Kaya Beragam Inovasi, Raih Adipura Kirana (Innovations Take the City to Adipura Kirana Award)

image_pdfimage_print

Kaya Beragam Inovasi, Raih Adipura Kirana

Innovations Take the City to Adipura Kirana Award

 

Mempertahankan sesuatu mungkin lebih sulit daripada mendapatkan. Tetapi tak akan ada yang sulit jika telah ada niat. Pepatah bijak tersebut tentu layak bagi Kota Probolinggo. Melihat jerih payah masyarakat dalam mempertahankan kebersihan sekaligus pengelolaan lingkungan hidup, kembali mendapat apresiasi dari Pemerintah Pusat berupa penghargaan Adipura Kirana 2016. Dengan demikian Pemkot Probolinggo telah berhasil mempertahankan predikat sebagai Kota Adipura 10 kali berturut-turut.

                Piala bergengsi tingkat nasional itu diserahkan langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada Wali Kota Probolinggo Rukmini di Kabupaten Siak, Propinsi Riau, bersama Kota dan Kabupaten penerima anugerah se-Indonesia, pada jumat ketiga bulan Juli lalu. Dalam penyerahan tersebut, Jusuf Kalla didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar.

                Tahun ini, penghargaan Adipura berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Selama ini, Adipura dikelompokkan dalam empat kategori kota. Yaitu, Kota Metropolitan, Kota Besar, Kota Sedang, dan Kota Kecil. Akan tetapi, tahun ini penghargaan Adipura diberikan dalam tiga kategori. Yaitu, Adipura Buana, Adipura Kirana, dan Adipura Paripurna.

                Kota Probolinggo sukses meraih Adipura Kirana, bersama 38 kota/ibu kota kabupaten lainnya. Adipura Kirana adalah suatu kategori penilaian adipura untuk mewujudkan kota-kota yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui Trade, Tourism, and Investment (TTI) berbasis pengelolaan lingkungan hidup (attractive city).

                Kategori lainnya, Adipura Buana yaitu suatu kategori penilaian Adipura untuk mewujudkan kota-kota yang layak huni (livable city). Sementara Adipura Paripurna adalah bentuk penghargaan tertinggi terhadap kota/ibu kota Kabupaten yang mampu memberikan kinerja terbaik untuk kedua kategori Adipura lainnya. Anugerah Adipura Paripurna merupakan penghargaan kepada kota / ibu kota kabupaten yang memenuhi syarat sebagai kota yang berkelanjutan.

                Wali Kota Probolinggo Rukmini sangat mengapresiasi diterimanya Adipura Kirana tersebut. “Alhamdulillah, sekali lagi Pemkot Probolinggo berhasil mempertahankan sebutan kota Adipura,” katanya. Saat penerimaan, Wali Kota didampingi dua pimpinan DPRD, Agus Rudiyanto Ghaffur dan Muchlas Kurniawan; Sekda Johny Haryanto, dan sejumlah pejabat pemkot terkait.

                Dengan diterimanya kembali gelar sebagai kota Adipura, menurutnya, membuktikan ada kepedulian dan keterlibatan seluruh kalangan masyarakat, pemerintah, maupun dukungan dari dunia usaha terhadap pengelolaan lingkungan di Kota Probolinggo. “Saya berharap kerja sama ini terus dijaga keberlanjutannya. Intinya, kesadaran dan kepedulian lingukungan sangat erat kaitannya dengan sinergi dan konsitensi tiga pilar. Yaitu, masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Semuanya memiliki peran dan harus terus melakukan perbaikan dan perubahan untuk Kota Probolinggo yang lebih baik,” terang Rukmini.

                Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Muchlas Kurniawan berharap agar prestasi itu memberi dampak pada pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. “Tidak berhenti pada penghargaan saja. Dan ke depan harus dipertahankan, kalau perlu ditingkatkan jadi Adipura Paripurna,” katanya.

                Dalam tahap awal penilaian (P1) yang berlangsung pada 17-18 Maret oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui PPE Jawa di Jogjakarta, BLH Propinsi Jawa Timur, dan LSM. Lalu pada bulan Mei, Pemkot Probolinggo kedatangan tim Adipura Nasional untuk verifikasi. Tim terdiri atas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta LSM/perguruan tinggi. Hasilnya, masih dilakukan evaluasi lagi oleh tim Adipura Nasional.

                Selanjutnya, bupati/wali kota yang masuk dalam nominasi sebagai penerima anugerah Adipura diundang oleh Kementeriah LHK untuk menyampaikan paparan. Dilanjutkan wawancara dengan dewan pertimbangan Adipura, ahli persampahan, dan ahli pemasaran di Jakarta pada 15 Juni lalu.

                Kepala BLH Kota Probolinggo Tutang Heru Aribowo menjelaskan ada 11 titik pantau penilaian di Kota Probolinggo yang menjadi sasaran tim Adipura. Antara lain, pemukiman/perumahan, jalan, saluran terbuka, terminal, sekolah, perkantoran/SKPD, ruang terbuka hijau / taman kota, rumah sakit umum / puskesmas, stasiun, TPS 3R / TPST, dan bank sampah hingga TPA. “Dari sebelas titik pantau ini, dilihat juga inovasi-inovasi barunya apa saja,” ungkapnya.

                Pemerintah Kota Probolinggo mempunyai beragam inovasi. Diantaranya untuk waste to energy misalnya, ada biogas limbah ternak, biogas limbah tahu, biogas methan TPA dan food digester. Sementara waste to resources, meliputi pengelolaan sampah organik menjadi sampah kompos, komposter aerob, pakan ternak dari hijauan tanaman jagung (silase), pakan ternak dari limbah jerami (amoniase), produk daru ulang/kerajinan dan pengelolaan sampah plastik menjadi bentuk cacahan.

                Selain itu inovasi lainnya meliputi keanekaragaman hayati, dengan adanya Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) serta RTH dan RTHKP yang terdapat di beberapa lokasi. Tidak kalah penting inovasi kampung iklim, kampung organik hingga kampung posyandu ternak yang digagas Pemerintah Kota Probolinggo turut menambah poin tersendiri saat penilaian oleh Tim Adipura Nasional. Dan tidak menutup kemungkinan untuk dijadikan percontohan bagi daerah lain. abdjamal

 

To maintain something prestigious might be harder than to achieve it. But, nothing is impossible when there is a will. That wise proverb describes the efforts of Probolinggo city administration. Thanks to the efforts of the citizens to keep the cleanliness of the city and to maintain the management of environment, Probolinggo succeeded in maintaining the title of Adipura City for the ten consecutive year.

The national-level prestigious trophy was handed over directly by Vice President Jusuf Kalla to Probolinggo Mayor Rukmini in Siak Regency, Riau Province, with other cities/regencies in Indonesia who received the same awards. In this event, Jusuf Kalla was accompanied by the Minister of Environment and Forestry, Siti Nurbaya Bakar.

This year’s Adipura is different to the previous ones. Up until this moment, Adipura is classified into 4 categories of city including Metropolitan, Big, Middle, and Small city. but, in this year, Adipura award is classified into 3 categories, which are Adipura Buana, Adipura Kirana, and Adipura Paripurna.

Probolinggo city succeeded to achieve Adipura Kirana, along with 38 other cities/regency capitals. Adipura Kirana is a category of Adipura assessment to realize cities that are able to promote economic growth through Trade, Tourism, and Investment (TTI), based on environment management (attractive city).

Other category, Adipura Buana is a category of Adipura assessment to realize livable cities. Meanwhile Adipura Paripurna is the highest honor for cities/regency capitals that are able to give their best performance for two other categories of Adipura. It is an award given to cities/regency capitals that are fulfilling the requirements as sustainable city.

Probolinggo Mayor, Rukmini stated her appreciation as the city received the award. “Alhamdulillah, the city has once again succeeded in maintaining the title of Adipura City,” she said. In the event, the mayor was accompanied by two officials of Regional House of Representatives (DPRD), Agus Rudiyanto Ghaffur and Muchlas Kurniawan; Regional Secretary Johny Haryanto, and related government officials.

By having this award this year, it proves that the citizens, government and business world have concerns on environment management in the city. “I hope that this cooperation can be continued. The main point is that the concerns on environment are related closely with synergy and consistency of three pillars involving the citizens, government, and business world. All of them have important role and have to keep improving for better Probolinggo,” Rukmini said.

Meanwhile, the Vice Chairman of DPRD Muchlas Kurniawan hopes that the achievement can give positive impact on the development and society welfare. “We don’t stop in this award, but we have to maintain it, and we should improve our achievement by targeting Adipura Paripurna,” he said.

In the first stage of assessment (P1) held on March 17th-18th by the Ministry of Environment and Forestry through PPE Jawa in Jogjakarta, Environment Agency of East Java Province, and non-governmental organizations (LSM). Then in May, the team of Adipura Nasional visited the city for verification. The team consisted of the Ministry of Environment and Forestry and LSM/universities. Based on the result, the team still needed to have another evaluation.

Then, regents/mayors who are nominated to receive the Adipura award were invited by the ministry to give presentation. Interview with Adipura Advisory Council, waste experts, and marketing experts was another stage of assessment held in Jakarta on June 15th.

The head of local Environment Agency, Tutang Heru Aribowo explained that there were 11 observation points of assessment in the city, being the target of Adipura team. It included public housing, roads, bus station, schools, (governmental) offices, open green space (RTH), hospitals, train station, waste bank and landfill. “Of 11 observation points, the team also assessed the innovations made to those points,” he said.

Probolinggo city administration has various innovations including ‘waste to energy’ program, biogas, and food digester. Meanwhile, ‘waste to resource’program includes management of organic waste to be compost waste, aerob composter, silase, amoniase, recycling activities, and management of plastic waste.

In addition, other innovations include biological diversity supported by mini zoo TWSL, and open green space on several locations. Another innovation including climate village, organic village, and cattle health center village are surplus points for the city. And those programs could be pilot projects for other cities/regions.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.