Saat Wali Kota Ramah Tamah dengan Seniman, Apa Saja yang Dibahas?

Wali Kota Habib Hadi sambutan pada saat ramah tamah dengan 100 seniman asal Kota Probolinggo (Foto: Welly/Humas dan Protokol)
image_pdfimage_print

MAYANGAN – Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin dan Wawali Mochammad Soufis Subri ramah tamah dengan 100 seniman asal Kota Mangga, Senin (15/4) di Bromo Park Hotel. Dalam pertemuan tersebut, wali kota meminta para seniman tidak terbawa asumsi yang menyebutkan di era kepemimpinannya, para seniman bakal tak punya ruang untuk berkarya.

“Kalau ada shalawatan ya disambut dengan hadrah, ada tamu disambut dengan tarian. Jangan yang menjadi asumsi ini dikait-kaitkan. Ada tempatnya masing-masing sehingga semua sama-sama hidup, khususnya seni yang ada di Kota Probolinggo,” kata Habib Hadi.

“Jangan khawatir disingkirkan. Saya cinta pada seni. Kita taruh seni pada tempatnya yang sesuai supaya asumsi yang selama ini dikembangkan jangan sampai termakan (terpengaruh),” lanjutnya.

Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, ujar Habib Hadi, semua even di Kota Probolinggo harus mengangkat potensi lokal. Wali kota ingin mengembangkan potensi yang ada di kota ini dengan mengajak para pelaku seni. Kota Probolinggo adalah kota yang luar biasa, di kota ini ada pelabuhan yang menjadi salah satu pintu wisatawan.

“Apa yang bisa disajikan? Ya kesenian lokal ini. Wisatawan tidak akan kembali kalau tidak ada daya tarik. Menciptakan ini tidak semudah apa yang disampaikan, harus ada aturannya,” imbuhnya.

Habib Hadi pun menegaskan, jika ia tidak alergi pada seni apapun. “Tetapi harus ada tempatnya. Jangan ada gesekan seolah-olah pemerintah tidak peduli dengan seni dan budaya. Para seniman harus bisa memahami arah kebijakan pemerintah ke depan,” tutur mantan anggota DPR RI ini.

Intinya, setiap kegiatan pemerintah harus melibatkan kesenian lokal Kota Probolinggo. “Sudah clear tentang kegiatan pemerintah yang ada porsi masing-masing, tentunya saya tidak akan meng-anak tirikan kesenian yang ada,” ungkap Habib Hadi lagi.

Pokok pikiran dengan melibatkan masyarakat melalui pemerhati budaya, seniman yang punya kompetensi dan kredibilitas. Pokok pikiran tersebut sebagai identitas budaya, strategi budaya dan rencana induk kemajuan budaya.

Pelaku seni, Neri, menanyakan ke wali kota tentang adanya arahan khusus jika kostum penari harus berwarna hijau. Padahal mereka sebenarnya punya kostum sendiri sesuai dengan karakter tarian yang dibawakan.

Habib Hadi pun menjawab keresahan Neri. Katanya, jika memang tidak punya kostum lagi dan tidak ada waktu untuk membuat kostum, Neri diminta menjelaskan ke panitia bahwa ia sudah tidak punya waktu lagi untuk membuat.

“Kalau mau warna kostum berbeda bilang ke panitianya suruh sampaikan jauh-jauh hari biar ada waktu untuk membuat. Tapi kalau tidak ada lagi, ya sudah disampaikan apa adanya. Warna tidak ada hak paten, sampaikan saja, panitia juga jangan menekan,” tegas wali kota dari partai yang berwarna hijau ini.

Pada kesempatan itu, wali kota juga menyinggung soal regenerasi seniman yang harus terus dilakukan demi pengembangan budaya di Kota Probolinggo. Di era Habib Hadi dan Subri, meminta masyarakat dan pelaku seni punya keinginan dalam membangun Kota Probolinggo.

Dalam 10 program prioritasnya, wali kota dan wawali meminta ada sisipan pelajaran muatan lokal. Hal ini sudah dilaksanakan oleh Disdikpora. Disbudpar sudah mengantongi sertifikasi dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tentang Jaran Bodag.

“Kami sudah rapat dengan Dewan Kesenian Kota Probolinggo dan pelaku seni, bisa memasukkan kesenian Jaran Bodag jadi muatan lokal. Anak-anak kecil hingga dewasa membanggakan kesenian lokal aslinya. Bisa dipromosikan ke Jawa Timur atau nasional,” jelas Kepala Disbudpar Tutang Heru Aribowo.

Masuknya Kota Probolinggo sebagai Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), membuat Pemkot Probolinggo akan membangun gedung kesenian lebih representatif sebagai pusat kegiatan seni dan budaya. Taman budaya itu akan berada di kawasan antara kantor, museum dan membangun satu kawasan amphiteater.

Ramah tamah bersama pelaku seni ini dimoderatori oleh Ketua DKKPro Peni Priyono dan narasumber dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, Sa’id. (famydecta/humas)

Para seniman saat ramah tamah dengan Wali Kota Habib Hadi di Bromo Park (Foto: Welly/Humas dan Protokol)

Probolinggo Mayor Hadi Zainal Abidin and Vice Mayor Mochammad Soufis Subri had a meeting with 100 artists of the city on Monday (4/15) at Bromo Park Hotel. In the meeting, the mayor asked the artists not to be carried away by assumptions which stated that in his era of leadership, artists would have no room to work.

“If there is a religious event, I will present hadrah music to perform. Meanwhile, when there are guests from abroad, then they will be greeted with dances. Don’t think this assumption is related. Everything should be on the right place so that all are living together, especially the art in Probolinggo City,” said Habib Hadi.

“Don’t worry about being rid. I love art. We put art in its right place so that the assumptions that have been developed so far should not be consumed (affected),” he continued.

Through the Agency of Culture and Tourism, said Habib Hadi, all events in the city must raise local potential. The mayor wants to develop the potential that exists in this city by inviting artists. Probolinggo city is an extraordinary city which has a port that is one of the doors of tourists.

“What can be served? I can say the local art. Travelers will not return if there is no attraction. Creating this is not as easy as what is said; there must be rules,” he added.

Habib Hadi also confirmed that he was not allergic to any art. “But there must be a proper place. There is no friction as if the government is not concerned with art and culture. Artists must be able to understand the direction of government policy going forward,” said the former member of the Indonesian House of Representatives.

In essence, every government activity must involve the local arts of the city. “It is clear about the government activities that have their respective portions, of course, I won’t be irrespective to the existing arts,” said Habib Hadi again.

The main idea is to involve the community through cultural observers, artists who have competence and credibility. The main idea is as cultural identity, cultural strategy and master plan for cultural progress.

One of the artists, Neri, asked the mayor about specific directions if the dancer’s costume must be green even though they actually have their own costumes according to the character of the dance that was delivered.

Habib Hadi also answered Neri’s anxiety. He said if he did not have more costumes and no time to make costumes, Neri was asked to explain to the committee that he had no time to make it green.

“If you want the color of a different costume to tell the committee, tell them to go far in the day so there is time to make it. But if you have no other costumes, it has been delivered as it is. There are no patent rights in color, just say it, the committee also doesn’t have the right to force it, “said the mayor.

On that occasion, the mayor also discussed the issue of regenerating artists that must continue to be carried out for the sake of cultural development in Probolinggo city. In the era of Habib Hadi and Subri, asking the community and art actors to have the desire to build the city.

In the 10 priority programs, the mayor and vice mayor asked for local content lessons. This has been implemented by the Education Agency (Disdikpora). Besides, Disbudpar has obtained a certification from the Ministry of Culture and Tourism about Jaran Bodag.

“We have had a meeting with the Probolinggo City Arts Council and the performers of the arts, being able to incorporate Jaran Bodag art into local content. Small to adult children boast original local art. It can be promoted to East Java or nationally,” explained Head of Disbudpar Tutang Heru Aribowo.

The fact that Probolinggo city has been included in the Indonesian Heritage City Network (JKPI), made the municipality to build a more representative art gallery as a center for arts and cultural activities. The cultural park will be in the area between the office, the museum and building an amphitheater area.

The meeting with the performers of the art was moderated by the Chairperson of DKKPro Peni Priyono and a guest speaker from the East Java Cultural Heritage Conservation Center, Said.