Wali Kota Minta Orangtua Lebih Peka Terhadap Anak

image_pdfimage_print

MAYANGAN – Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin membuka kegiatan manasik haji yang diikuti 1602 TK/RA se-Kota Probolinggo di Alun-alun, Senin (25/2) pagi. Kepada orangtua murid yang ikut mengantar anaknya, ia berpesan agar lebih peka terhadap kebutuhan keagamaan anak. 

Seperti yang disampaikan Ketua Panitia dari IGRA (Ikatan Guru Raudhatul Athfal, Anisatul Maulidiyah, manasik haji dilaksanakan untuk mengenalkan kepada peserta didik rukun Islam yang ke lima sejak dini. 

“Penanaman sejak ini makna rukun Islam ke lima yakni ibadah haji. Dan meningkatkan keimanan ketakwaan akhlaq anak didik serta pembentukan karakter anak secara utuh,” katanya. 

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Kota Probolinggo Mufi Imron menyampaikan, manasik haji sudah menjadi agenda rutin dua tahunan yang dilaksanakan oleh IGRA. Dengan manasik haji diharapkan dapat menciptakan kecintaan sejak dini tentang haji dan dapat menunaikan haji di tahun yang akan datang. 

“Saat ini antrean haji di Kota Probolinggo 24 tahun. Jadi kalau sekarang anak-anak ini masih usia 6-7 tahun belum bisa mendaftar, nanti kalau sudah 12 tahun baru bisa mendaftar haji,” tutur Mufi, yang sempat melontarkan keinginan memiliki tempat manasik haji yang permanen kepada wali kota.

Banyak pesan yang disampaikan Wali Kota Habib Hadi pada kesempatan tersebut. Menurutnya, manasik haji bagi anak-anak sangat penting dan bermanfaat untuk anak usia dini mendapat edukasi tentang masalah keagamaan. 

“Para orangtua harus peka, bisa melihat tumbuh kembang anak agar mendapat edukasi dan sentuhan keagamaan. Karena banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi orangtua. Pemerintah memberikan support, untuk generasi muda juga harus ada pendampingan guru dan orangtua,” ujar Habib Hadi. 

Support yang dimaksud salah satunya adalah dalam waktu dekat bantuan operasional sudah bisa cair dan dimanfaatkan. Informasi itu pun mendapat tepuk tangan dan teriakan syukur para guru yang ada di Alun-alun. 

“Orangtua harus lebih hati-hati. Jangan berikan handphone ke anaknya biar anaknya tenang. Hal seperti ini yang harus dipahami oleh ibu-ibu. Terus kalau ada anak yang tidak percaya diri, orangtua harus memberi semangat,” katanya. 

Apabila seorang anak kurang berbicara kurang aktif, menurut Habib Hadi, itu juga pengaruh dari orangtua yang tidak sering mengajak anaknya berinteraksi. Ia mengimbau kepada orangtua untuk mengurangi gaya bicara dengan nada keras ke anak. Karena jika lingkungannya begitu, anak akan meniru apa yang terjadi di lingkungannya. 

“Sepulang dari sini, ajak anaknya bicara tadi bacaannya apa saja, manasiknya seperti apa, jangan didiamkan saja. Dengan begitu anak-anak kita menjadi anak-anak yang punya keimanan,” tegasnya. (famydecta/humas)