Hadiri Pertunjukan Rakyat di JKS, Wali Kota Banjir Laporan

Wali Kota Habib Hadi saat menyampaikan sambutan serta bertatap muka secara langsung dengan masyarakat (foto: Rizal Al Karimi/Humas dan Protokol)
image_pdfimage_print

MAYANGAN – Banyak cara bagi seorang pemimpin untuk dapat berinteraksi langsung dengan warganya. Baik itu secara formal atau pun informal.

Seperti yang dilakukan Hadi Zainal Abidin, Wali Kota Probolinggo. Saat bertemu dengan warganya, baik itu ketua RT dan RW atau warga biasa, selalu ia manfaatkan untuk menyampaikan program yang sudah dilakukan dan meminta masyarakat memberitahu dirinya masalah apa yang terjadi di lingkungan tersebut.

Sabtu malam minggu (13/4), di Galeri Seni Budaya (Gasibu) Jati Kampung Seni (JKS) di Jalan Sunan Kalijaga, Kelurahan Jati, Wali Kota Habib Hadi menghadiri Pertunjukan Rakyat (Pertura) Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) garapan Dinas Kominfo.

Kepada warga yang datang memadati JKS, Habib Hadi –sapaan akrab wali kota- mengatakan, pemerintah akan selalu mendukung kegiatan kesenian baik itu di sekolah atau di masyarakat untuk terus dilestarikan dan dikembangkan.

“Sekolah SD dan SMP sudah gratis. Saya mau nanya, apa ada yang masih bayar? Coba sampaikan ke saya kalau masih ada (yang membayar),” tanya wali kota.

“Sudah gratis, Bib,” jawab seorang ibu dari deretan kursi penonton.

Alhamdulillah. Pendidikan sudah, kesehatan sudah dan masih akan berjalan. Nanti di atas bulan Oktober tahun ini, semua pasien kelas 3 di RSUD akan digratiskan. Cukup bawa e-KTP saja. Tidak perlu surat keterangan tidak mampu,” kata Habib Hadi, yang malam itu didampingi sejumlah pejabat Pemkot Probolinggo.

Apa yang disampaikan Habib Hadi adalah bagian dari program prioritas visi misi wali kota-wawali dalam 99 hari kerja. Sesuai dengan misinya, membangun Kota Probolinggo bersama rakyat, maka Habib Hadi pun ingin masyarakat ikut berperan aktif memberikan masukan. “Mari bersama melakukan hal terbaik untuk Kota Probolinggo,” ajaknya.

Malam itu, Habib Hadi mempersilakan warga menyampaikan apapun yang ingin ditanyakan. Kesempatan itu pun dimanfaatkan dengan baik oleh warga. Ada yang bertanya poli jiwa di RSUD Dr Mohamad Saleh yang sudah tidak ada.

Dijelaskan oleh wali kota, bukan poli jiwa yang tidak ada atau dihapus. Tetapi, dokter spesialisnya yang sedang tidak ada karena mutasi. Pasien poli jiwa bisa berobat ke Puskesmas Kanigaran yang memang melayani untuk pasien jiwa. Bahkan, puskesmas nanti bisa merujuk ke RS Jiwa di Malang dengan dana yang ada di Dinas Kesehatan.

Ketua RW 8, Abdullah yang berlokasi di JKS, mengungkapkan harapannya agar kesenian di daerahnya ini mendapat perhatian dari pemerintah dan kesenian tetap bisa dilestarikan.

“Kami datang kesini ini adalah bentuk perhatian kami. Tentunya, kami akan perhatian masalah kesenian. Saya tinggal tunggu kabar dari Pak Camat (Mayangan) apa yang perlukan disini,” jawab Habib Hadi.

Rahayu, seorang penggerak UMKM di JKS pun bersuara. Ia berharap di JKS punya galeri UMKM untuk menampung display produk UMKM yang dihasilkan oleh warga sekitar. Pasalnya, ada sekitar 30 UMKM yang ada di Kelurahan Jati.

Wali kota berjanji akan memfasilitasi para UMKM, karena sesuai dengan progam visi misinya yaitu menciptakan dan melakukan pembinaan kepada 500 UMKM setiap tahunnya. Nanti akan ada pusat oleh-oleh dan UMKM JKS serta dari kecamatan lain akan dilibatkan di dalamnya.

Satu aduan yang menjadi perhatian dari wali kota malam itu adalah adanya keluhan bantuan beras. RT di Jalan MT Haryono itu berharap agar kriteria warga miskin tidak dilihat dari rumah, karena bisa saja rumah itu adalah warisan dan mereka kebetulan menempati, jadi bukan milik sendiri.

“Kalau mau ada survei, menurut kami, bisa ke RT saja ditanyakan. Karena RT yang lebih tahu kondisi warganya,” ujar ketua RT tersebut.

Wali kota pun berharap program pemerintah untuk meringankan beban warga harus tepat sasaran. Ia mengimbau masyarakat juga menaati aturan yang berlaku. “Program sebagus apa pun. Tidak akan berguna apabila masyarkat tidak mengindahkan aturan,” pesannya.

Pertura malam itu ditutup dengan penampilan ludruk Rukun Damai. Tidak hanya tampilan seni dari para seniman JKS, kegiatan ini juga diisi sosialisasi tentang pemilu 2019 dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan layanan darurat nomor tunggal 112 dari Dinas Kominfo setempat. (famydecta/humas)

Salah satu tampilan pertura yang disugukan oleh para seniman jati kampung seni (foto: Rizal Al Karimi/Humas dan Protokol)

There are many ways for a leader to be able to interact directly with his citizens whether it’s formal or informal.

As did Hadi Zainal Abidin, the Mayor of Probolinggo when meeting the citizens, both RT and RW heads or ordinary citizens, he always delivers the programs that have been carried out and asks the community to tell what the problems are in the environment.

Saturday night (13/4), at the Cultural Art Gallery (Gasibu) Jati Kampung Seni (JKS) on Jalan Sunan Kalijaga, Jati Sub-district, Mayor Habib Hadi attended the People’s Performance (Pertura) Community Information Group (KIM) fostered by the Agency of Communication and Information Technology.

To the residents who came to JKS, Habib Hadi said that the government would always support artistic activities both at school and in the community to continue to be preserved and developed.

“Elementary and junior high schools are free. I want to ask, does anyone still pay? Try telling me if there are still (who pay),” asked the mayor.

“It’s free, Bib,” answered a mother from a row of spectators.

“Alhamdulillah. education and health are already free and still going to run. Later in October this year, all class 3 patients at the local hospital RSUD will be free. Just bring your e-KTP. There is no need for an insufficient certificate,” said Habib Hadi, who was accompanied by a number of Probolinggo Municipality officials that night.

What Habib Hadi conveyed is part of the mayor’s vision-mission priority program in 99 working days. In accordance with its mission, building Probolinggo City with the people, Habib Hadi also wanted the community to take an active role in providing ideas and suggestion. “Let’s do the best for the city together,” he said.

That night, Habib Hadi invited the residents to convey whatever they wanted to ask. The opportunity was also used well by residents. Someone asked the mental poly at the Dr Mohamad Saleh General Hospital that was no longer available.

The mayor explained that the poly is still available, but unfortunately, there is no specialist doctor available because the doctor has been re-assigned. Psychiatric patients can seek treatment at Kanigaran Community Health Center, which does serve mental patients. In fact, the health center can later refer to the Mental Hospital in Malang with funds available at the Health Agency.

The chairman of RW 8, Abdullah, who is located in JKS, expressed his hope that the arts in his area would receive attention from the government and the arts could still be preserved.

“We have come here; this is our form of concern. Of course, we will pay attention to art issues. I am just waiting for the news from the District Head (Mayangan) what is needed here,” said Habib Hadi.

Rahayu, an MSME initiator at JKS also expressed her aspiration. She hopes that JKS will have a gallery to accommodate MSME product displays produced by local residents because there are around 30 MSMEs in Jati sub-district.

The mayor promised to facilitate MSMEs because it is in accordance with its vision and mission program, which is to create and train 500 MSMEs annually. Later there will be a souvenir center and UMKM JKS and from other sub-districts will be involved in it.

One complaint that was being a concern to the mayor that night was a complaint of rice assistance. The RT in Jalan MT Haryono hoped that the criteria of the poor would not be seen from the house, because it could be that the house was inherited, so it was not their own.

“If you want a survey, in our opinion, you can just go to RT because they know more about the condition of their citizens,” said the RT head.

The mayor also hopes that government programs to alleviate the burden of citizens must be right on target. He appealed to the public to also obey the applicable rules. “No matter how good the program is, it will not be useful if the community does not obey the rules,” he ordered.

Pertura that night was closed by ludruk (theatrical performance in East Java) performance of Rukun Damai. Not only is the display of art from JKS artists, but this activity is also filled with the dissemination of the 2019 election from the Election Supervisory Board (Bawaslu) and 112 number single emergency services from the local Communication and Information Technology Agency.