Sidak RSUD dr Moh Saleh, Wali Kota Semangati Pasien 

image_pdfimage_print

MAYANGAN – Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin meninjau RSUD dr Muhamad Saleh, Selasa (19/2) pagi. Tanpa ditemani kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Habib Hadi –sapaannya- menemui Plt Direktur RSUD, drg Rubiyati. Ia ingin melihat langsung kondisi pasien di rumah sakit berplat merah itu.

Didampingi drg Rubiyati dan Wadir Yanmed dr Taufiqurahman, Habib Hadi berkeliling ruangan di RSUD. Awalnya, ia ingin melihat pasien penderita demam berdarah yang masih dirawat inap.

Di RSUD, ada tiga pasien yang masih dirawat. Dua pasien masih SD. Setelah dari ruang Mawar, ia bergeser ke ruang Bougenvil, ruang Kemuning dan ruang Hemodialisa (cuci darah). Tak berapa lama, Kepala Dinas Kesehatan drg Ninik Ira Wibawati tiba di RSUD.

Ruang hemodialisa pagi itu dipenuhi pasien. Dalam sehari, ada 33 orang penderita gagal ginjal yang dirawat. Mesin hemodialisa yang dimiliki RSUD ada 12 unit. Setiap pasien harus cuci darah selama 4-5 jam. Bahkan ada yang 10 tahun sudah menjalani cuci darah.

Saat bertemu dengan pasien, Habib Hadi memberikan semangat agar mereka lebih tabah dan punya keyakinan sembuh. Bahkan, banyak dari pasien dan keluarga pasien yang meminta doa kepada wali kota agar diberi kesembuhan. “Semangat ya, biar tambah sehat,” ujar Habib Hadi.

Rencana Relokasi

Selain memantau pasien, pelayanan kesehatan di RSUD Dr Mohamad Saleh jadi perhatian wali kota. Menurutnya, setelah melihat-lihat kondisi RSUD, ada hal-hal yang harus dilakukan untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan di Kota Probolinggo.

Relokasi pembangunan rumah sakit baru di wilayah selatan sudah menjadi program yang tertuang dalam visi misi Wali Kota Habib Hadi dan Wawali HMS Subri. Dengan adanya rumah sakit baru, kata Habib Hadi, pelayanan kesehatan dipastikan akan lebih maksimal.

“Tidak hanya bermanfaat untuk warga Kota Probolinggo, tetangga sebelah juga. Yang mana menjadi harapan bisa lebih dekat dari pada harus ke Surabaya dan Malang,” katanya.

Masalah pendidikan dan kesehatan, lanjut wali kota, menjadi urusan wajib negara sesuai amanah dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang baru sertijab kemarin (18/2), mempunyai komitmen di bidang kesehatan.

“Menurut saya, tempatnya (RSUD) sudah tidak memadai. Dengan fasilitas yang ada dan begitu banyak pasien maka kami harus bisa berbenah untuk lakukan terobosan, langkah penanganan pelayanan kesehatan,” tegas Habib Hadi.

Untuk masalah kesehatan ini, Habib Hadi tidak mau terlalu gegabah. Ia akan merumuskan secara detail khususnya masalah pelayanan. “Supaya betul-betul sesuai harapan dengan situasi dan kondisi pelayanan kesehatan di Kota Probolinggo,” imbuhnya.

Sementara itu, drg Rubiyati menyadari jika akhir-akhir ini pasien RSUD membeludak. Khususnya di kelas 3. Sehingga, tidak semua pasien bisa langsung masuk ke ruang rawat inap dan harus menunggu di IGD. Ia berkilah semua pasien RSUD tidak ditangani atau ditolak oleh petugas.

“Tidak ada yang dibiarkan dan tidak ditangani. Memang pasien banyak karena kami juga melayani rujukan dari luar daerah. Kebanyakan pasien kelas 3 sedangkan kelas 3 sering full. Tapi tidak sampai ditolak, tetap kami rawat,” ujar Plt RSUD tersebut.

Terkait rencana relokasi, Rubiyati mendukung keputusan wali kota. “Memang wajar biar rumah sakit luas dan bisa menampung semua pasien,” imbuhnya. (famydecta/humas) 

Leave a Reply

Your email address will not be published.