RTH Kota Probolinggo Capai 12% (Of Total Area, Probolinggo City Has 12% RTH)

image_pdfimage_print

RTH Kota Probolinggo Capai 12%

Of Total Area, Probolinggo City Has 12% RTH

 

Sektor lingkungan menjadi salah satu sektor penting yang menjadi perhatian Pemerintah Kota Probolinggo. Untuk memperbaiki sektor ini pemkot setempat melaksanakan berbagai kegiatan dan membuahkan hasil. Beragam penghargaan diraih seperti Adipura hingga TPA terbaik tingkat nasional.

Dalam membangun kota yang berwawasan lingkungan, sesuai dengan visinya, Kota Probolinggo terus berupaya untuk mengembangkan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Dalam hal ini, Ruang Terbuka Hijau memiliki fungsi yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan sekitar.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 12/PRT/M/2009 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Kota/Kawasan Perkotaan, Ruang Terbuka Hijau memiliki dua fungsi utama, yakni fungsi intrinsik dan fungsi ekstrinsik.

Dalam pedoman ini, dijelaskan fungsi RTH dibagi menjadi dua, yakni fungsi utama (intrinsik) dan fungsi pelengkap (ekstrinsik). Fungsi intrinsik, RTH berperan sebagai wadah aktivitas sosial budaya masyarakat, tempat olahraga dan rekreasi hingga sebagai wadah dan objek pendidikan, penelitian, dan pelatihan dalam mempelajari alam. Sedangkan fungsi ekstrinsik RTH diklasifikasikan menjadi empat fungsi, yakni fungsi ekologis, ekonomis, arsitektural, dan fungsi darurat.

Sementara itu, dalam UU No. 26 Tahun 2007 telah ditetapkan bahwa jumlah prosentase minimal RTH dalam kawasan perkotaan adalah sebesar 30%, terdiri dari 20% RTH publik dan 10% RTH privat.

 “Hingga saat ini, luas RTH di Kota Probolinggo hanya 12% dari seluruh wilayah kota,” ujar Kabid Konservasi Sumber Daya Alam dan Kelistrikan, Badan Lingkungan Hidup, Sumarno. Jumlah tersebut merupakan gabungan dari luas wilayah beberapa RTH di Kota Probolinggo, yakni RTHKP Kedopok, RTH Maramis, RTH Semeru, Taman Manula, dan RTH Sumber Taman.

Saat ini pemkot setempat berencana untuk membangun RTH di masing-masing kelurahan. “Masih dalam tahap kajian. Ini programnya Bappeda. Yang sudah jadi itu RTH Sumber Taman,” jelas Sumarno. Untuk pembangunan di tiap kelurahan, Sumarno mengaku pengkajian terhadap rencana ini meliputi berbagai aspek.

“Kita kaji dulu di tiap kelurahan, apakah warga sekitar antusias atau tidak karena pengelolaannya nanti diserahkan ke kelurahan juga,” beber Sumarno.

Dalam hal ini, pemkot setempat juga akan mengobservasi aset pemerintah yang siap untuk dibangun RTH. Dan yang tak kalah penting, lokasi pembangunan nantinya tidak jauh dari pemukiman. “Jika dekat pemukiman, akses untuk kesana bisa lebih mudah dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat banyak,” tutur Sumarno.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Budi Krisyanto menyatakan tahun ini, Pemerintah Kota Probolinggo memperoleh Dana Alokasi Umum (DAU) dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia untuk pembangunan hutan kota. Kementerian Lingkungan Hidup RI memberikan dana sebesar Rp 1,9 M untuk pembangunan 3 hektar hutan kota. Artinya, untuk tiap hektarnya, Kementerian Lingkungan Hidup memberikan dana sebesar Rp 650 juta. “Dari alokasi 3 hektar yang ditentukan kementerian, kita (pemkot setempat) hanya mampu menyediakan 2,1 hektar saja. Lokasinya nanti di Kelurahan Sumber Taman, Curah Grinting, dan Kelurahan Kademangan,” tutur Budi saat ditemui di ruang kerjanya._alfienhandiansyah

 

 

 

Environment sector is one of the most important being the attention of Probolinggo city administration. To keep improving the sector, the city administration has implemented any events and earned great result. Various awards such as Adipura and the best landfill award have been achieved.

To develop an environmentally-sound city, as stated in the vision, the city keeps doing efforts to develop Open Green Space (RTH). In this case, RTH has a function which is able to improve the quality of surrounding environment.

Based on the Regulation of Minister of Public Works of The Republic of Indonesia No: 12/PRT/M/2009 on Guidelines of Provision and Utilization of Open Green Space in Urban Areas, RTH has two main functions which are intrinsic (main) and extrinsic (complementary) function.

The main (intrinsic) function of RTH is to be a space of socio-culture activity for the citizens, sport and recreation spot and to be a space and object of education, research, and training to learn about nature. Meanwhile the complementary (extrinsic) function of RTH is classified into 4 functions which are ecological, economic, architectural, and emergency functions.

In the Law No. 26 of 2007, it was stated that the minimum percentage of RTH area in a city is 30%, consisting of public RTH and private RTH.

“As we speak, the total area of RTH in the city is 12% of total area of the city,” said the head of natural resources conservation and electricity division of Environment Agency, Sumarno. The percentage is the total percentage of all RTH areas in the city, consisting of RTHKP Kedopok, RTH Maramis, RTH Semeru, Taman Manula, dan RTH Sumber Taman.

The local government is now planning to develop RTH in each village. “It’s still under examination. It is the program of Bappeda (regional development planning agency). We have one RTH in Sumbertaman village called RTH Sumbertaman,” Sumarno explained. To develop an RTH in each village, Sumarno said that it needs to consider various aspects. “We will do an examination in each village to observe the enthusiasm of the residents because the management of the RTH would be the villages’ responsibility,” he said.

In this case, the city administration will also observe its assets to be built an RTH. The most important is the location of RTH would be close to residence area. “If the location is close to the residence area, the citizens will have an easy access to it and they can utilize the RTH,” said Sumarno.

 

Meanwhile, the Asisstant of Economy and Development, Budi Krisyanto said that this year, the local government got General Purpose Grants (DAU) from Environment Ministry of the Republic of Indonesia to develop a city forest. The ministry gave IDR 1.9 billion to the city to develop 3 ha city forest. It means that the city got IDR 650 million for each hectare. “Of 3 hectares of land determined by the ministry, we can only provide 2.1 hectares. The location would be in Sumbertaman, Curah Grinting, and Kademangan village” said Budi interviewed by Link Go at his working room. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.