “Selalu mendukung kegiatan kami dan mendapingi kami sampai meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA) tingkat utama,” harap Arimbi mewakili teman-temannya. (famydecta/humas)

Leave a Reply

Your email address will not be published.