Wali Kota Berpesan Agar Menjaga Pluralisme

image_pdfimage_print

Sudah menjadi kegiatan rutin Pemerintah Kota Probolinggo, dalam hal ini Badan Kesatuan Bangsa (Bakesbang) mengundang tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk berdiskusi dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) membahas tentang isu-isu lokal maupun nasional. Selasa (30/5), pertemuan tiga bulan sekali ini digelar di Gedung Puri Manggala Bhakti.

Wali Kota Probolinggo Rukmini menjelaskan, pertemuan ini dapat meningkatkan nilai-nilai kebersamaan diantara berbagai perbedaan dalam masyarakat. “Hal tersebut sangat penting untuk mempertahankan pluralisme yang juga merupakan kekayaan nasional,” kata Rukmini. 

Dia juga menambahkan bahwa tantangan yang terbesar justru datang dari dalam negeri, misalnya menyebarkan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) terhadap kelompok tertentu. “Maka dari itu, sangat penting dalam diri kita terpatri semangat kebersamaan, komitmen untuk senantiasa bekerjasama dan harmonis dalam berkehidupan berbangsa dan bermasyarakat, tanpa meninggalkan kearifan lokal dan norma-norma yang berlaku,” tambah wali kota.

Forkopimda juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli dalam menghadapi isu-isu yang beredar, misal yang terbaru adalah pengeboman di terminal Kampung Rambutan, Jakarta. “Saya harap masyarakat lebih komunikatif bila ada warga baru di daerahnya. Jadi bisa diketahui asal, pekerjaan, dan informasi lainnya, jadi bila ada yang mencurigakan atau janggal bisa langsung tercover,” kata Kapolres Probolinggo Kota, Alfian Nurrizal. 

Senada dengan kapolresta, Kajari Kota Probolinggo Martiul Chaneago, pun menyatakan tentang bagaimana masyarakat harus bisa membekali diri untuk menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya.

“Kali ini peserta sejumlah 229 orang, yang terdiri dari tokoh agama, tokoh masyarakat se-kota Probolinggo, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), camat, dan lurah se-Kota Probolinggo,” jelas Kepala Bakesbang, Didik Sunaryoto. 

Dia juga menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai upaya pemberdayaan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam meningkatkan ketahanan nasional. “Selain itu juga untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan antar umat beragama dengan latar belakang yang berbeda,” kata Didik. (hariyantiagustina/humas)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.