Kota Probolinggo Bersiap Penilaian KLA

Wali Kota Hadi Zainal Abidin menggelar rapat koordinasi (rakor) gugus tugas layak anak dalam rangka persiapan versikasi lapangan bersama seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo. (Foto : Rizal Al Karimi/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KANIGARAN – Kota Probolinggo tengah bersiap menghadapi penilaian Kota Layak Anak (KLA) 2019. Besok malam (25/5), tim penilai KLA dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sudah tiba di Kota Probolinggo. Verifikasi lapangan bakal dilaksanakan mulai Minggu (26/5) hingga Senin (27/5) mendatang.
Jumat (24/5) siang, Wali Kota Hadi Zainal Abidin menggelar rapat koordinasi (rakor) gugus tugas layak anak dalam rangka persiapan versikasi lapangan. Rakor tersebut dihadiri oleh seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo.

Diketahui, tahun lalu Kota Probolinggo telah meraih penghargaan KLA Pratama. Dan, tahun ini penilaian mandiri sudah dilaksanakan oleh tim Kementerian PPPA. Kota Probolinggo mendapatkan nilai 736,25. Dari nilai ini dapat bertambah atau berkurang tergantung dari hasil verifikasi lapangan oleh tim penilai.

Sejumlah titik pantau verifikasi lapangan KLA 2019 antara lain kampung ramah anak RW 3 Kelurahan Jrebeng Wetan; taman bermain ramah anak TWSL dan Taman Maramis; panti asuhan anak NU; mal pelayanan publik; kelana (kecamatan layak anak); dekelana (desa/kelurahan layak anak) Kelurahan Pilang; sekolah ramah anak; puskesmas ramah anak dan command center.

“Siapkan segala sesuatunya dengan baik, sesuai apa yang dimasukkan dalam verifikasi mandiri melalui web Kementerian PPPA. Jangan sampai tidak siap dan apa yang disampaikan ke kementerian tidak sesuai dengan fakta,” kata Habib Hadi.

Menurutnya, kunci keberhasilan dari program KLA di Kota Probolinggo tidak luput dari komitmen antara OPD, masyarakat dan dunia usaha dalam melaksanakan lima kluster KLA dan penguatan kelembagaannya.

Lima kluster yang dimaksud adalah kluster hak sipil dan kebebasan; lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; kesehatan dasar dan kesejahteraan; pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya, perlindungan khusus; dan kelembagaan yang terdiri dari produk hukum dan stakeholder pendukung KLA.

“Sudah siap semua ya? Semua harus saling sinergi dan saling support, melakukan koordinasi mulai dari masyarakat, tingkat kelurahan, kecamatan, OPD penanggung jawab kluster dalam menyiapkan titik pantau. Mudah-mudahan bisa naik dari Pratama menuju Madya atau Nindya dan ke depan betul-betul bisa mewujudkan Kota Layak Anak,” tegas Habib Hadi.

Wakil Wali Kota Soufis Subri saat memantau Command Center yang ada di lingkungan kantor wali kota salah satu tempat yang dipantau oleh tim penilai KLA (Foto : Rizal Al Karimi/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Wawali Pantau Langsung Sejumlah Titik Pantau

Ya, usai menggelar rakor Wawali Mochammad Soufis Subri memilih untuk memantau ke sejumlah lokasi titik pantau yang akan didatangi oleh tim penilai KLA. Bersama Kepala DP3AKB Sukam dan tim gugus tugas layak anak, Subri meluncur ke Command Center yang ada di lingkungan kantor wali kota, kemudian ke Banger Telecenter yang terletak di Kecamatan Wonoasih.

Banger Telecenter masuk dalam kegiatan pendukung KLA, yaitu rumah pintar. Di tempat itu anak-anak dapat mendapatkan pengetahuan dari trainer terkait teknologi dan informasi seperti desain grafis dan lain sebagainya.

Kunjungan kedua ke Kecamatan Kedopok, Wawali Subri melihat kesiapan ruang laktasi. Lalu bergeser ke taman bacaan di Jalan Slamet Riyadi. Di taman bacaan memang kental dengan kebutuhan anak-anak, selain buku ada mandi bola, kuda-kudaan, otopet hingga alat permainan edukatif lainnya.

“Ini (taman bacaan) salah satu media anak-anak mendapatkan informasi sesuai kebutuhan mereka,” ujar Kabid Ekonomi Pembangunan Manusia dan Sosial Budaya Bappeda Litbang Dwi Agustin Pudji Rahaju.

Kelurahan Pilang juga menjadi jujukan Wawali Subri. Kelurahan ini ditunjuk karena sangat memberikan ruang bagi anak-anak untuk terlibat dalam pembangunan daerah, seperti musrenbang dan kegiatan lainnya.

Selain di Kelurahan Pilang, Kecamatan Mayangan jadi lokasi terakhir. Kecamatan Mayangan juga menjadi unsur kelembagaan tambahan yaitu gugus tugas Kecamatan Layak Anak (Kelana).

“80 persen sudah siap menghadapi penilaian. Tinggal 20 persen yang harus dipersiapkan dalam beberapa hari ini sebelum tim penilai berkunjung ke titik pantau. Insyaallah semua sinkron antara yang dilaporkan dan pemaparan (27/5) nanti,” terang Subri, saat ditanya tentang kesimpulannya usai berkunjung ke sejumlah lokasi.

Sementara itu, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AKB, Lucia Aries Yulianti berharap hasil verifikasi lapangan nantinya dapat menambah nilai verifikasi mandiri yang sudah dilakukan oleh tim Kementerian PPPA. “Karena bisa naik dan bisa turun tergantung verifikasi besok ini. Semoga saja bisa naik karena ada beberapa yang belum ditambahkan seperti ULT Penanggulangan Kemiskinan dan Mal Pelayanan Publik,” jelasnya. (famydecta/humas)

Probolinggo city is preparing for the assessment of Child-Friendly City (KLA) 2019. Tomorrow evening (25/5), the KLA assessment team from the Ministry of Women’s Empowerment and Child Protection has arrived in the city. Field verification will be carried out starting on Sunday (26/5) until Monday (5/27).

Friday (5/24) afternoon, Mayor Hadi Zainal Abidin held a coordination meeting for child-friendly task forces in preparation for the field verification. The meeting was attended by all heads of Regional Working Units (OPD) in Probolinggo Municipality.

Last year, the city had received the KLA Pratama award. And, this year an independent assessment has been carried out by the PPPA Ministry team. Probolinggo has managed to score 736.25 points. This score can still be increasing or decreasing depending on the results of field verification by the assessment team.

A number of KLA 2019 field verification monitoring points include the child-friendly village of RW 3, Jrebeng Wetan Sub-district; TWSL child friendly playground and Maramis Park; NU orphanage; public service mall; kelana (child-friendly sub-district); dekelana (child-friendly village / kelurahan) Pilang Village; child-friendly school; child-friendly health center and command center.

“Prepare everything well, according to what was included in the independent verification through the PPPA Ministry website. What is reported to the ministry must be in accordance with the facts, “Habib Hadi said.

According to him, the key to the success of the KLA program in the city is the commitment between the working units, the community and the business community in implementing the five KLA clusters and strengthening their institutions.

The five clusters in question are clusters of civil rights and freedoms; family environment and alternative care; basic health and well-being; education, utilization of leisure time and cultural activities, special protection; and institutions consisting of legal products and stakeholders supporting KLA.

“Are you all ready? All must be synergized and support each other, coordinate starting from the community, the village, sub-district, OPD levels in charge of the cluster in preparing monitoring points. Hopefully, we can have a better rank of the award, from Pratama to Madya or Nindya and in the future, it can truly create a Child-Friendly City,” said Habib Hadi.

 Vice Mayor Directly Monitor Some Monitoring Points

After holding a coordination meeting, Vice Mayor Mochammad Soufis Subri chose to monitor a number of monitoring locations to be visited by the KLA assessment team. Together with the Head of DP3AKB Sukam and a number of child task force team, Subri drove to the Command Center in the mayor’s office, then to the Banger Telecentre located in Wonoasih District.

Banger Telecenter is included in KLA support activities, namely smart homes. In that place, children can get knowledge from trainers regarding technology and information such as graphic design and others.

On the second visit to Kedopok District, Vice Mayor Subri checked the readiness of the lactation room before moving to the reading garden on Jalan Slamet Riyadi. In the reading garden, it is indeed what exactly the children need. Besides books and ball baths, piggybacks and other educational games are available there.

“This (reading garden) is one of the children’s media to get information according to their needs,” said Head of the Economics of Human and Socio-Cultural Development division of the Regional Development Planning and Research (Bappeda) Agency, Dwi Agustin Pudji Rahaju.

Pilang Sub-District is also a reference to Vice Mayor Subri. This sub-district is one of the destinations since it provides space for children to be involved in regional development, such as development discussion forum (musrenbang) and other activities.

“80 percent are ready for the assessment. Only 20 percent must be prepared in a few days before the assessment team visits the monitoring points. God willing, all will be synchronous between the report and presentation (5/27) later,” explained Subri, when asked about his conclusion after visiting a number of locations.

Meanwhile, Head of Children Protection division of Women Empowerment, Children Protection, and Family Planning (DP3AKB) Agency, Lucia Aries Yulianti hopes that the results of field verification will later add to the value of independent verification that has been carried out by the PPPA Ministry team. “It depends on tomorrow’s verification. Hopefully, it can go up because there are some that have not been added like Poverty Reduction ULT and Public Service Malls,” she explained.