Emak-Emak Harus Tanggap Bencana

Petugas BPBD dan PMI menyelamatkan korban bencana (Foto:Agus/Humas dan Protokol)
image_pdfimage_print

KADEMANGAN – Salah satu ruangan di Rusunawa Semeru, Kecamatan Kademangan mengalami kebakaran. Warga panik berhamburan keluar rusunawa di Jalan Semeru itu. Dua warga menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Seorang warga menghubungi UPT Rumah Susun, kemudian menelpon layanan darurat 112. Tidak lama kemudian petugas Damkar, BPBD, kelurahan, Babinkamtibmas, Babinsa, Tagana, dan Palang Merah Indonesia (PMI) langsung meluncur ke lokasi kejadian.

Dengan sigap petugas berbagi tugas menyelamatkan penghuni rusunawa. Petugas Damkar dibantu warga berusaha memadamkan api yang terus melalap bagian rusunawa.

Beginilah gambaran simulasi yang dilaksanakan petugas gabungan 112 dengan warga Rusunawa Semeru, Jumat (26/4). Simulasi ini merupakan imbauan serentak se-Indonesia dalam rangka hari kesiapsiagaan.

“Simulasi ini diharapkan bisa membangun kesadaran masyarakat terhadap bencana dan cara mengantisipasinya. Selamatkan diri sendiri dan siaga bencana dimulai dari disi sendiri, keluarga dan komunitas,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo, Prijo Djatmiko.

Simulasi bencana ini juga dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan menumbuhkan budaya sadar bencana. Di rusunawa, menurut Prijo, sudah ada kelengkapan untuk mengantisipasi bencana seperti kebakaran.

“Seperti hydrant dan alarm. Ini merupakan pencegahan. Kami juga melakukan sosialisasi kepada warga rusunawa agar lebih paham apa yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran,” ujarnya.

Jika terjadi kebakaran di lingkungan sekitar, Prijo menginformasikan, untuk kebakaran seperti kompor bisa menyiapkan karung goni basah untuk tindakan awal. Apabila disebabkan konsleting listrik harus memanggil call center 112. “Segera kontak itu. Kalau menangani sendiri jelas akan membahayakan diri kita sendiri,” imbuh mantan Kabag Humas dan Protokol ini.

Sementara itu, Wawali Mochammad Soufis Subri yang menyaksikan simulasi ini berharap masyarakat memahami manajemen kebencanaan karena setiap bencana punya cara penanganan yang berbeda-beda. Setelah mengetahui manajemen resikonya, diharapkan bisa menekan angka korban bencana.

“Saya juga berpesan kepada para emak-emak, ibu-ibu. Karena emak-emak adalah sentra kegiatran di rumah tangga. Harus tenang saat terjadi bencana. Saat ibu tenang, insyaallah keluarga lebih terselamatkan,” imbuh Subri. (famydecta/humas)