Tim Penilai Terkesan Komitmen Kepala Daerah

Wawali Subri saat mendampingi tim penilai berkunjung ke titik pantau Taman Maramis, Minggu (26/5). Sebelumnya tim penilai berkunjung ke kampung wisata benteng dan kampung ramah anak. (foto: famy decta/humas dan protokol)
image_pdfimage_print

MAYANGAN – Verifikasi lapangan penilaian Kota Layak Anak (KLA) dimulai hari ini (26/7) pagi. Tim penilai sudah berkeliling ke sejumlah titik pantau di hari pertamanya. Kota Probolinggo pun mendapatkan catatan khusus dari tim penilai Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA).

“Kota Probolinggo mendapat catatan khusus. Yaitu, komitmen wali kota dan wakil wali kota. Kepala daerahnya yang begitu luar biasa. Harus diacungi jempol. Saya tadi lihat cair sekali dengan isu tentang layak anak. Suatu sinergi luar biasa yang membuat Kota Probolinggo semakin maju dalam hal layak anak,” tegas Tim Ahli KLA Kementerian PPPA, Taufiq Uwaidah.

Hal itu disampaikan Taufiq setelah ia mendatangi empat titik pantau. Kunjungan tim verifikasi lapangan KLA dibagi menjadi dua, Taufiq Uwaidah dan Yosi Diani Tresna. Tim satu (Taufiq) berkunjung ke Taman Baca, Kampung Benteng, Kampung Ramah Anak (KRA) Wiroborang dan Taman Maramis. Sedangkan tim dua ke TWSL, Jati Kampung Seni, KRA Jrebeng Weran, Suara Kota dan Gedung Kesenian. Selama kunjungan mereka didampingi Bappeda Litbang dan DP3AKB serta pihak terkait.

Saat ditanya hasil kunjungan verifikasinya, tim penilai mengaku secara umum ada peningkatan. Karena dua tahun sebelumnya, saat verifikasi KLA, Taufiq juga yang bertugas di Kota Probolinggo. Selama disini, tim sekilas akan melihat hal-hal terkait dengan layak anak dan ramah anak.

“Ada apa ga iklan rokok, bersih atau engga. Jalan-jalan ke taman menemukan hal yang beresiko dan membahayakan anak-anak atau engga. Itu hal yang secara visual kami lihat. Lihat secara fisik lalu nengok sebentar tanya beberapa hal,” ujar Taufiq.

Terkait dengan diskusinya dengan kelompok masyarakat, kata Taufiq, ia menilai sudah ada gregetnya. Banyak sekali kampung dan komunitas di Kota Probolinggo yang didorong untuk ramah anak.

“Itu upaya bagus. Terlepas dari sekarang seperti apa kondisinya, karena memang harus ada proses. Dari situ kami bisa evaluasi dari waktu ke waktu, apa ada kekurangan, apa ada perbaikan tidak di Kota Probolinggo,” ujar tim ahli yang sudah menilai 12 daerah di Indonesia ini.

Terkait apakah kota ini sudah memenuhi indikator dan capaian, Taufiq belum bisa berkomentar banyak. Pasalnya, ia harus membandingkan antara verifikasi mandiri dengan apa yang ada di lapangan.

Yang jelas, program pemerintah ini bukan hanya mengejar predikat dan penghargaan KLA. Namun yang paling penting, lanjut Taufiq, adalah bagaimana effort dan komitmen yang kuat untuk melayani, memenuhi dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Karena itu sudah menjadi mandat bagi pemerintah daerah sesuai pasal 21 UU Nomor 35 tahun 2014, bahwa pemerintah daerah harus mendukung kebijakan pusat tentang perlindungan anak dan mewujudkan layak anak.

Semakin tahun peserta yang mengikuti KLA sangat banyak dan kementerian pun mulai kerepotan untuk menentukan siapa yang layak dan tidak. Tim ahli hanya melakukan verifikasi dan pelaporan, penentuan siapa yang lolos adalah kewenangan eselon 1 dan 2 di Kementerian PPPA dan Menteri PPPA.

“Kesan saya terhadap Kota Probolinggo, jelas sekali komitmen wali kota dan wakil wali kota bagus. Keinginan beliau dalam memajukan anak itu mengemban fungsi strategis. Dan, beliau (wawali) benar, anak-anak ini adalah masa depan kita. Itu sangat mengesankan,” tutur Taufiq saat ditanya kesannya selama kunjungan lapangan.

Sementara itu, Wawali Mochammad Soufis Subri memang memberikan pendampingan kepada tim penilai KLA. Ia pun mengikuti tim penilai blusukan ke semua titik pantau. Subri – sapaan akrabnya- juga kerap memberikan penjelasan ketika tim penilai menanyakan informasi.

“Kami sebagai pimpinan daerah berharap kepada tim untuk bisa memberi masukan sehingga kita bisa berbenah. Dan, kami berharap tidak hanya capaian secara nilai tapi masukan beliau-beliau ini menjadi acuan kami dan seluruh OPD agar punya komitmen yang sama. Bagaimana konsep layak anak bisa dirasakan, teraplikasi. Itu yang terpenting bagi kami dan membutuhkan kerjasama serta sinergitas semua pihak,” jelas Subri.

Selain itu, bagi Subri, komitmen layak anak sifatnya harus continue. Sebagus apapun, teraplikasi dengan baik tetapi tidak continue akan menjadi hambatan.

“Kami berupaya mempertahankan Kota Probolinggo sebagai Kota Layak Anak. Karena anak adalah result sumber daya manusia yang membangun Indonesia ke depan dan Kota Probolinggo, khususnya. Oleh karena itu kami berupaya menjadikan anak-anak di kota ini bisa membawa Kota Probolinggo lebih baik,” jelasnya, saat ditemui di Taman Maramis.

Kunjungan tim verifikasi hari ini dipuncaki dengan bertemu Forum Anak Kota Probolinggo. Senin (27/5) tim akan melanjutkan kunjungan lapangan ke Kelurahan Layak Anak (Kelana) Kedopok, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Probolinggo Kota, Lembaga Kesejahteraan Keluarga, Command Center/layanan 112, Kelana Pilang, Mal Pelayanan Publik, Banger Telecenter, ULT Penanggulangan Kemiskinan. Setelah tim menyusun hasil evaluasi, akan pertemuan dengan kepala daerah. (famydecta/humas)

Field verification assessment of Child Friendly City (KLA) starts today (7/26) morning. The assessment team had visited a number of monitoring points on the first day. Probolinggo city also received a special note from the assessment team of the Ministry of Women Empowerment and Children Protection (KPPA).

” Probolinggo received a special note. Among others are the commitment of the mayor and vice mayor. The head of the region is so extraordinary. We must give them thumbs up. I can see myself how they mastered the issue of child friendly. An extraordinary synergy that makes the city increasingly advanced in terms of child friendly,” said the KLA Expert Team of the PPPA Ministry, Taufiq Uwaidah.

This was conveyed by Taufiq after he visited four monitoring points. The visit of the KLA field verification team was divided into two, Taufiq Uwaidah and Yosi Diani Tresna. Team one (Taufiq) visited the Reading Park, Kampung Benteng, Child-Friendly Village (KRA) Wiroborang and Maramis Park. The second team went to TWSL, Jati Kampung Seni, KRA Jrebeng Weran, Suara Kota Radio Station and Gedung Kesenian. During the visit they were accompanied by Regional Development and Planning Agency (Bappeda Litbang) and Agency of Women Empowerment, Child Protection, and Family Planning (DP3AKB) and related parties.

Related with the results of the verification visit, the assessment team admitted that in general there was an increase. In the last two years, during the KLA verification, Taufiq was also in charge to assess  Probolinggo city. During the visit, the team will monitor things related to child friendly.

“We should see whether there is cigarettes advertisement. Travel to the park to find things that are risky and dangerous for children. That’s what we see visually. We look physically for a moment and ask a few things,” Taufiq said.

Regarding his discussion with community groups, Taufiq said, he considered that there was a message. Many villages and communities in the city are encouraged to be child-friendly.

“That’s a good effort regardless of what the conditions are now, because there must be a process. Then we can evaluate from time to time whether there are any shortcomings or improvements made in the city,” said the expert team who have assessed 12 regions in Indonesia.

Regarding whether the city has met the indicators and achievements, Taufiq has not been able to comment much because he must compare between independent verification with what is in the field.

What is clear, this government program is not just pursuing the KLA predicate and award. But the most important thing, Taufiq continued, is how strong effort and commitment to serve, fulfill, and provide the best for children. It has been a mandate for the regional government in accordance with Article 21 of Law Number 35 of 2014, stating that regional governments must support the central policy on child protection and create child-friendly cities.

More and more participants who participated in the KLA were very numerous and the ministry began to struggle to determine who was worthy and not. The expert team only conducts verification and reporting, determining who passes is the authority of echelon 1 and 2 in the PPPA Ministry and PPPA Minister.

“My impression of the City of Probolinggo, clearly the commitment of the mayor and vice mayor is good. His desire to advance the child carries out a strategic function. And, he (wawali) is right, these children are our future. That was very impressive, “Taufiq said when asked about his impression during the field visit.

Meanwhile, Vice Mayor Mochammad Soufis Subri did provide assistance to the KLA assessment team. He also followed the assessment team to all monitoring points. Subri – his nickname – also often provides explanations when the assessment team asks for information.

“We as regional leaders hope that the team can provide input so that we can improve. And, we hope that not only is the achievement of value, but his input-he is a reference for us and all OPDs to have the same commitment. How can the concept of child worthiness be felt, applied. That is the most important for us and requires cooperation and synergy of all parties, “explained Subri.

In addition, for Subri, the children’s proper commitment must continue. No matter how good it is, it is applied well but it does not continue to become an obstacle.

“We are trying to defend the City of Probolinggo as a Child-Friendly City. Because children are the result of human resources that build Indonesia in the future and the City of Probolinggo, in particular. Therefore, we strive to make children in this city able to bring the City of Probolinggo better, “he explained, when met at Maramis Park.

Today’s verification team visit was topped up by meeting the Probolinggo City Children’s Forum. Monday (27/5) the team will continue the field visit to Kedopok Child Friendly Village (Kelana), Women’s and Children’s Protection Unit (UPPA) City Probolinggo Police, Family Welfare Institution, Command Center / service 112, Kelana Pilang, Public Service Mall, Banger Telecentre, Poverty Reduction ULT. After the team has compiled the results of the evaluation, it will be a meeting with the regional head