DISKOPERINDAG GELAR SIDAK AGEN LPG (DISKOPERINDAG HELD AN LPG DEALERS INSPECTION)

DISKOPERINDAG GELAR SIDAK AGEN LPG

DISKOPERINDAG HELD AN LPG DEALERS INSPECTION

Diskoperindag melakukan pemantauan terkait dengan melesatnya konsumsi elpiji 3 kg. Pihaknya langsung mengundang pelaku usaha di sektor migas, diantaranya SPPBE, 6 SPBU, 8 agen LPG, BPSK dan instansi terkait. Diawali dengan rapat koordinasi (10/2) di aula rapat Diskoperindag jalan Mastrip 155.  

Dari data yang ada, konsumsi elpiji 3 kg sepanjang tahun 2015 melejit hingga 15 persen dari kuota yang sudah ditetapkan. Otomatis penelusuran harus dilakukan, sebagai langkah antisipasi penyaluran yang tidak tepat sasaran, karena penyaluran di luar rayon merupakan bentuk pelanggaran, apalagi penyaluran bahan bakar bersubsidi harus memiliki ijin.

Keesokan harinya (11/2), Diskoperindag membentuk tim sidak. Tim gabungan terdiri dari berbagai unsur seperti Bagian Perekonomian, BPMPP, Diskominfo, Satpol PP, Dishub, BPSK dan LPK Madani. Mereka memantau distribusinya, apa sesuai dengan sasaran atau justru diluar rayon. “Banyak hal yang akan dilihat secara langsung di lapangan, mulai menyangkut ijinnya, distribusinya, sekaligus antisipasi kelangkaan LPG 3 kg, serta jaminan isi sesuai standard atau tidak,” ungkap Kasi Migas Diskoperindag yang ikut dalam sidak itu.

Pertama kali, tim meluncur ke SPPBE PT Bhumi Permata Indah di Jalan Brantas Kecamatan Kademangan. Manager Alfian Fitrianto menjelaskan bahwa ada tanda khusus dalam pendistribusian LPG tersebut. Untuk wilayah Kota Probolinggo, tabung gas itu ada plastik pembungkus atas berwarna biru, sedangkan wilayah Kabupaten Probolinggo berwarna putih. “Sejauh ini tidak ada masalah karena volume sudah sesuai standard. Namun permasalahan terletak pada tabung yang mengalami penyusutan, sehingga bobotnya bisa mencapai 4,8 kg. Seharusnya ditambah volume tabung 3 kg, total beratnya mencapai 8 kg. Ini membuat kita rugi karena berkurang,” imbuhnya. Untuk mengatasi hal itu, tabung yang rusak dikembalikan ke pihak pertamina. Bahkan pihaknya pernah afkir hingga 4000 tabung jumlahnya.

Usai memantau pengisian tabung elpiji 3 kg, perjalanan dilanjutkan ke agen-agen, diantaranya mengunjungi PT Lancar Pratama Ketapang dan PT Langkah Jaya Mayangan. Dari hasil sidak, tidak ditemukan pelanggaran yang berarti, namun hal ini merupakan langkah awal dalam melindungi masyarakat selaku pengguna elpiji 3 kg. Ini diungkapkan oleh Alexius Udo dari BPSK yang juga tergabung dalam tim sidak itu. “Kita lihat juga tanda SNI yang ada ditabung, termasuk tabung yang rusak, karena jika terjadi sesuatu maka bukan hanya konsumen yang rugi, tapi pelaku usaha juga. Apalagi jika berakibat tabung meledak,” tegasnya.

Tim untuk sementara hanya mengunjungi agen. Nantinya, pangkalan juga bakal jadi sasaran tim untuk di sidak. Khususnya apabila ada laporan dan pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan masalah elpiji.Yuli

 

Probolinggo City’s Cooperative, Industry, and Trade Agency (Diskoperindag) has done an observation related to the rising consumption of 3kg LPG (liquefied petroleum gas). The agency invited SPPBE, 6 gas station, 8 LPG dealers, BPSK, and related institutions. The inspection was started by a cordination meeting (10/2) at the meeting room of Diskoperindag.

Of the collected data, the consumption of 3kg LPG in 2015 was rising 15% of the determined quota. The fact has made the authorities to do an inspection as an anticipation of misuse distribution because if there is any distribution outside the area that has been set.

On the following day (11/2) Diskoperindag made an inspection team. A joint team consisting of any institutions such as Economic Department, BPMPP, Communication and Information Technology Agency, Satpol PP, Transportation Agency, BPSK, and LPK Madani. They observed the distribution whether it is as was set or not. “Many things can be observed in the field, from the distribution license or the standard of the containing gas,” said the head of oil and gas section of Diskoperindag who joint the inspection team.

The team went to SPPBE Bhumi Permata Indah, Ltd on Brantas street, Kademangan District. The manager said that there is a special sign in distributing the LPG. For Probolinggo city, the gas tube is covered by a blue pastic, while white plastic for Probolinggo Regency. “So far, we have no problem because the volume is based on the standard. But the problem is on the tube weight that is less than it should be,” he said. To solve the problem, the tube is being sent back to Pertamina. He also admitted that his side once sent 4,000 tubes back to Pertamina.

After observing the filling of 3kg LPG tube, the inspection was continued to the dealers such as Lancar Pratama, Ltd and Langkah Jaya, Ltd. Based on the inspection, there was no violation. But this was a first step to protect the rights of 3kg LPG users. It was stated by the representative of BPSK, Alexius Udo. “We also checked the SNI sign on the tubes, including the damage one,” he said.

The team was just visiting the dealers before they inspect the station, especially when there is any report by the citizens related to LPG.