Akses Sanitasi Layak Mencapai 92,27 Persen

Wawali saat membongkar jamban yang berada diatas sungai (foto: Rifki K I/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KADEMANGAN – Merubah masyarakat untuk memiliki Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pemerintah. Beruntung di Kota Probolinggo, banyak stakeholder yang peduli akan permasalahan tersebut.

Seperti acara yang digelar Gempita Asih (Forum Gerakan Masyarakat Peduli Sanitasi dan Air Bersih) bersama USAID IUWASH dan Dinas Kesehatan, Jumat (28/6) pagi di Jalan Soekarno Hatta, Gang Gayam, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan.

Kegiatan bertajuk Nyangkruk Bareng Petinggi Kota “Harapan akan air mium dan sanitasi layak di Kota Probolinggo” itu diawali dengan pembongkaran satu jamban di atas sungai oleh Wakil Wali Kota Probolinggo Mochammad Soufis Subri.

Juga dilaksanakan penandatanganan komitmen bersama oleh kepala daerah, camat dan lurah menuju Kota Probolinggo yang ODF (open defecation free) atau tidak BAB di sembarang tempat.

Ketua Gempita Asih, Imam Suliono menyatakan, kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk dorongan kepada pemerintah dan memotivasi masyarakat mempunyai sanitasi yang layak dan air minum yang sehat.

“Kami ingin mengajak semuanya, menjadi titik awal ke depan dalam mewujudkan sanitasi dan air minum yang layak. Sehingga masyarakat Kota Probolinggo sehat dan berdaya,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, sanitasi berhubungan dengan buang air besar (BAB) yang sehat. Akses sanitasi yang baik dan sehat di Kota Probolinggo mencapai 92,27 persen. Tetapi, masih ada 7,7 persen masyarakat yang masih BAB sembarangan. Misalnya dengan metode helikopter (di atas sungai) dan di ladang. Tahun ini Kota Probolinggo menargetkan 100 persen masyarakat wajib ODF.

Dalam sambutannya, Wawali Subri menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada GempitaAsih dan USAID IUWASH Plus yang telah membantu memikirkan masalah di Kota Probolinggo. Ia menyadari, tidak mungkin bisa menuntaskan permasalahan dengan tangan pemerintah sendiri.

“Kami masih butuh bantuan semua pihak yang care dengan masalah sanitasi di Kota Probolinggo. Ke depan kerja sama bisa lebih difokuskan, ditingkatkan di titik yang lain secara kuantitas dan kualitas,” katanya.

Menurut Subri, membangun kota bukan hanya membangun infrastuktur tetapi juga membangun habit atau budaya di masyarakat. Pembangunan infrastruktur yang bagus tapi tidak mengedukasi masyarakat, maka pembangunan tersebut tidak akan maksimal.

“Perilaku hidup bersih dan sehat ini mendasar. Kami sudah melakukan gerakan tapi ini belum cukup. Karena ada beberapa hal yang harus kita tekankan yaitu regulasi, penekanan regulasi, nilai ekonomis dan kesadaran masyarakat,” ujar Subri.

Sesuai dengan apa yang disampaikan Wali Kota Hadi Zainal Abidin, lanjut Wawali Subri, masyarakat agar lebih berperan aktif pada saat musrenbang di tingkat kelurahan. Karena melalui musrenbang masyarakat dapat menyampaikan kebutuhan yang mendesak di daerahnya.

Merubah Kebiasaan Diawali Rasa Malu

Masih ada sisa sekitar enam bulan bagi Pemerintah Kota Probolinggo dan stakeholder yang peduli akan kesehata dan sanitasi untuk mencapai 100 persen ODF alias tidak ada masyarakat yang BAB sembarangan. Sejumlah upaya pun telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat, dengan menggerakkan seluruh sanitarian di masing-masing puskesmas.

“Caranya kami melakukan pemicuan di seluruh kelurahan melalui sanitarian. Sosialisasi dan promosi tentang BB yang baik sampai ke aplikasinya. Kami menjelaskan ke masyarakat jika BAB di sungai sama saja mencemari air sungai. Kami juga bersinergi dengan OPD yang lain,” kata Kabid Kesehatan Masyarakat, dr NH Hidayati, saat ditemui di tengah kegiatan pagi itu.

Terkait 100 persen ODF, kata NH Hidayati, harus ditargetkan tahun ini karena Kota Probolinggo akan bersiap menghadapi penilaian Kota Sehat. Semua jamban di atas sungai pun akan dibongkar secara bertahap selaras dengan sosialisasi yang dilakukan di lingkungan masyarakat.

Sementara itu, Sugianto, warga Gang Gayam punya cerita menarik. Ia sebelumnya pelaku BAB di helikopter, tapi antara tahun 2017/2018 ia sudah merubah kebiasaannya itu. “Pertamanya karena saya malu masih buang air di sungai. Lalu ada sosialisasi akhirnya saya sadar. Saya ikut arisan di rumah, uangnya untuk buat jamban sendiri,” katanya.

Dengan uang arisan sekitar Rp 1,5 juta Sugianto akhirnya punya jamban sendiri. Sejak saat itu ia tak pernah lagi BAB sembarangan. Ia pun mengaku butuh penyesuaian saat punya jamban. “Dulunya ya sulit karena biasanya kan menyentuh air kalau di sungai. Tapi lama-lama ya tidak. Enakan yang sekarang, kalau buang air tidak ada yang tahu,” ceritanya. (famydecta/humas)