Lagi, Pemkot Manfaatkan Limbah Tahu untuk Biogas

Wali Kota Habib Hadi melakukan penandatanganan diresmikannya instalasi biogas limbah tahu (Foto: Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

WONOASIH – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo kembali membangun instalasi biogas untuk pengelolaan limbah pabrik tahu yang ada di Kota Probolinggo. Sabtu (4/5) pagi, tepatnya di pabrik tahu “Asri” milik Sholihin, Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih. Peresmian instalasi biogas limbah tahu dan penandatanganan prasasti dilakukan Wali Kota Probolinggo, Habib Hadi Zainal Abidin.

Nampak hadir dalam peresmian tersebut, Wakil Wali Kota Probolinggo, Mochammad Soufis Subri, para asisten, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta camat dan lurah setempat. Kepala DLH Budi Krisyanto mengungkapkan, pembangunan instalasi biogas di pabrik tahu Asri merupakan tindaklanjut keberhasilan kegiatan serupa di dua pabrik lainnya. Yakni pabrik tahu Prona di Kelurahan Kedung Asem dan pabrik tahu Sumber Baru di Kelurahan Jrebeng Kidul.

Menurutnya, salah satu pertimbangan utama dibangun instalasi limbah tahu di pabrik tahu asri ini adalah tempat pabrik berhadapan langsung dengan sungai. Dan, berdampingan dengan lembaga pendidikan. Sehingga upaya untuk mengendalikan limbah tahu ini sangat penting dan strategis.

Budi Kris -sapaan akrabnya- juga menjelaskan, melalui program ini, limbah tahu menjadi biogas. Dengan kapasitas produksi rata-rata 1000-1200 kg per hari, menghasilkan biogas 70 M3 per hari. Saat ini, limbah pabrik tahu Asri ini bisa menyuplai kebutuhan gas yang dimanfaatkan sebanyak 33 rumah warga. Nantinya, kebutuhan gas yang dimanfaatkan berpotensi akan berkembang sampai 70 rumah warga.

Masyarakat sekitar pabrik yang menerima manfaat dari biogas ini dijelaskan, bisa menghemat pemakaian elpiji 3 kg. Jadi hanya sekitar 3 tabung gas per bulan. Jadi, setiap rumah tangga bisa mengurangi pengeluaran sebesar Rp 630.000 per tahun.

”Saya berharap, kepada warga yang menerima manfaat dari biogas ini, bisa membentuk kelompok swadaya masyarakat. Sehingga, program ini bisa terus berkembang dan kualitas lingkungan hidup terus bestari. Kedepannya, Kota Probolinggo mempunyai kualitas hidup semakin berkualitas.Sehingga, kualitas semakin meningkat akan menjadi sebuah Kota yang berdaya saing, yang akan berpotensi mendatangkan orang untuk singgah di Kota Probolinggo. Dan, bisa menggerakkan potensi Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada di Kota Probolinggo,”ujar Budi.

Sementara itu, Wali Kota Habib Hadi Zainal Abidin menyampaikan, akan terus mendorong ha-hal yang positif seperti ini. Untuk mengurangi pencemaran lingkungan. “Mudah-mudahan kedepannya bisa bertambah dan bisa berkembang. Sehingga, masyarakat sekitar pabrik bisa mendapatkan manfaat dari biogas ini. Saya berharap, kepada warga untuk bisa bekerjasama dengan Pemerintah untuk mengembangkan dan meningkatkan program Pemerintah Kota,”harap Habib Hadi. (noviati/humas)

Habib Hadi mencoba menggoreng menggunakan biogas limbah tahu (Foto: Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Probolinggo City Environmental Agency (DLH) again built a biogas plant for the management of tofu factory waste. Saturday (4/5) morning, at the tofu factory “Asri” owned by Sholihin, Jrebeng Kidul Village, Wonoasih District, the inauguration of the tofu biogas installation and the signing of an inscription were carried out by Probolinggo Mayor, Habib Hadi Zainal Abidin.

The Head of DLH Budi Krisyanto revealed, the construction of a biogas plant at tofu factory Asri was a follow-up to the success of similar activities in two other factories including tofu factory Prona in Kedung Asem Sub-district and Sumber Baru in Jrebeng Kidul Sub-district.

According to him, one of the main considerations for the construction of a waste tofu installation in the tofu factory is the one directly facing the river. And, near to educational institutions so that efforts to control tofu waste are very important and strategic.

Budi Kris also explained, through this program, tofu waste becomes biogas. With an average production capacity of 1000-1200 kg per day, it produces biogas 70 M3 per day. At present, tofu factory Asri can supply gas needs that are utilized by 33 houses surrounding the factory. Later, gas production will potentially develop and be utilized by 70 houses.

The community around the factory who receives the benefits of biogas is explained, can save the use of 3 kg LPG so that they only need 3 gas cylinders per month. So, each household can reduce expenditure by Rp. 630,000 per year.

“I hope that people who receive benefits from biogas can form community self-help groups so that this program can continue to grow and environmental quality continues to be the best. In the future, Probolinggo city has a higher quality of life. Thus, as quality increases, the city will become a competitive one, which will potentially bring people to visit Probolinggo city. And, it can move the potential of Small and Medium Enterprises (SMEs) in the city,” Budi said.

Meanwhile, Mayor Habib Hadi Zainal Abidin said that he would continue to encourage positive things alike to reduce environmental pollution. “Hopefully in the future, it can increase and be developed so that the community around the factory can benefit from this biogas. I hope that the people can cooperate with the Government to develop and improve the municipal program,” Habib Hadi hoped.