TWSL AKAN GANDENG BALI ZOO (TWSL To Cooperate With Bali Zoo)

image_pdfimage_print

TWSL AKAN GANDENG BALI ZOO

TWSL To Cooperate With Bali Zoo


Warga Kota Probolinggo dan sekitarnya tentu tidak asing dengan salah satu destinasi wisata buatan bersifat edukasi yang dikenal dengan Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL). Terletak disudut kota, pada awalnya merupakan hutan kota atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang didirikan oleh Pemerintah Kota Probolinggo bersama stake holder terkait untuk kepentingan ekologis, edukatif dan sosial kemasyarakatan. Dalam perkembangannya hutan kota disulap menjadi taman wisata bersifat edukasi dibidang lingkungan, dimana didalamnya tidak hanya terdapat jenis-jenis pohon dan tanaman tetapi juga berbagai jenis satwa.

Sebagai Unit Pelaksana Teknis Informasi dan Pendidikan Lingkungan Hidup (UPT.IPLH) dibawah pengawasan Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo, TWSL terus melakukan terobosan dan inovasi. Salah satunya dengan melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga konservasi dalam rangka pengembangan kapasitas sumber daya yang ada. Dan dalam waktu yang tidak lama lagi TWSL akan menjajaki kerjasama dengan Bali Zoo yang ada di Kabupaten Gianyar, Bali. “Kita sudah melakukan studi banding ke Bali Zoo, sebagai tindak lanjutnya pihak Bali Zoo dan kita membuat kesepakatan rencana kerjasama dalam hal pengembangan capacity building keeper satwa, ujar Suharyono, Kepala UPT.IPLH pada BLH Kota Probolinggo.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Suha, demikian pria yang menduduki jabatannya sejak maret 2015 ini biasa dipanggil, bentuk kerjasama yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu penyediaan jasa untuk kegiatan pelatihan, pertukaran satwa dan pelatihan pengelolaan sampah dan limbah. “Jadi ada tiga poin nantinya dalam draft MoU yang kami sodorkan. Yang pertama pertukaran satwa, kemudian yang kedua capacity building keeper satwa untuk peningkatan kemampuan keeper satwa. Karena mereka itu lembaga konservasi swasta yang lebih expert dan profesional dibanding dengan kita lembaga konservasi pemerintah. Dan yang ketiga, mereka mau belajar pengolahan sampah ke kita. TPA kita kan terbaik, jadi mereka mau belajar pengolahan sampah ke Kota Probolinggo,” lanjutnya.

Untuk pertukaran satwa ini nantinya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kedua belah pihak. Dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya manusia dan kandang, sebagai langkah awal TWSL mengajukan permintaan satwa jenis Walaby (sejenis kangguru dengan ukuran tubuh lebih kecil yang berasal dari Irian Jaya) sebanyak enam hingga sembilan ekor ke pihak Bali Zoo. Sebaliknya, TWSL akan mengirim dua ekor Kasuari sebagai gantinya. “Sasaran kami adalah pertukaran satwa jenis walaby sebagai awal. Selain disini kita tidak punya, di Bali Zoo sendiri jumlahnya sudah over load. Selain itu nantinya jika kerjasama kami ini benar-benar sudah terlaksana, kami akan mengirim beberapa tenaga untuk belajar dan berlatih disana. Jadi nantinya mereka tidak hanya bekerja sekedar menggugurkan tugas, tetapi juga ada interaksi dan chamistry antara keeper dengan satwa itu sendiri,” terang Suha.

Tujuan dari sebuah kerjasama tentunya saling menguntungkan kedua belah pihak. Selain bertujuan pengembangan manajemen pengelolaan lembaga konservasi sejenis, juga diharapkan menjadi media promosi dan media informasi bagi kedua belah pihak agar tercapai peningkatan jumlah pengunjung. Untuk itu diharapkan rencana kerjasama ini benar-benar terwujud dalam waktu dekat. Abdjamal

Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL), an artificial tourist attraction with a concept of educative mini zoo, is quite familiar to the citizens of Probolinggo City. Located at the corner of the city, it was an Open Green Space (RTH) founded by the city administration along with related stakeholders for the sake of ecology, education, and social interest. As it develops, it was turned to be an educative tourism park based on environment, where people not only find any kinds of tree and plant, but also animals.

As the technical unit of information and environmental education (UPT. IPLH) of local Environment Agency (BLH), TWSL has made various breakthroughs and innovations. Cooperation with conservation institutions in developing the existing resource has been one way to achieve it. Soon, TWSL is going to make deal with Bali Zoo to have cooperation with. “We went there to have an official visit, to learn more. And, we have agreed to have cooperation in developing the capacity building keeper of animals,” said Suharyono, the head of UPT. IPLH of local Ebvironment Agency.

He continued, both have agreed to hold a training activity, animals exchange, and training on waste management. “Three points will be mentioned on the MoU draft. The first one is animals exchange, increasing the capacity building keeper of animals. And, the last one is they’d like to learn more about our waste management since we have the best landfill at national level,” he said.

Animals exchange will be an interesting point for both sides. Considering to the availability of human resources and the cages, as an early step, TWSL will ask Bali Zoo to give them six or nine Walaby (a small kangaroo from Irian Jaya). Then, TWSL will give Bali Zoo two Cassowary in turn. “Our target is to get Walaby as an early step since Bali Zoo has many of them while we don’t. Besides, when the cooperation is realized, we will send our keeper to learn and have a training there. So, we hope that later they will have a better interaction and have chemistry with the animals,” said Suha.

The purpose of the cooperation is beneficial for both sides. Besides developing the management of conservation institution, it is expected that this will be a promotional media and information for both sides to increase the number of the visitors. Therefore, hopefully the cooperation will be realized in no time.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.