Geliat Budaya, Ekonomi, Hiburan di Festival Pendalungan Pasar Rakyat 

image_pdfimage_print

KANIGARAN – Hujan deras mengguyur Kota Probolinggo, Rabu (6/3) sore. Tepat saat dilaksanakan seremonial pembukaan Festival Pendalungan dan Pasar Rakyat Muslimat NU di Alun-alun setempat. Kendati begitu, acara tetap berlangsung dengan khidmat di tengah guyuran hujan dan sambaran petir.

Kala itu Alun-alun masih mendung, tak lama kemudian mendung petang dan hujan deras langsung turun. Seketika, undangan dan penonton yang ada di bawah panggung tanpa tenda harus bergeser mencari tempat berteduh. Hujan tak menyurutkan serangkaian acara seremonial sore itu. Tim kesenian dari Kabupaten Sleman tetap tampil maksimal dan memukau.

Siang harinya, di Alun-alun telah berlangsung lomba masak soto koya yang diikuti seluruh kelurahan dan kecamatan di Kota Probolinggo. Disambung kemudian penampilan Jula-Juli dan ludruk Karya Damai mengisi acara di panggung utama.

Hadir dalam kegiatan tersebut Gubenur Jatim diwakili Kepala Biro Kessos Provinsi Jatim Hudiono; Direktur Pengembangan Pita Lebar, PT Jasnita Telekomindo. Kepala Bakorwil V Jember; Kepala Disbudpar Jatim; Kepala Disbudpar Kabupaten Sleman, pimpinan dan pengurus Muslimat NU Jawa Timur forkopimda dan pejabat pemkot setempat.

“Berbagai tampilan siap memeriahkan Festival Pendalungan dan Pasar Rakyat Muslimat NU. Kota Probolinggo disuguhi Allah dengan hujan, semoga ini menjadi berkah,” cetus Kepala Disbupar Kota Probolinggo, Tutang Heru Aribowo.

Ketua PW Muslimat NU Masruroh Wahid pun menyemangati semua pengisi acara dan UMKM yang ikut dalam kegiatan akbar yang digelar mulai 6 – 10 Maret itu. “Jangan berkecil hati, ini adalah rahmat dari Allah SWT. Jika kita semua bersyukur, insyaallah laris dagangannya,” tuturnya.

Ia mengaku salut dengan Festival Pendalungan. Baginya, di belahan dunia manapun ia belum pernah mendengar ada Festival Pendalungan “Ternyata ada, di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sungguh luar biasa. Kolaborasi budaya Pendalungan yang ada Tionghoa, Awab dan Jawa,” ujar Nyai Masruroh.

Ia juga terkesima dengan tampilan kesenian Kabupaten Sleman yang menceritakan seorang pahlawan yang menjaga Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI). “Jaga aswaja, teguhkan bangsa,” imbuhnya.

Makna Pendalungan

Budaya Pendalungan merupakan percampuran beberapa etnik dalam suatu wilayah. Pendalungan berasal dari istilah Jawa ‘dalung: periuk besar’ yang bermakna sebuah kawasan besar yang menampung dua atau lebih kelompok etnik dan melahirkan kebudayaan baru yang diadopsi dari unsur-unsur budaya pembentuknya.

Istilah “pendalungan” ini selalu dikaitkan dengan sosial-budaya penduduk kawasan tapal kuda, Jawa Timur bagian utara. Khususnya Kota Probolinggo dimana sebagian besar penduduknya merupakan campuran etnis Jawa dan Madura. Bahkan pengaruh budaya Madura juga sangat kuat di wilayah ini.  Etnis Tionghoa dan Arab juga ada di dalamnya.

Wali Kota Habib Hadi menuturkan, banyak manfaat dari kegiatan ini. Diantaranya melestarikan budaya Pendalungan, pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah, mempromosikan dan melestarikan seni budaya tradisional juga mempromosikan kuliner khas di Kota Probolinggo.

Sejumlah kegiatan pun mengisi festival Pendalungan ini, festival yang saya harapkan semakin menguatkan Kota Probolinggo sebagai pelopor budaya pendalungan. Kulinernya ada lomba soto koya; tampilan ludruk; barongsai; musik tradisi; kesenian balasik; campursari; lomba menghias tumpeng; musik gambus; lomba mewarnai hingga band pelajar.

Pasar rakyat Muslimat NU di Kota Probolinggo merupakan bentuk apresiasi pemerintah untuk mewadahi produk UMKM. “Hal ini tentu sejalan dengan visi kami yakni membangun bersama rakyat untuk Kota Probolinggo yang lebih baik, berkeadilan, sejahtera, transparan, aman, dan berkelanjutan. Dengan misi pembangunan ekonomi yang berdaya saing berbasis sektor potensial,” jelas Habib Hadi, saat menyampaikan sambutan diiringi derasnya hujan.

Kepala Biro Kessos Jatim dalam sambutannya menyampaikan, mengapresiasi masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan budaya serta mengurangi kesenjangan ekonomi di masyarakat.

“Saat ini Gubernur fokus dalam pembangunan SDM. Bagi seluruh anak sekolah SMA/SMK di Jawa Timur, semua biaya sudah digratiskan. Untuk sekolah swasta Gubernur telah menentukan standar biaya minimal,” kata Hudiono.

Setelah acara seremonial pembukaan dengan ditandai pemukulan gong oleh Wali Kota Habib Hadi, bersama Wawali HMS Subri, Habib Hadi meninjau ke lokasi stand UMKM dan Muslimat NU. Ia menolak menggunakan payung dan memilih hujan-hujan menyapa seluruh masyarakat.

Habib Hadi berpesan agar semua pedagang untuk bersabar dan mendoakan jualannya bakal laris hingga acara berlangsung beberapa hari ke depan. “Sabar ya, insyaallah hujannya menjadi berkah bagi kita semua,” terangnya. (famydecta/humas)