Ramadan, Tempat Hiburan Malam Wajib Tutup Wali kota komitmen menolak izin tempat hiburan baru (Nightspot to be closed in Ramadan Mayor shows her commitment to not to approve the permit of new entertainment center)

image_pdfimage_print

Ramadan, Tempat Hiburan Malam Wajib Tutup

Wali kota komitmen menolak izin tempat hiburan baru

Nightspot to be closed in Ramadan

Mayor shows her commitment to not to approve the permit of new entertainment center

 

Wali Kota Probolinggo memastikan tidak akan menambah jumlah tempat hiburan di Kota Probolinggo. Saat ini jumlahnya dinilai sudah cukup, sehingga tidak perlu lagi diberikan izin bagi pengusaha baru. Kota Probolinggo akan lebih intensif membuka peluang investasi produktif, yang menyerap banyak tenaga kerja.

Isu purel menjadi topik yang cukup meresahkan bagi masyarakat Kota Probolinggo. Disinyalir, maraknya tempat karaoke menjadi magnet kedatangan purel di Kota berjuluk Bayuangga ini. Bahkan, beberapa waktu lalu ada desakan anggota masyarakat untuk menutup usaha hiburan tersebut. Tentunya, kondisi ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Pemerintah Kota Probolinggo.

Menyikapi hal ini, Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan (BPMPP) Kota Probolinggo mengundang para pelaku usaha hiburan di Kota Probolinggo, (17/5). Kegiatan yang berlangsung di gedung Sabha Bina Praja itu bertajuk Sosialisasi Perda Kota Probolinggo Nomor 9 Tahun 2015 tentang Penataan, Pengawasan, dan Pengendalian Usaha Tempat Hiburan.

Sekretaris BPMPP, Titik Widayawati mengakui kalau apa yang ramai belakang ini memang harus segera disikapi. “Tidak bisa dipungkiri, karakteristik masyarakat Kota Probolinggo sangat religius dan memperhatikan nilai-nilai agama. Untuk itu harus dilakukan penataan, pengawasan, dan pengendalian tempat hiburan agar kondisi masyarakat menjadi aman, tentram, dan teratur,” ungkapnya.

Johny Haryanto, Sekdakot Probolinggo mengungkapkan ada dua faktor yang memengaruhi meningkatnya jumlah tempat hiburan utamanya karaoke di Kota Probolinggo. Pertama, di daerah lain mulai berkurang persaingan atau mulai jenuh, sehingga mulai berekspansi ke daerah lain termasuk di Kota Probolinggo.

Kedua, ada sisi-sisi tertentu di Kota Probolinggo yang menarik bagi usaha-usaha hiburan, seperti banyaknya fasilitas infrastruktur penunjang yang baru berdiri seperti berubahnya Pelabuhan Tanjung Tembaga menjadi Pelabuhan Nusantara yang berskala Internasional.

Maraknya pembangunan infrastruktur tersebut ternyata tidak hanya berdampak pada maraknya investasi hiburan. “Kita sekarang punya empat pelabuhan, ada Pelabuhan Nusantara, Pelabuhan yang dikelola Pelindo, Pelabuhan di KTI, serta Pelabuhan Perikanan Pantai. Nah ini salah satu faktor yang sangat diminati investor. Tidak hanya investasi hiburan, tapi sekarang mulai banyak investasi perbankan, serta investasi perhotelan di Kota Probolinggo, ungkap Johny.

Maraknya usaha hiburan ternyata berdampak negatif bagi tatanan sosial masyarakat Kota Probolinggo. Hal inilah yang melatar belakangi Pemerintah Kota Probolinggo mengumpulkan para pelaku usaha hiburan. “Saya pesan kepada para pelaku usaha hiburan tolong dikendalikan keamanannya termasuk kesopanannya, etika. Itu penting. Jangan sampai berangkatnya sopan, pakai rok panjang, celana panjang tapi setelah di dalam, tinggal separo. Pemandu lagu kalau bisa berjilbab. Lha pakai pakaian mini itu mau apa? Kan dia memandu lagu ya sudah pakai pakaian yang sopan saja. Kalau pakai pakaian serba tidak sopan itu kan kita patut curigai. Makanya jangan marah kalau nanti dirazia Satpol PP, pesan Johny.   

Wali Kota Probolinggo seperti yang disampaikan Sekdakot, telah berkomitmen tidak akan menambah usaha hiburan. “Apa yang ada ini aja kita nikmati, Bu Wali sudah komit tidak akan ditambah lagi. Apalagi sebentar lagi kan bulan Ramadhan, itu harus tutup total. Bukan apa-apa, kita harus menghormati orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Malam-malam kan ada tadarus Al-Qur’an itu, ya harus kita hormati,” tegas Johny.

Beberapa larangan dalam Perda Nomor 9 Tahun 2015 tersebut di antaranya, selama bulan Ramadhan, malam Idul Fitri, Malam Idul Adha, dan Hari besar Islam lainnya usaha karaoke dan pub dilarang beroperasi.

Setiap hari Kamis, pengusaha pub dilarang menyelenggarakan live music pada hari dari pukul 16:00 WIB sampai pukul 24:00 WIB. Keberadaan usaha karaoke, dan pub tidak boleh kurang dari 300 meter dari tempat ibadah dan tempat pendidikan milik publik. Perda juga melarang usaha tempat hiburan seperti diskotik, klab malam, dan panti pijat.abdurhamzah

 

 

 

 

Probolinggo mayor has confirmed to not to increase the number of entertainment center in the city. The city considered to have enough entertainment center and there is no need to increase the number. It will be more intensive to open a productive investment opportunity, which can empower more manpower.

The issue of karaoke lady companions or generally called as ‘Purel’ (Public Relation) in Indonesia, has deeply bothered the Probolinggo citizens. It seems that karaoke spots have been the magnet to those lady companions coming to the city. The citizens have asked the local government to close the entertainment center. And this condition is surely being a concern for Probolinggo city administration.

Responding to this, Probolinggo City’s License and Investment Agency (BPMPP) invited the entertainment businessmen in the city (17/5). The event held in Sabha Bina Praja entitled Dissemination of Regional Regulation No. 9 of 2015 on Regulation, Supervision, Control of Entertainment Centers.

BPMPP Secretary, Titik Widayawati admitted the issue has to be solved immediately. “It’s deniable that Probolinggo citizens are religious and concern on religious values. Therefore we should make a regulation to supervise and control the entertainment centers to create a conducive situation,” she said.

Regional Secretary Johby Haryanto stated there are two factors affecting the increase number of entertainment center especially karaoke rental in the city. The first one is the lack interest on entertainment center in a region which then make the centers to expand its business to other regions including Probolinggo city.

The second one, the city has interesting points to support entertainment business involving new supporting infrastructure facilities such as international-scale Nusantara Port.

“We have now four ports available including Nusantara Port, harbor which is managed by Pelindo, a harbor in KTI, and Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP). This is a factor the investors are intersted in. The investment is not only on entertainment sector but also on banking and hotels,” Johny said.

The increasing number of entertainment business is in fact giving bad impact to the social order of Probolinggo citizens. This is being the reason why the city administration invited the entertainment businessmen. “I asked you all (entertainment businessmen) to control the security and ethics of your entertainment center. That’s important. Lady companions should, if possible, wear hijab. What are they doing with those sexy clothes? Their job is only to accompany the customers to sing. That’s all. Just wear a modest cloth. It’s suspicious when they are wearing sexy clothes,” Johny stated.

Probolinggo mayor, as was stated by Johny, has a commitment to not to increase the number of entertainment center. “We have enough centers. The mayor has shown her commitment to not to increase the number of it. Moreover, we are close to Ramadan month. Those centers should be closed. We should respect the people who are fasting in Ramadan,” Johny said.

As stated in the regulation, karaoke center and pubs are prohibited and to be closed during Ramadan, Eid Mubarak eve, Idul Adha eve, and other Islamic Days.

In every Thursday, pubs are not allowed to hold live music at 4 p.m. until 12 p.m. The location of karaoke center and pubs are not less than 300 meters from worship sites and public educational facilities. The regulation also prohibits any entertainment centers involving discotheque, night clubs, and massage parlors.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.