Ciptakan Kampung Marketer dari Wonoasih

 WONOASIH – Pernah mendengar kampung marketer di Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga? Kampung marketer ini dimotori oleh pemuda mantan ASN Kementerian Keuangan, lulusan STAN, Nofi Bayu Darmawan. 

Dengan prinsip pemuda harus kembali ke desa, tanpa merantau ke kota besar, Nofi kini bisa menciptakan 600 pegawai di desanya dengan omzet mencapai Rp 900 juta per bulan. Konsepnya, kampung tersebut memasarkan barang buatan desa hingga dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. 

Kampung marketer inilah yang tengah diusung Kecamatan Wonoasih dengan menghadirkan Nofi Bayu Darmawan. Selama dua hari, (27-28/2) sebanyak 12 pemuda dari kelurahan yang ada di Kecamatan Wonoasih mengikuti pelatihan kampung marketer di Banger Telecenter. Wali Kota Hadi Zainal Abidin hadir langsung membuka pelatihan tersebut. 

Camat Wonoasih Deus Nawandi menyatakan, kegiatan yang dijalankan sesuai dengan visi misi wali kota yakni membangun bersama rakyat untuk Kota Probolinggo lebih baik, berkeadilan, sejahtera, transparan, aman dan berkelanjutan. 

“Menjadikan masyarakat Kota Probolinggo yang mempunyai ekonomi berdaya saing, sumberdaya manusia yang berkualitas dan mengembangkan UKM yang ada di kota,” ujar Deus. 

Dengan pelatihan kampung marketer dapat memotivasi perwakilan pemuda di Wonoasih yang berkelut di dunia digital. “Kami ingin mencetak Nofi baru dari Wonoasih,” tegas alumni STPDN ini. 

Wali Kota Habib Hadi menyambut baik kegiatan berbagi ilmu yang dapat memotivasi pemuda khususnya di Wonoasih. “Banyak tantangan yang harus dihadapi. Tapi kalau ingin ada perubahan, jangan tunduk pada kenyataan,” katanya. 

Menurut Habib Hadi, di usia muda bisa bersaing dengan cara yang berbeda. Ia mendorong para pemuda selalu bersemangat untuk mewarnai Kota Probolinggo di bidang ekonomi. Sesuai prediksinya, tantangan ekonomi di Kota Probolinggo tahun 2019-2020 menurun 30-40 persen dari dampak tol. Yang merasakan imbasnya adalah restoran, tempat pusat oleh-oleh dan UMKM. 

“Dengan adanya teknologi kita bisa melakukan banyak hal. Ilmu ini sangat bermanfaat, saya akan menyupport dan terus memotivasi asalkan dengan niatan baik serta hal positif. Mas Nofi ilmunya untuk ditularkan semuanya, rejeki tidak akan tertukar,” tuturnya. 

Nofi Bayu Darmawan menambahkan, selama dua hari ia akan memberikan pembelajaran tentang adaptasi di era kecanggihan teknologi. Dengan adanya IT tidak ada lagi batasan, generasi millenial bisa mengambil alih semuanya. 

Ia pun melibatkan para orangtua dalam create produk, karena orangtua tidak bisa memegang kendali pemasaran. “Jadi semua bisa terlibat di satu desa, tidak hanya pemudanya tetapi juga para orangtua,” jelasnya. (famydecta/humas)