Budidaya Udang Vannamei (Cultivation of Vannamei Shrimp)

image_pdfimage_print

Budidaya Udang Vannamei

Cultivation of Vannamei Shrimp

Udang Vannamei merupakan salah satu jenis udang introduksi yang berasal dari Pantai Pasifik Barat Amerika Latin yang kemudian meluas ke Asia. Diperkenalkan di Indonesia melalui SK Menteri Kelautan dan Perikanan RI. No. 41/2001, dimana produksi udang windu menurun sejak 1996 akibat serangan penyakit dan penurunan kualitas lingkungan. Pemerintah kemudian melakukan kajian pada komoditas udang laut jenis lain yang dapat menambah produksi udang selain udang windu di Indonesia.

Hal serupa di ungkapkan Abd. Kholiq Kabid Budidaya dan Pembenihan pada DKP Kota Probolinggo, yang sejak tiga tahun lalu membudidayakan udang jenis vannamei. “Kenapa kami pilih budidaya udang vannamei? kata Kholiq, udang vannamei di budidayakan untuk menggantikan udang windu yang sudah sulit di budidayakan karena serangan virus whitespot. Daya tahan udang ini juga lebih baik dibandingkan udang windu,” jelas Kholiq.

Bermitra dengan CV. Andini sejak tahun 2013 dan CV. Madani di tahun 2014, ada ± 12 petak tambak yang di garap. Dalam setahun bisa dua kali panen, dan dalam sekali panen bisa di hasilkan lebih dari 2 ton udang vannamei. “Selain kerjasama tersebut, Kami juga membudidayakan udang vannamei di akhir tahun kemarin. Induknya hasil impor dari Hawaii yang kami dapatkan di Situbondo. Ada 4 petak tambak dan tempatnya sama di area tambak DKP di jalan lingkar utara,” jelas Kholiq.

Menurut Kholiq ada beberapa keunggulan dalam pembudidayaan udang vannamei ini diantaranya dapat dilakukan dalam padat tebar yang tinggi, tahan penyakit, pertumbuhannya cepat, harganya stabil serta pemasarannya yang mudah. “Pemasaran udang vannamei ini sangat mudah karena tak perlu susah-susah mencari pembeli, karena saat panen banyak yang siap membeli udang ini. Kami sendiri menjual udang vannamei ini ke pabrik di Surabaya dan Pasuruan,” jelasnya.

Panen udang vannamei ini cukup cepat karena bisa dilakukan setelah umur pemeliharaan 100 -110 hari. Berbeda dengan udang windu yang hanya diterima pasar dalam ukuran besar, udang vannamei ini bisa dijual dalam berbagai ukuran. “Kelebihan budidaya udang ini salah satunya laku di jual dalam berbagai ukuran, harga jual rata-rata untuk udang vannamei berdasarkan size per kilogram. Untuk saat ini, size 100 ekor per kilogramnya di hargai Rp. 52.000,- sedangkan size 90 ekor per kilogramnya di hargai Rp. 58.000,-,” tutur Kholiq.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo, lapangan usaha sub kategori Perikanan merupakan penyumbang terbesar pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Kategori ini mengalami peningkatan selama empat (4) tahun terakhir. Peranan lapangan usaha sub kategori perikanan terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yakni sebesar 53,15 persen pada tahun 2014. Riza Meinita

 

Vannamei or usually called as white-legged shrimp is a variety of Western Pacific Ocean of Latin America which then be found in Asia. Introduced in Indonesia through a Ministrial Decree of Maritime Affairs and Fisheries No. 41/2001, it has been anticipation to the declining production of tiger shrimp due to disease and declining-environmental quality. The government has since been implemented examinations on other shrimp commodities which could increase the production of shrimp in Indonesia.

It is then supported by the statement of the head of cultivation division of local Maritime Affairs and Fisheries Agency (DKP), Abd. Kholiq. The agency has been cultivating vannamei shrimp for three years. “Why do we choose vannamei? That’s because we want to replace the tiger shrimp that has been difficult to cultivate due to whitespot virus. The endurance of vannamei is better than tiger shrimp,” Kholiq explained.

Cooperating with CV. Andini since 2013 and CV. Madani in 2014, the agency has 12 shrimp ponds. Those ponds are harvested twice a year and produce more than 4 tons of vannamei shrimp. “Besides those cooperations, we also cultivate vannamei shrimp last year. We took the mother shrimp in Situbondo which was imported from Hawaii. We have 4 ponds located at the pond area in JLU, Probolinggo City,” Kholiq said.

Kholiq said there are positive impacts in cultivating this kind of shrimp. The cultivation could be implemented in a high spread; it has a high disease-resistance; stable price and the marketing is easy. “The marketing is easy because there is a high demand on this shrimp. We ourselves sell the shrimp to a factory in Surabaya and Pasuruan,” he said.

The harvest of vannamei shrimp is fast since it can be harvested when they are 100-110 days old. Different to tiger shrimp which could only be sold in big size, vannamei shrimp cuold be sold in any size. “The advantage of vannamei is that the shrimp could be sold in any size. At the moment, the price of vannamei with 100 size is IDR 52,000 per kilogram, and those with 90 size is IDR 58,000,”Kholiq said.

Based on the data of Statistic Centre Agency of Probolinggo City, the fisheries sub-sector is the biggest one in Agriculture, Forestry, and Fisheries sector. Fisheries sub-sector has been increasing since the last four years. The role of fisheries towards the gross regional domestic product (PDRB) is as much as 53.15% in 2014.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.