Kota Probolinggo Berhasil Pertahankan Penghargaan WTN Ke-9

image_pdfimage_print

Luar biasa. Demikianlah yang bisa diungkapkan atas prestasi yang berhasil dipertahankan Kota Probolinggo selama sembilan tahun berturut-turut. Bagaimana tidak, setiap tahunnya Kota Bayuangga meraih penghargaan tingkat nasional Wahana Tata Nugraha (WTN) untuk kategori kota sedang. 

Selasa (31/1), Sekda Kota Probolinggo Johny Haryanto menerima penghargaan WTN Utama yang diserahkan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya di Ruang Auditorium Sekretariat Wapres RI Jalan Kebon Sirih 14 Jakarta Pusat. WTN merupakan penghargaan Presiden RI yang diberikan kepada pemerintah provinsi dan kota/kabupaten sebagai wujud pembinaan pemerintah dalam menata transportasi perkotaan. 

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Kota Probolinggo sehingga selama ini kita berhasil mempertahankan WTN. Kita berhasil meraihnya kembali karena ada infrastruktur yang mendukung, komitmen masyarakat dalam mematuhi lalu lintas, ketegasan petugas dalam menjalankan tugasnya dan fasilitas yang terus kami benahi,” tutur Sekda Johny, usai menerima penghargaan siang tadi. 

Saat menerima penghargaan tersebut, Sekda Johny didampingi Wakapolres Probolinggo Kota Kompol Djumadi, Kasat Lantas Polres Probolingo Kota AKP Samsul Hadi dan Kepala Dinas Perhubungan Acep Arief Hidayat. 

Rasa syukur juga disampaikan Wakapolres Probolinggo Kota Kompol Djumadi. Menurutnya, keberhasilan mempertahankan WTN ini patut diacungi jempol. 

“Penghargaan ini berkaitan dengan tata kelola transportasi. Yang dinilai bukan hanya transportasi saja, tetapi berkaitan dengan fasilitas jalan, ketertiban jalan,” ungkap dia. 

Penghargaan WTN diselenggarakan mengingat kondisi saat ini sebagian kota-kota di Indonesia sering dihadapkan dengan permasalahan lalu lintas dan angkutan jalan yang kompleks terutama di perkotaan. 

Mulai  dari permasalahan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi, pertumbuhan kendaraan bermotor yang tidak terkendali, pemanfaatan tata ruang dan permasalahan sosial lainnya. 

Permasalahan tersebut berujung terjadinya kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas dan bahkan kecelakaan lalu lintas, sehingga perlu dicarikan solusinya. 

Oleh karena itu, melalui WTN diharapkan sarana untuk mendorong dan memotivasi pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten  dalam menyelenggarakan transportasi perkotaan yang selamat, tertib, lancar, efisien, handal dan berkelanjutan. Intinya, pemerintah mendorong terwujudnya budaya tertib lalu lintas dan angkutan di kabupaten/kota. 

Di wilayah Provinsi Jawa Timur, ada 35 kabupaten/kota yang mengikuti penilaian WTN pada 2016 lalu. Setelah melalui seleksi tahap I dan II oleh panitia di tingkat provinsi/nasional jumlah yang berhasil lolos hanya 30 kabupaten/kota, termasuk di dalamnya Kota Probolinggo. 

Pada kesempatan itu, Wapres RI Jusuf Kalla menyampaikan penghargaan WTN merupakan wujud apresiasi bagi pemprov/pemkab dan pemkot yang telah bekerja keras dalam memperbaiki sistem angkutan di daerahnya.

”Salah satu indikator kemajuan sebuah wilayah apabila penyelenggaraan angkutan untuk kebutuhan pokok bisa lancar,” katanya. 

Wapres pun mengingatkan bahwa tingkat kecelakaan lalu lintas cukup besar pada 2016 lalu. Yakni mencapai 23 ribu jiwa yang meninggal. “Artinya, banyak hak yang harus diperbaiki di sisi transportasi. Bukan hal mudah, banyak faktor yang harus diperbaiki di dalamnya,” tegas Kalla. 

Bagaimana kondisi kecelakaan di kota mangga? Kasat Lantas Polres Probolingo Kota AKP Samsul Hadi menuturkan, di Kota Probolinggo berdasarkan anev (analisis dan evaluasi) tahun 2015-2016 angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) memang naik dan membenarkan pernyataan wapres tersebut. “Kaitan penyebab kecelakaan lalu linta banyak, akhir-akhir ini banyak akibat jalan rusak atau berlubang,” jawabnya. 

Bahkan, tiga minggu lalu di depan terminal Bayuangga terjadi kecelakaan yang  memang bukan karena jalan berlubang tapi menghindari jalan berlubang. Korban nyalip truk dari sebelah kiri kemudian ada jalan berlubang dan memilih menghindar justru keserempet badan truk dan akhirnya terlindas. 

Samsul mecontohkan banyaknya jalan berlubang atau rusak di Kota Probolinggo di sekitar Jalan Prof Hamka, Jalan Panglima Sudirman (Randupangger ke timur) dan Jalan Lingkar Utara (JLU). 

Rusak parahnya JLU itulah yang akhirnya banyak truk yang mestinya lewat JLU justru melanggar masuk kota. “Secara umum, rekayasa lalu lintas di Probolinggo Kota sudah bagus. Traffic light, rambu-rambu, pengguna jalan mayoritas sudah sadar bagaimana berlalu lintas yang baik. Ada yang belum sadar, ya wajar. Penataan parkir rapi, markah jalan lengkap. Tinggal pengguna jalan yang memanfaatkan harus hati-hati. Masyarakat Kota Probolinggo pastinya ikut berbangga kita dapat WTN utama ini,” jelas Samsul Hadi, yang ikut menerima penghargaan bersama sekda dan wakapolres. ∎famydecta/humas

Leave a Reply

Your email address will not be published.