Humas-Protokol Gelar Media Gathering di Banyuwangi

image_pdfimage_print

BANYUWANGI – Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kota Probolinggo kembali menggelar media gathering, untuk para jurnalis yang berwilayah liputan di Pemerintah Kota Probolinggo. Media gathering kali ini merupakan kali pertama di masa kepemimpinan Wali Kota Hadi Zainal Abidin – Wawali Mochammad Soufis Subri.

Media gathering dengan mengangkat tema “Sinergi Humas dan Media dalam Pembangunan Daerah” ini diikuti 53 jurnalis. Terdiri dari media cetak dan media elektronik (televisi dan online). Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Senin – Selasa (29-30/4) di Banyuwangi, Jawa Timur.

“Kegiatan ini sudah ketiga kalinya. Tahun 2017 lalu kami adakan di Batu dan tahun 2018 di Surabaya. Sekarang, kami pilih Banyuwangi karena seperti yang kita tahu, publikasi Pemkab Banyuwangi sangat luar biasa masif. Dan, ini yang ingin kami pelajari disini bersama teman-teman jurnalis tentunya,” kata Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo, Mardi Prihatini.

Senin (29/4) malam, para jurnalis diajak ke Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Di sanggar tersebut, rombongan Wali Kota Hadi Zainal Abidin; Wawali Mochammad Soufis Subri, Ketua DPRD Agus Rudianto Ghaffur bersama Wakil Ketua DPRD Mukhlas Kurniawan dan Roy Amran serta sejumlah pejabat dan jurnalis disambut kesenian Barong, hingga masuk ke dalam sanggar.

Di dalam sanggar, mereka dipertontonkan bagaimana para si Mbah memainkan alat musik lesung. Di sebelahnya ada aktivitas menggoreng kopi. Wali Kota Habib Hadi pun mencoba sensasi menggoreng kopi di hadapan para undangan.

Pemilik Sanggar Genjah Arum, Iwan Subekti, ikut menjelaskan tentang aktivitas apa saja yang ada di dalam sanggarnya. Undangan pun disuguhkan berbagai menu khas jajanan khas Banyuwangi yang fresh from the oven. Ada kucur, pisang goreng, ketela goreng dan yang khas adalah Kopai Osing. Kopi dari pegunungan ijen yang disajikan khusus oleh Iwan.

Disambut Bupati Banyuwangi

Usai makan malam, dilanjutkan menonton kesenian sanggar. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas juga datang di Sanggar Genjah Arum.

Saat menyampaikan sambutan singkatnya, kepada Bupati Azwar Anas, Wali Kota Habib Hadi mengutarakan kunjungan bersama para jurnalis agar bisa menghasilkan suatu hal yang terbaik untuk Kota Probolinggo. Salah satunya belajar dari Banyuwangi yang sukses mengembangkan sektor pariwisata.

“Kami minta Pak Bupati memberikan gambaran, bagaimana cara mengangkat pariwisata di Banyuwangi. Karena saya lihat semua kesenian dan budayana hidup. Kota Probolinggo juga ada tarian, seni dan budaya, tapi kami ingin lakukan lebih baik ke depannya,” tutur Habib Hadi.

Kota Probolinggo dijelaskan Habib Hadi terletak di tengah-tengah antara Surabaya dan Banyuwangi. “Kami ingin bisa mengikuti jejak Banyuwangi. Menimba ilmu bagaimana kerjasamanya dengan pemberitaan, agar kami dan para jurnalis bisa bekerja sama lebih baik lagi,” imbuhnya.

Sementara Bupati Banyuwangi dua periode itu mengungkapkan, dibandingkan Kota Probolinggo, Banyuwangi punya jarak tempuh yang lebih jauh. Dilihat dari strategisnya, Azwar Anas mengakui Kota Probolinggo lebih strategis karena memiliki Gunung Bromo dan akses yang baik.

Selama tujuh tahun, Azwar Anas mengaku telah bekerja keras bersama masyarakat Banyuwangi untuk menjadikan Banyuwangi lebih ramah dan bersih. Ia pun menciptakan banyak festival dan mengembangkan desa wisata termasuk Desa Kemiren, desa yang menyajikan local culture yang dikunjungi oleh jurnalis Kota Probolinggo.

Bupati Azwar Anas punya kebijakan melarang hotel melati berkembang di Banyuwangi. Ia hanya mengizinkan hotel bintang 3 ke atas, karena ia ingin menjadikan Banyuwangi bukan sebagai daerah transit tetapi destinasi.

“Komitmen ini butuh kesungguhan. Kalau tidak, di tengah perjalanan kita akan melanggar apa yang sudah kita buat. Di setiap hotel harus ada desain arsitektur yang menunjukkan identitas Banyuwangi. Disini kami mengembangkan homestay agar masyarakat mendapatkan ruang. Menuju kesitu (komitmen) yang penting adalah SDM. Dan, uang bukan segalanya Pak Wali,” jelasnya.

Angka kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara pun terus meningkat setiap tahunnya. Wisatawan lokal dari 5000 meningkat ke 101 ribu, sedangkan mancanegara sebelumnya 600 ribu per tahun sekarang menjadi 5,3 juta. “Hasil ini adalah bagian dari kerja keras rakyat Banyuwangi,” imbuh Anas.

Menurutnya, iklan tentang pariwisata beresiko tinggi jika apa yang diiklankan tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Sebab, pengunjung bisa melakukan penilaian dan di-share ke media sosial dan itu membahayakan.

Yang menarik lagi, Banyuwangi punya konsep eco tourism. Bumi Blambangan ini tidak menjual wisata hiruk pikuk. Hotel yang akan dibangun tidak akan dikeluarkan izinnya jika ada diskotik dan karaoke baru didalamnya.

“Jadi, kami tidak mengeluarkan perda syariah atau lainnya. Yang jadi sasaran kami adalah dari sisi persyaratan mendirikan hotel atau usaha. Waktu itu kami terapkan, kami dikecam oleh pengusaha konvensional bahwa wisata tidak akan tumbuh dengan kebijakan seperti itu. Tetapi, itu kami bantah dengan kondisi sekarang,” katanya.

Ia mencontohkan satu daerah yang pada malam Jumat semua tempat hiburan malam tutup, namun wisata tetap berjalan dengan begitu luar biasa. “Tidak ada korelasi tempat hiburan malam dengan wisata. Ini menguatkan saya mengambil keputusan tidak ingin hiburan hiruk pikuk di Banyuwangi. Tidak ada korelasi tempat hiburan dengan meningkatkan kunjungan wisatawan,” tutur Anas lagi.

Salah satu peserta gathering, M.Sahwan mengaku sangat tertarik dengan kegiatan yang digelar Bagian Humas dan Protokol. “Gatheringnya mengena, langsung terjun di lapangan dan bisa bertukar pengalaman wisata. Kami bisa berinteraksi dengan pelaku usaha,” ujar jurnalis TVone itu. (famydecta/humas)

The Public Relations and Protocol Department of the Probolinggo City Regional Secretariat again held a media gathering, for journalists of which coverage area are in the Probolinggo Municipality. This media gathering was the first time in the leadership of Mayor Hadi Zainal Abidin – Vice Mayor Mochammad Soufis Subri.

Media gathering with the theme “Synergy of Public Relations and Media in Regional Development” was followed by 53 journalists consisting of printed media and electronic media (television and online). The activity lasts for two days, Monday – Tuesday (29-30 / 4) in Banyuwangi, East Java.

“This activity is the third time. In 2017 we held in Batu and 2018 in Surabaya. Now, we choose Banyuwangi because as we know, the Banyuwangi publications are extremely massive. And, this is what we want to learn here with our journalist,” said the Head of Public Relations and Protocol of the Probolinggo City Secretariat, Mardi Prihatini.

Monday (29/4) night, the journalists were invited to the Genjah Arum Studio, Kemiren Village, Glagah District, Banyuwangi. At the studio, Mayor Hadi Zainal Abidin; Vice Mayor Mochammad Soufis Subri, Chairperson of the DPRD Agus Rudianto Ghaffur together with Deputy Chairperson of the DPRD Mukhlas Kurniawan and Roy Amran and a number of officials and journalists were welcomed by Barong arts, to enter the studio.

In the studio, they were shown how the elderly people played a dimple musical instrument. Mayor Habib Hadi also tried the sensation of frying coffee in front of the invitees.

The owner of the Genjah Arum Studio, Iwan Subekti, also explained what activities are in his studio. Invitations were also presented with a variety of typical Banyuwangi snacks that were fresh from the oven. There were kucur, fried bananas, fried cassava and the typical one is Osing Kopai, a type of coffee from the Ijen Mountains which is specially presented by Iwan.

 

Welcomed by the Regent of Banyuwangi

After dinner, the event was continued by watching studio art. Banyuwangi Regent Abdullah Azwar Anas also arrived at the Genjah Arum Studio.

When delivering his short speech, to the Regent Azwar Anas, Mayor Habib Hadi expressed a visit with the journalists was in order to produce the best thing for Probolinggo city. One of them is to learn from Banyuwangi which successfully developed the tourism sector.

“We ask the Regent to give an overview, how to lift tourism in Banyuwangi because I see all the arts and culture of life. Probolinggo city also has dance, art, and culture, but we want to do it better in the future,” said Habib Hadi.

Probolinggo city, said Habib Hadi, is located in the middle between Surabaya and Banyuwangi. “We want to be able to follow the footsteps of Banyuwangi. To learn how to cooperate with the news, so that we and the journalists can work together better,” he added.

Meanwhile, the two-period of Banyuwangi Regent revealed, compared to Probolinggo city, Banyuwangi had a longer distance. Judging from its strategy, Azwar Anas acknowledges that Probolinggo City is more strategic because it has Mount Bromo and good access.

For seven years, Azwar Anas claimed to have worked hard with the Banyuwangi community to make Banyuwangi more friendly and clean. He also created many festivals and developed tourist villages including Kemiren Village, the village which presents a local culture visited by journalists from Probolinggo city.

 

Regent Azwar Anas has a policy of banning jasmine hotels from developing in Banyuwangi. He only allows 3-star hotels and above, because he wants to make Banyuwangi not as a transit area but as a destination.

“This commitment needs commitment. Otherwise, in the middle of our journey, we will violate what we have made. In each hotel, there must be an architectural design that shows Banyuwangi’s identity. Here we develop a homestay so that people get to space. Towards that (commitment) that is important is HR. And, money is not everything,” he explained.

The number of visits of local and foreign tourists continues to increase every year. Local tourists from 5000 increased to 101 thousand, while overseas previously 600 thousand per year now became 5.3 million. “These results are part of the hard work of the Banyuwangi people,” Anas added.

According to him, advertising about tourism is at high risk if what is advertised is not in accordance with the actual conditions because visitors can make an assessment and share it on social media and it is dangerous.

Interestingly, Banyuwangi has the concept of eco-tourism. Bumi Blambangan does not sell frenzied tourism. The hotel that will be built will not have a permit if there are new discos and karaoke inside.

“So, we do not issue sharia regulations or anything else. What became our target was in terms of the requirements for establishing a hotel or business. At that time we applied, we were criticized by conventional businessmen that tourism would not grow with such a policy. But, we argue with the current conditions,” he said.

He gave an example of one area that on Friday night all nightclubs were closed, but tourism still went on so extraordinary. “There is no correlation between nightclubs and tours. This convinces me to make a decision not to have frenzied entertainment in Banyuwangi. There is no correlation between entertainment venues and increasing tourist visits,” Anas said again.

One of the gathering participants, M. Shahwan claimed to be very interested in the activities held by the Public Relations and Protocol Department. “The gathering immediately jumped in the field and could exchange tourist experiences. We can interact with business people,” said the TVone journalist.