Mengikis Ketergantungan Air Minum

Mengikis Ketergantungan Air Minum

 

 

Pernahkan kita berfikir, mengapa perusahaan raksasa dunia menjual air dalam kemasan di negara yang sumber airnya melimpah? Bukankah Pemerintah mampu menyediakan air minum melalui perusahaan daerahnya? Mengapa perusahaan dunia tersebut menguasai sumber-sumber mata air yang sejatinya menurut Pasal 33 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”? Ironisnya, di saat musim kemarau, masyarakat di beberapa daerah terlihat mengantri menunggu pasokan air minum dari Pemerintah. Di sisi lain, perusahaan air minum dengan mudah mendulang sumber-sumber air terbaik yang negara kita punya untuk mereka jual.

Keberadaan sumber mata air memang seharusnya dikuasai sepenuhnya pemerintah, karena air menguasai hajat hidup orang banyak. Ketersediaan air minum menjadi vital karena air minum merupakan kebutuhan pokok dari manusia. Lantas bagaimana penguasaan sumber mata air di Kota Probolinggo?

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Probolinggo (29/2), setidaknya ada 14 sumber mata air yang dimiliki Kota Probolinggo. Dari jumlah tersebut, beberapa di antaranya ternyata dikuasai oleh perseorangan. Menurut Sunjoto, Ka. Sub. Bid. Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pertamanan pada BLH mengungkapkan, beberapa sumber mata air dikuasai oleh masyarakat. “Nanti kami cek terkait legalitasnya. Seharusnya sumber mata air dikuasai Pemerintah”, ungkap Sunjoto. Beberapa sumber mata air yang dikuasai perseorangan antara lain Sumber Mata Air Pacar yang terletak di Jl. Arif Rahman Hakim Kelurahan Tisnonegaran. Saat ini sumber mata air tersebut difungsikan untuk aktifitas warga seperti mandi dan mencuci baju. Selain itu Sumber Mata Air Kekok yang juga terletak di Jl. Arif Rahman Hakim gang Kemuning Kelurahan Tisnonegaran. Sumber mata air Kekok saat ini digunakan untuk memandikan hewan ternak oleh warga sekitar.

Banyaknya sumber mata air di Kota Probolinggo tidak serta merta membuat Kota Mangga ini memiliki sumber air untuk PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) sendiri. Smpai saat ini, pasokan air minum di Kota Probolinggo masih menggantungkan ketersediaan dari sumber air Ronggo Jalu di Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri, apabila Pemerintah Daerah pemilik sumber mata air Ronggo Jalu merasa perlu untuk menghentikan pasokan air ke Kota Probolinggo. Tentu hal ini harus sudah dipikirkan bersama oleh seluruh stake holder di Kota Probolinggo. Bagaimana kedepan, Kota Probolinggo bisa mandiri dalam menyediakan pasokan air untuk PDAM yang tentunya untuk kemakmuran masyarakatnya.

Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Kelistrikan BLH, Sumarno, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mulai memikirkan kekhawatiran tersebut. Menurutnya BLH akan segera melakukan kajian terkait sumber daya air di wilayah Kota Probolinggo. “Memang ada rencana Kota Probolinggo ingin memanfaatkan sumber mata air yang akan digunakan untuk PDAM. Salah satunya yang ada di Sumber Wetan (Sumber Air Grinting). Kita akan mulai mengkajinya tahun 2017. Kita juga akan mengkaji sumber air yang pernah digunakan oleh perusahaan air mineral Ganesha (Sumber Air Umbul) yang di Kelurahan Curah Grinting. 2016 memang kami anggarkan untuk kajian sumber mata air. Namun sudah ada Instansi yang juga telah melakukan kajian, makanya kami stop dulu takutnya tumpang tindih. Tidak hanya dua sumber mata air nantinya setidaknya ada empat sumber air yang akan kami fokuskan untuk dikaji, diantaranya yang di Sumber Wetan, Sentong, Umbul dan Sumber Air Ardi yang di Wonoasih”, ungkapnya.

BLH meyakinkan apabila hasil kajian menyatakan keempat sumber mata air layak dijadikan sumber air minum, maka pihaknya memastikan bahwa sumber mata air itu akan dijadikan sumber air minum untuk PDAM di Kota Probolinggo. Apabila debit air terlalu kecil, tidak menutup kemungkinan sumber air yang dinyatakan layak akan digabung menggunakan saluran pipa. Diharapkan penggabungan sumber air nantinya mampu memenuhi kebutuhan pasokan sumber air minum di Kota Probolinggo. “Semua tergantung hasil kajian. Kalau memungkinkan untuk diminum, ya nanti pasti dijadikan sumber untuk PDAM. Tentu kami akan menindak lanjuti hasil kajian, dan kami masih mencari penyedia jasa yang profesional dalam mengkaji sumber air kita”, tambah Sumarno.

Permasalahan sumber air ini memang mencuat beberapa waktu lalu ketika salah satu media harian lokal menulis “Pemerintah Mengabaikan Sumber Air”. Tulisan tersebut ditindak lanjuti oleh Wali Kota Probolinggo, Rukmini dengan memerintahkan BLH untuk segera menyikapinya. Hasilnya, Sumber Mata Air Sentong yang penuh dengan enceng gondok saat ini sudah mulai bersih. Sumber mata air ini juga mulai dimanfaatkan warga untuk area memancing. BLH juga telah memasang lampu tenaga surya di kawasan ini untuk kenyamanan warga yang ingin memanfaatkan sumber mata air sentong. Selain Sentong, Sumber Air Grinting juga menjadi prioritas penangananan dari BLH, diantaranya penanaman pohon, pembersihan enceng gondok, penyediaan lampu tenaga surya, serta pembuatan bronjong/pembatas. (abdur hamzah)

 

 

Have you ever thought why the world-big companies sell bottled water in countries which have enormous water resource?  The government, in fact, is able to provide mineral water through its regional company, isn’t it? So, why those big companies take control on the water resources which belong to the countries’ control? Ironically, in dry season, people in several regions have to take a line waiting for mineral water from the government. On the other side, mineral water companies use our best water resources easily to be sold easily.

Water resources should be fully controlled by the government since water has been one of the most important things for human lives. The availability of mineral water is vital since it is a basic  need of human. Then, how is the control of water resource in Probolinggo City?

Based on the data of Probolinggo City’s Environment Agency (BLH), the city has, at least, 14 water resources. Of those resources, few of them belong to individual. According to Sunjoto, the head of conservation of biological diversity sub-division of BLH, several water resources are controlled by the citizens. “We will check the legality. The resources should be government’s authority,” Sunjoto said. One of the resources controlled by the citizens Pacar water resources located on Arif Rahman Hakim street, Tisnonegaran village. The water resource is now used for the citizens’ daily activity such as for bathing and washing clothes. Another resource owned by individual is Kekok water resource located on Arif Rahman Hakim street, Kemuning alley, Tisnonegaran village. The resource is used for bathing the cattle.

The fact that the city has many water resources doesn’t make the city to be able to meet the need of water for their citizens. Up until now, Probolinggo city’s tap water company (PDAM) is still using Ronggo Jalu water resource, located in Leces district-Probolinggo Regency, to fulfill the need of water for the citizens. This should be seriously considered by the stakeholders in the city. They should think about a plan to make their water resources to be the source of local water tap company (PDAM) for the prosperity of the citizens.

The head of Natural Resources Conservation and Electricity division of BLH, Sumarno, stated that his side has concerned on the problem. According to him, BLH will soon implement an examination related to the existing water resources in the city. “We do have a plan to utilize the water resources to be used by PDAM. One of resources we’d like to utilize is the one located in Sumber Wetan (Grinting water resource). The examination will begin in 2017. We will also do examination on Umbul water resource that had been ever used by a mineral water company, Ganesha. This year, we have allocated the budget for water resources examination. But, we just found out that an examination had been implemented by other agencies, so we cannot continue the project. There would be at least four water resources we’d like to examine i.e. the resources located in Sumber Wetan, Sentong, Umbul, and Ardi water resource in Wonoasih,” he said.

BLH has confirmed, if the examination shows that the water resources are safe to be consumed, then BLH would utilize the resources to be the mineral water resource for Probolinggo City’s PDAM. If the water discharge is too small, then there is a possibility that the resources, declared as safe, would be combined using pipe lines. It is expected that the combining water resources will meet the need of mineral water for the citizens. “It all depends on the result of examination. If it’s safe to consume, then it would be source for local PDAM. We will observe the result and we’re still looking for a professional third-party to examine our water resources,” Sumarno added.

The problem of water resources has emerged recently since a local mass media wrote “Govt Abandons Water Resources”. The news was then being the Mayor’s concern. Mayor Rukmini told BLH to get the problem solved. As the result, Sentong water resource, which was full of water hyacinth, is now clean. The resource is now used by the citizens as a fishing area. BLH has also installed a solar-powered lighting in the area for the convenience of the citizens. Besides Sentong, Grinting water resource is also a priority for BLH. The agency has implemented tree planting, water hyacinth cleaning, solar-powered lighting installment, and providing a barrier.