Highlights Probolinggo City Masih Jadi Pilihan (Highlights Probolinggo City Remains Favorite)

image_pdfimage_print

Highlights Probolinggo City Masih Jadi Pilihan

Highlights Probolinggo City Remains Favorite

Beberapa bulan terakhir ini, masyarakat Kota Probolinggo kerap menjumpai banyak turis asing jalan-jalan di sekitaran kota. Baik di kawasan perdagangan atau bangunan peninggalan Belanda. Ya, turis inilah yang memilih Kota Probolinggo sebagai destinasi wisata saat mereka berlibur menggunakan kapal pesiar.

Kapal pesiar yang mereka gunakan biasa bersandar di dekat Pelabuhan Tanjung Tembaga. Tentunya, ini menjadi kabar baik bagi Kota Probolinggo. Dengan seringnya dikunjungi wisatawan asing, potensi pariwisata Kota Probolinggo tak lagi dipandang sebelah mata.

Lalu, bagaimana sebenarnya Kota Probolinggo bisa menjadi salah satu destinasi yang dipilih oleh pelancong kapal pesiar ini? Kali ini Link Go akan mencoba mengulik lebih dalam tentang awal mula singgahnya kapal pesiar di Kota Mangga.

Menurut Kasi Informasi dan Promosi Pariwisata, Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Dispobpar) Kota Probolinggo, Pandu Satria, semua berawal ketika Pelabuhan Tanjung Tembaga menjadi pelabuhan sebuah kapal pesiar berbendera Perancis di tahun 2009 silam.

Kala itu, Kota Probolinggo belum menjadi destinasi wisata yang dikunjungi, namun hanya menjadi tempat bersandar kapal pesiar. “Waktu itu, mereka berniat untuk mengunjungi Gunung Bromo yang memang sudah menjadi destinasi wisata internasional,” tutur Pandu.

Dua tahun berlalu, tepatnya tahun 2011, sebuah kapal pesiar bernama Silversea Shadow juga bersandar di Pelabuhan Tanjung Tembaga, dan Gunung Bromo masih menjadi destinasi favorit kala itu.

Namun, kali ini Dispobpar tak mau tinggal diam. Sebagai instansi yang mempunyai misi meningkatkan sektor pariwisata setempat, Dispobpar berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan keunggulan Kota Probolinggo.

“Kami coba gandeng pihak travel. Kami gali apa saja kebutuhan mereka dan kami akan penuhi. Dan salah satu yang mereka butuhkan waktu itu adalah rute wisata” ujar Pandu. Berawal dari sini, akhirnya muncullah satu paket wisata bertajuk “Highlights Probolinggo City”.

Tak berhenti di situ saja, dengan berbekal paket wisata ini, Dispobpar mengajukan proposal penawaran kepada pihak travel kapal pesiar. Tak berselang, usaha Dispobpar membuahkan hasil pihak travel mengirimkan perwakilannya mengecek kesiapan Kota Probolinggo untuk menjadi salah satu destinasi wisata baik dari sisi administrasi, infrastruktur dan lainnya.

Akhirnya, di tahun yang sama, Kota Probolinggo berhasil menjadi salah satu destinasi wisata kapal pesiar. Hingga tahun ini, Kota Mangga masih menjadi destinasi favorit bagi wisatawan kapal pesiar ini. Pandu menuturkan, meskipun Kota Probolinggo tak memiliki wisata alam, namun pelayanan terbaik menjadi alasan Kota Probolinggo kini menjadi destinasi wisata yang kerap dikunjungi.

“Wisatawan asing ini banyak didominasi orang tua. Jadi yang terpenting itu pelayanan. Dan mereka suka sekali berinteraksi dengan anak kecil. Pernah waktu itu, kami ajak mereka ke SDK Mater Dei. Responnya luar biasa dan mereka sampai mengirim surat kepada kami mengucapkan rasa senangnya,” tutur Pandu.

Namun, dalam kunjungannya, wisatawan asing ini juga kerap mengeluhkan beberapa fasilitas yang dikunjungi. Museum Probolinggo juga menjadi salah satu destinasi yang dikeluhkan mereka.

“Ya, memang museum kerap dikeluhkan. Terutama lampu display yang ada di dalam museum yang tak maksimal sehingga mereka kesulitan untuk melihat koleksi yang ada di museum. Tapi, saat ini masalah tersebut sudah kami atasi meski belum 100%. Masih tunggu anggaran PAK nanti,” tutur Pandu.

Ditanya soal dampak terhadap perekonomian daerah, pria asal Puger, Jember ini mengaku bahwa kunjungan wisatawan asing ini tidak memberikan sumbangsih pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Probolinggo. Hal ini dikarenakan, destinasi wisata yang dikunjungi masih belum ada retribusi tiket masuk.

“Tapi kunjungan ini memberikan dampak ekonomi terhadap masyarakat setempat. Tukang becak misalnya. Mereka mendapatkan rezeki berlebih karena becak menjadi salah satu transportasi yang digunakan untuk City Tour. Selain itu, pengrajin batik, rental bus, hingga sanggar seni tari juga ikut kecipratan,” pungkas Pandu. alfienhandiansyah

 

For the last few months, Probolinggo citizens have often seen foreigners walking around the city whether at the markets or Dutch heritage buildings. Yup, they are foreign tourist who choose Probolinggo city as their tourist destination as they have their vacation on a cruise ship.

Their cruise ship usually lay at anchor closely at the Tanjung Tembaga Harbor. This surely is a good news for the city. By having those foreigners in town, the tourism potential of the city is no longer underestimated.

So, how could Probolinggo city be one of tourist attractions chosen by the cruise ship’s passengers? Link-Go would like to investigate deeply on the beginning of the ship’s arrival to the city.

According to the head of Information and Promotion of Tourism section of Probolinggo city’s Youth, Sport, Culture, and Tourism Agency (Dispobpar), Pandu Satria, it all began when a French cruise ship lay at anchor at Tanjung Tembaga Harbor in 2009.

At that time, the city was not the tourist destination, but was only a site to moor the ship. “They would like to visit Bromo Mountain which has been international tourist attraction,” Pandu said.

Two years later, in 2011, a cruise ship called Silversea Shadow lay at anchor at the harbor, and Bromo Mountain was still the first choice to visit at that time.

But, Dispobpar showed their seriousness to promote the city. As an institution which has a duty to boost local tourism sector, they tries to use the ooportunity to promote the city’s potential.

“We tried to contact the travel agent. We collected any information on what they need and we promise to fulfill it. And they said that they need tourism route of the city,” Pandu said. Then, Dispobpar came up with making tourism package called Highlights Probolinggo City”.

Supported with the tourism package, Dispobpar submitted a proposal to the travel agent of the ship. And, the efforts have finally earned a result as the travel agent sent their representatives to check the preparedness of the city to be tourist attraction including its administrative affairs, infrastructures, and others.

Finally, in the same year, the city has successfully been one of the tourist attractions of the cruise ship. Up until this year, Probolinggo is still being favorite destination for the cruise ship’s passengers. Pandu said that although the city has no natural tourism, but it is a city often to visit due to its best services.

“The foreign tourist are dominated by elders. So, the most important thing is the services. And they love to interact with kids. We took them once to elementary school SDK Mater Dei. Their responses were amazing and they sent us a letter saying their thankfulness for taking them to the school,” Pandu said.

But, on their trip to the city, the foreigners have also complained on facilities they met. Probolinggo Museum is one of destination they complained about.

“Yeah, it is true that the museum is often being complained especially the display lights in the museum which are not maximal so the foreigners are dificult to see the collections in it. But, we have solved it although it’s not 100% done. We still wait for an extra budget this year,” Pandu said.

Being confirmed on the impact of the visit on regional economy, Pandu said that the visit doesn’t contribute to the Regional Own Revenue (PAD) of Probolinggo city. This is because the tourist attractions visited by the foreigners have no levy of admission.

“But, the visit gives economic impact to Probolinggo citizens. Becak (pedicab) drivers, for instance, can have more money since becak is one of transportation used for City Tour. In addition, batik designers, bus rental, and art galleries in the city have been involved in the tour, and surely they can get more money thanks to the tour,” Pandu ended.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.