Kota Probolinggo Menduduki Peringkat 2 Se-Jatim

image_pdfimage_print

    Kota Probolinggo menduduki peringkat kedua se-Jawa Timur setelah Kota Madiun berdasarkan hasil pemantauan tahap I (P1) dengan total nilai 76,75. Sedangkan nilai Taman Pemrosesan Akhir (TPA) Bestari 77,45 berhasil menjadi peringkat pertama se-Jawa Timur. Hal ini disampaikan Wali Kota Rukmini saat ekspose hasil pemantauan P1 dan persiapan pemantauan tahap II (P2) Adipura tahun 2016/2017, Selasa (21/2) siang.

    “Kita peringkat dua, Alhamdulillah. Tapi jangan ngentengno karena kalau sudah ngentengno nanti bisa turun. Mudah-mudahan tidak turun ya peringkatnya tetapi semakin naik dan mengalahkan kota lainnya,” seru Rukmini di Sabha Bina Praja.

     Pada kesempatan acara yang dihadiri berbagai pihak yang menjadi titik pantau Adipura ini wali kota membeberkan catatan yang menjadi PR jelang P2. Lokasi titik pantau yang menjadi prioritas antara lain kondisi Kali Banger, Pasar Baru dan Pasar Ketapang, Puskesmas Kanigaran dan Puskesmas Ketapang, RSUD Dr Moh Saleh, kantor-kantor pemerintahan (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Bappeda dan Litbang, Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Bagian Umum Setda Kota Probolinggo dan kantor Kecamatan Kanigaran).

     Sedangkan lokasi titik pantau yang mengantongi nilai terendah atau masih dibawah 75,00 adalah lokasi permukiman di Perumahan Bromo, Perumahan Asabri, Perumahan Sumber Taman Indah dan Perumahan Prasaja. Untuk lokasi pertokoan di Jalan Panglima Sudirman, Jalan dr Soetomo. Terminal Bayuangga dan Stasiun Probolinggo pun menjadi sorotan tim penilai.

      Untuk lokasi titik pantau di jalan, pertokoan dan sekolah yang punya nilai rendah seperti Jalan Raya Bromo, Jalan Gatot Subroto, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Cokroaminoto, Jalan Mastrip, kantor Dinas Pendidikan dan Pemuda Olahraga, Badan Penanaman Modal dan PTSP, kantor Camat Kanigaran, SMK Negeri 4 dan SMK Negeri 1.

        Wali Kota Rukmini menegaskan lokasi titik pantau RSUD untuk terus dipertahankand an ditingkatkan antara lain tempat sampah medis dan non medis perlu ditambah, tempat sampah domistik, penanganan limbah medis, incenerator (catatan sampah medis yang masuk per hari) serta dokumen MoU dengan pihak ketiga, dokumen bukti pengiriman limbah medis (B3) dan kondisi IPAL diharapkan sesuai dengan standar yang ditentukan.

     “Dalam mempertahankan piala Adipura Kirana tahun 2017, saya berharap seluruh SKPD terkait memperhatikan hal-hal khusus dalam penilaian. Saya berkomitmen untuk tetap bisa mempertahankan penghargaan Adipura ke 11 ini tentunya atas dukungan serta partisipasi dari semua pihak,” tegasnya.

        Hal khusus yang dimaksud adalah pengembangan inovasi di bidang lingkungan, peningkatan performa kota seribu taman sebagai ikon kota, pengembangan energi terbarukan, pengembangan inovasi pelestarian sumber daya air, peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, pengembangan bank sampah dan gerakan 3R (reduse, reuse, recycle) harus maksimal dan adanya aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

      Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Tutang Heru Aribowo mengatakan proses tahapan penilaian Adipura mulai dari P1, P2 dan penilaian verifikasi (PV) dan dilanjutkan paparan wali kota di depan Dewan Pertimbangan Adipura Nasional (DPAN) di Jakarta. “Informasi sementara dari DLH Provinsi untuk P2 diperkirakan awal Maret,” ujarnya. ∎famydecta/humas

Leave a Reply

Your email address will not be published.