Deflasi Kota Probolinggo Mencapai 0,29 Persen

image_pdfimage_print

 

Kota Probolinggo tercatat mengalami deflasi sebesar 0,29 persen pada bulan Maret. Sedangkan untuk laju  inflasi, sampai dengan bulan Maret tercatat 0,99 persen.  Hal tersebut terungkap saat rilis di Radio Suara Kota, Kota Probolinggo, Selasa (4/4). 

“Deflasi Kota Probolinggo tertinggi kedua di Jawa Timur, hanya kalah dari Kabupaten Banyuwangi yang mengalami deflasi sebesar 0,20 persen,” kata Dodi Herawadi, kepala Bank Indonesia cabang Malang. 

Deflasi terjadi karena penurunan harga beras, tarif pulsa ponsel, ikan tongkol, daging ayam, cabai merah, cabai rawit, dan lain-lain. Sedangkan untuk komoditas yang menyebabkan terjadinya inflasi adalah tarif listrik, minyak goreng, bawang merah, bensin, dan lain-lain.

Johny Haryanto, Sekretaris Daerah sekaligus Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) mengatakan, ini merupakan prestasi Kota Probolinggo dalam mencapai deflasi sebesar 0,29 persen. “Kita telah mengupayakan berbagai hal, misalnya kemarin kita melakukan program gerakan masyarakat tanam cabai (Gemas Tancap) untuk mencukupi kebutuhan masyarakat,” kata Johny. 

Sedangkan Kasi Statistik dan Distribusi BPS setempat, Moch Machsus menjelaskan di bulan Maret memang banyak komoditas yang menunjang adanya deflasi. “Masuk pada musim panen, jadi beras sebagai kebutuhan pokok tercukupi,” katanya. Pada bulan Maret juga, nelayan sudah bisa melaut dengan normal dan menghasilkan tangkapan yang banyak.

Untuk penyumbang inflasi terbesar adalah tarif listrik yang naik. Endang, perwakilan dari PLN berkilah bahwa PLN tidak menaikkan tarif listrik. “Hal itu karena, mulai Januari, pemerintah mulai mengurangi subsidi untuk pelanggan mampu secara bertahap, dan itu akan berlaku sampai bulan Mei,” terangnya. 

Terakhir, Johny mengimbau kepada instansi terkait untuk selalu inspeksi pasar terhadap harga dan jumlah ketersediaan bahan pokok, apalagi telah mendekati bulan puasa. “Hal itu agar bisa terdeteksi, harga yang melonjak naik tidak merembet ke komoditas lain dan tercukupi kebutuhannya, dan kalau bisa kebutuhan untuk bulan puasa dan hari raya dicicil mulai sekarang” katanya. 

Machsus menambahkan deflasi ini merupakan hasil sinergi dari masyarakat dan pemerintah. “Maka dari itu, saya menginginkan masyarakat untuk tidak termakan isu yang dapat mendongkrak naiknya harga,” pesannya. 

Dodi pun mengamini perkataan Machsus, bahwa untuk menjaga inflasi sangatlah membutuhkan partisipasi dari masyarakat. “Konsumsilah sesuai dengan kebutuhan, jangan konsumtif,” katanya. (hariyantiagustina/humas)

 

Probolinggo city is recorded to earn deflation rate at 0,29% in March. And for the inflation in the same month is recorded at 0,99%. This number was revealed by the release held at Suara Kota Radio FM, Tuesday (4/4).

“Deflation of Probolinggo city is the second highest in East Java while Banyuwangi is the highest one which is recorded to have 0,20% deflation,” said Dodi Herawadi, the head of Bank Indonesia of Malang.

Deflation is occurred due to any price reduction on rice, cell-phone pulse tariff, chicken, chili, and others. On the other side, commodities that have big influence towards inflation are electricity tariff, cooking oil, onion, gasoline, and others.

Regional Secretary, Johny Haryanto, who is the Chairman of Regional Inflation Control Team (TPID) said that this is an achievement that the city has recorded deflation at 0,29%. “We have made many efforts including to give dissemination to the citizens to plant chili,” Johny said.

Meanwhile, the head of statistic section of local Statistic Center, Noch Machsus explained that in March, there were many commodities causing deflation. “When it gets to harvest season, the needs for rice have been provided,” he said. In early March, the fishermen can sail to the sea as usual and bring home many fish.

The main cause of inflation was the rise of electricity tariff. The representative of electricity company, Endang said that her company has no other choice but to raise the tariff. “That is because the government has revoked the subsidy for the customer gradually, and it will go on until May,” she said.

Then, Johny urged to related institutions to always do a market inspection related to the price and the number of groceries stock. “The action is made to prevent any rising price of commodities to affect another one, and we have also to think about commodities needed in fasting month which is coming soon,” he said.

Machsus added that the deflation is the result of synergy between the citizens and the government. “Therefore, I’d like to remind the citizens to not to be so easy in receiving any rumors of rising price,” he said.

Dodi agreed Machsus’ statement. He said that in order to keep the inflation, participation of the citizens is needed. “Consume based on your daily need, don’t be consumptive,” he said. (translator:alfienhandiansyah)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.