Wali Kota Habib Hadi dan Wawali Subri saat menemui pengurus TITD Sumber Naga, Senin (20/5). (foto: Welly Sujono/bagian humas dan protokol)
image_pdfimage_print

KANIGARAN – Kebakaran hebat yang melanda Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD) Sumber Naga di Kota Probolinggo, Jumat (17/5) lalu mendapat perhatian dari pemerintah kota setempat. Rencananya, bakal dibuat kajian terkait kewajiban pemerintah kota atas kejadian yang menimpa cagar budaya berusia 154 tahun itu.

Hal itu disampaikan Wali Kota Hadi Zainal Abidin dan Wawali Mochammad Soufis Subri saat menemui pengurus TITD Sumber Naga, Ketua Umum Adi Sutanto Saputro dan Ketua II Erfan Sujianto, Senin (20/5) siang, di Ruang Transit Wali Kota.

“Kedatangan kami kesini, untuk mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Probolinggo, khususnya Pak Wali dan Pak Wakil. Karena sudah sangat responsif, kami mendapat perhatian. Dan, kami ingin meminta saran apa yang harus kami lakukan selanjutnya,” ujar Erfan Sujianto.

Terkait penyebab kebakaran, kata Erfan, pihaknya masih belum mendapatkan hasil dari pihak kepolisian. “Jadi, kami belum bisa memberi keputusan apa-apa. Karena belum diketahui sebab dari kebakaran tersebut,” imbuhnya.

Wali Kota Habib Hadi menjelaskan, karena klenteng masuk dalam satu dari sekian banyak cagar budaya Kota Probolinggo, maka pihaknya bakal menyiapkan langkah yang tepat. Yakni, melakukan kajian melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di internal Pemkot Probolinggo.

“Kita diskusi lagi nanti dengan hasil kejadian yang ada. Karena cagar budaya, maka pemerintah punya kewajiban disitu. Mudah-mudahan ada solusi klenteng ini bagaimana mana nantinya sesuai dengan hasil kajian dan aturan yang ada,” tegas Habib Hadi.

Jika dilakukan renovasi, Habib Hadi mengatakan tidak boleh merubah bentuk aslinya. “Soal bahan memang tidak harus sama, karena kayunya kan sudah lama. Makanya kita tunggu kajian dulu ya,” imbuh wali kota.

Usai pertemuan tersebut, Adi Susanto dan pengurus klenteng punya harapan terkait adanya pendanaan dari Pemkot Probolinggo karena yang terbakar adalah cagar budaya. “Kami juga akan menggalang dana dari umat dan klenteng-klenteng se-Indonesia,” tuturnya.

Adi belum bisa memastikan berapa kerugian atau biaya yang dibutuhkan untuk mengembalikan kondisi klenteng seperti sebelumnya. Namun ia memperkirakan dana yang dibutuhkan mencapai Rp 2-3 Miliar. “Kerugian belum bisa dihitung, mungkin sekitaran segitu. Karena membangun klenteng bukan seperti bangun rumah,” imbuh Adi.

Ketika kebakaran terjadi, Wali Kota Habib Hadi langsung datang ke lokasi kejadian dan ikut memadamkan api. Keesokan harinya Wawali Subri pun memantau kondisi pasca kebakaran dan bertemu dengan pengurus klenteng untuk memberikan support. Dan, akhirnya perwakilan klenteng bertemu dengan wali kota dan wawali membahas soal cagar budaya tersebut.  (famydecta/humas)

Kondisi TITD Sumber Naga pasca kebakaran, Jumat (17/5) lalu. (foto; Rahmad/Pantura7.com)

Great fire which struck to Tempat Ibadat Tri Dharma (TITD/worship place) Sumber Naga of Probolinggo city, on Friday (17/5) get an attention of Probolinggo city government. There will some research related to the obligation of Probolinggo city government for the disaster which occur to this 154 years old cultural heritage.

It is said by mayor Hadi Zainal Abidin and vice mayor Mochammad Soufis Subri when they met the board of TITD Sumber Naga, such as the chairman Adi Sutanto, and the second chairman, Erfan Sujianto, on Monday (20/5) at transit room of mayor’s office.

 “Why we came here are to say thank you to Probolinggo city government, especially for mayor and vice mayor for your response and your attention. We ask some suggestion for what we have to do next,” said Erfan Sujianto.

Related to the fire causes, Erfan said that they did not find yet. So we can do nothing because we still do not the cause of the fire,” he added.

Since klenteng includes in one of cultural heritage of Probolinggo city, mayor Habib Hadi explained, so the government will take some action , such as making research through  related working unit of Probolinggo city government.

 “We will discuss it more with the result of it. Since it is cultural heritage, so the government obliged to do something. Hopefully, there are solution on how to act to klenteng related to the research and regulation,” said Habib Hadi.

If klenteng will be renovated, Habib Hadi said that it should not change the original form of klenteng. “It is okay if we use different materials, but the wood of klenteng is very old. So, just wait the result of the research,” added the mayor.

After meeting, Adi Sutanto and the board of klenteng really hoped that renovation will be funded by the government since it is one of cultural heritage. “But we also raise funds from our people and all klenteng of Indonesia,” he said.

Adi does not ensure how much the loss is or the needed fund to make klenteng right before the fire. But he estimated it needs 2-3 billion rupiahs. “The loss cannot be count, but may be around of it (2-3 billion) since constructing klenteng is not the same to construct a house,” added Adi.

When the fire occurred, mayor HAbib Hadi  directly came to the location  and put out the fire. The next day, vice mayor Subri monitored the condition after the incident and met the board of klenteng to give them support. And finally, the representatives of klenteng come to meet mayor and vice mayor to discuss on next action for this cultural heritage.