BELUM TERAPKAN KANTONG PLASTIK BERBAYAR

image_pdfimage_print

BELUM TERAPKAN KANTONG PLASTIK BERBAYAR

 

                Sudahkah Anda tahu tentang kebijakan kantong plastik berbayar? Bertepatan pada Hari Peduli Sampah yang jatuh pada tanggal 21 Februari, pemerintah melakukan uji coba menerapkan kantong plastik berbayar pada usaha ritel modern. Kantong plastik belanja dibebankan kepada konsumen ritel modern sebesar Rp. 200,-.  Kebijakan tersebut merupakan salah satu usaha pemerintah dalam rangka pengurangan sampah, khususnya sampah kantong plastik yang selama ini menjadi beban pencemaran bagi lingkungan hidup. Kebijakan tersebut juga merupakan salah satu strategi komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kesadaran publik bahwa sudah saatnya bagi kita semua untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Untuk kali ini, kebijakan diuji coba selama enam bulan (Februari-Agustus) dan diterapkan di 23 kota besar di Indonesia diantaranya Jakarta, Bandung, Surabaya, Bogor, Palembang, Balikpapan, Makasar, Denpasar, dan kota-kota lainnya.

                 Di provinsi Jawa Timur, hanya dua kota yang menjadi tempat uji coba kebijakan kantong plastik berbayar yakni Kota Surabaya dan Malang. Kota Probolinggo secara resmi belum menerapkan kebijakan tersebut, tetapi ada beberapa gerai ritel yang telah memberlakukan kebijakan tersebut seperti Alfamart dan Indomaret. Mereka menerapkan kebijakan tersebut sesuai dengan aturan yang mereka terima dari manajemen kantor pusat. “Kita mengikuti instruksi dari pusat mbak,” ujar salah satu kasir di Alfamart. Saat ditanya tentang respon pembeli, kebanyakan pembeli tidak merasa keberatan dengan kebijakan tersebut. “Kami jelaskan dulu bahwa plastiknya berbayar, biasanya mereka mau,  tapi kalo barangnya cuma satu atau dua, mereka milih langsung dimasukin tas aja,” katanya.

                Berbeda dengan di Giant, salah satu ritel terbesar yang ada di Kota Probolinggo. Toko ini belum menerapkan kebijakan kantong berbayar, walaupun didepan toko telah memasang spanduk yang menginformasikan kantong berbayar dan kardus gratis sebagai ganti kantong plastik. “Disini (Kota Probolinggo) belum (menerapkan kantong berbayar), tapi kalau kota-kota besar seperti Surabaya dan Malang, Giant sudah menerapkan, kita menunggu edaran dari Pemkot, ” terang kasir di Giant. Begitupun Graha Mulia (GM), toko besar di Kota Probolinggo ini belum menerapkan kebijakan tersebut. “Gak tau mbak, dan belum ada arahan dari manajemen toko,” terang salah satu karyawan.

Masyarakat Kota Probolinggo pun sepertinya tidak keberatan bila kebijakan tersebut akan resmi diterapkan di kota ini. “Kalo cuma dua ratus, kita kayaknya milih bayar, sama seperti bila kita menyumbangkan kembalian kita,” kata Alfin, seorang konsumen di Kota Probolinggo. Dia pun mengatakan seandainya kantong plastik tersebut dilabel lima ribu rupiah, mungkin masyarakat akan pikir-pikir untuk menggunakan kantong plastik. Pun juga dengan Andika, yang tidak mempermasalahkan kantong plastik berbayar ini. “Gak masalah, tapi kalo barangnya kecil-kecil, mending dimasukin tas/jok,” kata laki-laki yang mengaku sering berbelanja di minimarket ini.

Dikonfirmasi masalah ini, kepala bidang Penanggulangan dan Penanganan Dampak Pencemaran Lingkungan pada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Deus Nawandi, menjelaskan memang Kota Probolinggo belum menerapkan kebijakan tersebut. “Kebijakan tersebut memang belum diterapkan di Kota Probolinggo, karena kebijakan tersebut masih dalam taraf uji coba dan diterapkan di kota-kota besar yang banyak terdapat ritel besar, dan pada dasarnya kami setuju dengan kebijakan tersebut, tapi kami tidak bisa melarang toko-toko yang sudah menerapkan kebijakan tersebut,” katanya. Dia pun mengatakan bahwa Pemerintah Kota Probolinggo masih dalam posisi ikut mendukung kebijakan tersebut. “Kami hanya bisa memberikan imbauan kepada toko-toko untuk ikut mengkampanyekan kebijakan tersebut,” jelasnya. Disinggung tentang harga yang relatif murah untuk sebuah kantong plastik, Deus mempunyai jawaban yang diplomatis. “Memang murah dan tentunya masyarakat tidak keberatan membayar, tetapi dengan begitu kita membuat masyarakat ikut memikirkan sampah plastik dan mengubah pola hidup dengan menghemat penggunaan kantong plastik,” jelasnya. Diapun mengatakan Kota Probolinggo akan menunggu hasil dari uji coba dan evaluasi dari kebijakan tersebut, dan tentunya akan mendukung dari tindak lanjut kebijakan tersebut. Perlu diketahui, sampah plastik di Kota Probolinggo menduduki komposisi sampah kedua terbesar setelah sampah makanan dengan 19% dari keseluruhan sampah. hariyanti agustina

Have you heard about the policy of plastic bag charge? Coincide with the Waste Care Day on February 21st, the government has applied a trial on plastic-bag-charge policy on modern retail business. Customers have to pay IDR 200 for a plastic bag. The policy is one of the government’s efforts to reduce the amount of waste, especially plastic which has been one of the causes of environmental pollution. It is also being one of strategies of communication, information, and education for society in increasing their knowledge and public awareness that it is time for all of us to reduce the use of plastic bags. For the first stage, the policy will be applied for the next 6 months (February-August) in 23 big cities in Indonesia such as Jakarta, Bandung, Surabaya, Bogor, Palembang, Balikpapan, Makassar, Denpasar, and others.

In East Java Province, Surabaya and Malang city has been chosen to apply the policy. Meanwhile, Probolinggo city (a medium city) has not officially launched the policy although several retail shops, Alfamart and Indomaret, have applied the policy based on their head offices’ instruction. “We just do what our head office tells to do,” said one of cashiers at Alfamart. Asked about the response of the customers, the cashier said that they are willing to pay for their plastic bag. “We explain to them first that they have to pay for the plastic bag, and they respond it well. But, when they just buy 1 or 2 stuffs, they just carry it without using a plastic bag,” she said.

Different to those two retail shops, Giant as the biggest retail shop in the city has not applied plastic bag charge although they have launched a bag charge and free box as the replacement of plastic bag. “We haven’t applied the policy. But other Giant shops in big cities, Malang and Surabaya, have. We are still waiting the local government’s instruction,” the Giant cashier said. Another big retail shop, Graha Mulia (GM) hasn’t either applied the policy. “I have no idea about it, and there is not instruction from our management,” said one of employees.

Apparently, Probolinggo citizens are willing to pay for their plastic bag if the policy is applied in the city. “IDR 200 is not a big deal for a plastic bag. It’s just like we make a donation,” said a customer in Probolinggo city, Alfin. He also said that if the bag is charged for IDR 5,000, then the citizens will consider bringing their own bag instead of paying a plastic bag. Another customer, Andika has no problem with the policy. “It’s not a problem for me. But when we just buy certain stuffs, I’d consider bringing it myself or putting it in my bike,” said the man who often shop at mini markets.

Meanwhile, the head of Environmental Pollution Management of local Environment Agency, Deus Nawandi has confirmed that the city has not applied the policy. “We haven’t applied the policy since it is still on a trial, applied in big cities which has big retail shops. Basically, we support the policy but we cannot forbid the shops who have applied the policy,” he said. He then continued to say that the city support the policy. “We only can urge the shops to promote the policy,” he explained. Related to the cheap price of the plastic bag, Deus answered it diplomatically. “It’s cheap for a plastic bag, but in that way we can make the citizens to think about the plastic waste and change their way of life to reduce the use of plastic bags,” he continued. He also said that the city still waits the result of the trial and the evaluation, and certainly will support the next step of the policy. As is known, plastic waste in Probolinggo City is the second-biggest waste with 19% after food waste of all waste.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.