KOTA PUSAKA (HERITAGE CITY)

image_pdfimage_print

KOTA PUSAKA

HERITAGE CITY

 

Kota Probolinggo bersiap untuk menjadi Kota Pusaka.Keinginan Kota Probolinggo menjadi salah satu Kota Pusaka di Indonesia mendapat respon positif dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU dan Pera). Hal tersebut terlihat dari diundangnya Kota Probolinggo dalam Heritage International Workshop pada tanggal 9-13 Mei di Bali.

Workshop yang bertajuk “Heritage as Cultural, Social and Economic Asset: How to Renovate the Cities to Become Candidates for the UNESCO World Heritage List” ini merupakan workshop internasional yang diadakan oleh Kemen PU dan Pera. Diharapkan dengan acara ini kota-kota dengan potensi historis di Indonesia dapat semakin berkembang sehingga menjadi kandidat UNESCO dalam daftar warisan dunia (World Heritage List).

Tidak hanya menjadi peserta, Kota Probolinggo menjadi salah satu kota yang ditunjuk untuk memberikan paparan tentang potensi Kota Probolinggo serta upayanya menuju Kota Pusaka. Selain Kota Probolinggo, ada beberapa daerah yang juga memberikan paparan diantaranya Kota Sawahlunto, Kota Semarang, Kota Bau-Bau, dan Kota Pangkal Pinang.

Dalam workshop tersebut, Wali Kota Rukmini menjelaskan tentang beberapa pencapaian target penataan dan pelestarian Kota Pusaka di Kota Probolinggo. Diantaranya revitalisasi dan konservasi sejumlah bangunan bersejarah seperti Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kali Banger, Benteng, struktur kota Jawa, jalan-jalan bersejarah,  dan kawasan etnis Arab, China, dan Madura.

Termasuk optimalisasi bangunan cagar budaya yang ada dalam kawasan prioritas agar menjadi destinasi wisata bernilai edukasi dan ekonomi (memasang story board di depan bangunan yang dimaksud). “Kami juga memberikan peluang partisipasi masyarakat untuk menyediakan moda transportasi angkutan wisata yang bersifat tematik, personal dan ramah lingkungan seperti becak wisata atau dokar wisata khas Kota Probolinggo,” terang wali kota dalam paparannya.

 Wali Kota Rukmini juga menerangkan, dalam mewujudkan Kota Pusaka tidak lepas dari masalah seperti kurangnya sumber daya manusia, kurangnya sarana dan prasarana, dan keterbatasan sumber dana. ”Permasalahan lainnya adalah belum optimalnya partisipasi masyarakat dalam pelestarian cagar budaya,” tambahnya. Dalam acara workshop ini wali kota mengisi aplikasi untuk mendaftarkan Kota Probolinggo menjadi kandidat Kota Pusaka dunia oleh UNESCO.

Kabid Sosial dan Budaya di Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Probolinggo, M.Sonhadji mengatakan, diundangnya Wali Kota Probolinggo sebagai salah satu nara sumber karena kuatnya komitmen Kota Probolinggo dalam mewujudkan Kota Pusaka.

“Selain itu, potensi yang dimiliki Kota Probolinggo sangat besar untuk menjadi cagar budaya nasional bahkan internasional,” katanya. Selain kaya akan bangunan bersejarah dan budaya, Kota Probolinggo juga mempunyai kelebihan dalam struktur tata kotanya. Hal itu dikarenakan struktur kota tua yang ada di tengah-tengah Kota Probolinggo.  “Kota Probolinggo ini merupakan kota yang dibangun oleh Belanda secara rapi dan untuk kepentingan Belanda sendiri,” sambungnya.

Rancangan Kota Pusaka berawal dari kerjasama dengan ICOMOS untuk pemetaan kawasan kota tua. Dengan rekomendasi dari ICOMOS, Kota Probolinggo mengajukan proposal Kota Pusaka ke Kemen PU&Pera. Dalam pendampingan yang dilakukan oleh Kemen PU dan Pera dalam menjadikan mewujudkan Kota Probolinggo sebagai Kota Pusaka. “Kawasan kota tua yang dijadikan kawasan prioritas Kota Pusaka dari pelabuhan Tanjung Tembaga sampai ke Markas Kodim, seluas ± 60 ha,” timpal Kasubid Pendidikan, Kebudayaan dan Kesejahteraan Rakyat Bidang Sosial Budaya Bappeda Wiwik Susilowati.

Prosesnya, Kota Probolinggo mendapat pendampingan dari Kemen PU&Pera dalam pembuatan Rencana Aksi Kota Pusaka yang dijadwalkan sampai dengan tahun 2019. ”Tahun ini, insyaallah kita mendapatkan bantuan Rencana Tata Bangunan Lingkungan (RTBL) dari Kemen PU& Pera, untuk pemugaran atau perbaikan ataupun pelestarian dari kawasan Kota Pusaka yang seluas 60 hektar tersebut,” kata Sonhadji.

Dia juga menjelaskan bahwa semua pekerjaan tersebut dilakukan oleh Kementrian PU&Pera yang berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum setempat. Kedepannya, setiap kawasan akan ditambahkan ornamen yang bercirikan dengan penduduk setempat. Misal kawasan etnis Tionghoa dan Arab berornamen khas etnis tersebut. “Bangunan yang bernilai sejarah pun akan dipugar dan dijaga keasliannya,” tambahnya. hariyantiagustina

 

Probolinggo is ready to be Heritage City. The desire of the city to be one of heritage cities in Indonesia is positively responded by the Ministry of Public Works and Public Housing (Kemen PU Pera). It was proven by the invitation of the ministry to Probolinggo City to Heritage International Workshop held in Bali on May 9th-13th.

The workshop entitled Heritage as Cultural, Social and Economic Asset: How to Renovate the Cities to Become Candidates for the UNESCO World Heritage List was an international workshop held by the ministry. It is expected that by holding the event, cities which their historical potency in Indonesia could be more developed to be the candidates of UNESCO in the World Heritage List.

Besides being participant, Probolinggo City was one of the appointed cities to give presentation on the potency of Probolinggo City and its effort to be Heritage City. There were other cities which gave presentation in the event including Sawahlunto, Semarang, Bau-Bau, and Pangkal Pinang city.

In the workshop, Mayor Rukmini explained on several targets of management and conservation of historical sites such as Tanjung Tembaga harbor, Banger river, Fortress, Javanese city structure, historical roads, and the area of Arab, Chinese, and Madura located in the city.

Including the optimization of heritage buildings in the priority area to be tourists destination which has educational and economic values. “We also give opportunity for the citizens to participate in providing eco-friendly transportation such as pedicab,” said the mayor in her speech.

Mayor Rukmini also stated that in realizing Heritage City, her side is facing several problems including lack human resources, infrastructures, and limited funds. “Another problem we are facing is the participation of the citizens which is not optimal in conserving the cultural heritage,” she added. In the workshop, the mayor filled in an application to register the city as the candidate of World Heritage List of UNESCO.

The head of Socio Culture division of Regional Development Planning (Bappeda), M. Sonhadji said that the fact that the mayor was one of the speakers has shown the commitment of Probolinggo City in realizing Heritage City.

“Besides, the city has a big opportunity to be national or even international heritage,” he said. Besides having many historical building and cultures, the city also has another advantage including its city structure. That is because the structure of old city located in the center of Probolinggo city. “Probolinggo is a city built by the Dutch colonial with a perfect structure, for their own business,” he continued.

The design of Heritage City emerged when the city administration cooperated with ICOMOS to set the old city area. Recommended by ICOMOS, the city finally submitted a proposal to Kemen PU Pera. “The area of old city being the priority of Heritage City is from Tanjung Tembaga harbor until the headquarters of military district, it’s about 60 ha,” said the head of education, culture, and society welfare sub-division of Bappeda, Wiwik Susilowati.

Talking about the process, Probolinggo city is guided by the ministry to make the document of Heritage City Action Plan for the next years until 2019. “In 2016, Insya Allah we would get assistance from the ministry to make the Environmental Layout Planning (RTBL) to renovate or conserve the 60 ha area,” said Sonhadji.

He also explained that in doing the project, the ministry is also assisted by Probolinggo City’s Public Works Agency. Then, in the future, each area would have ornament representing the typical of local residents. “Historical buildings would be renovated and it would remain original,” he added.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.