Bayuangga Batik Carnival Meriahkan Pawai Budaya APEKSI

SEMARANG – Pemerintah Kota Probolinggo mempersembahkan Bayuangga Batik Carnival bertema Pendalungan, dalam pawai budaya rangkaian giat Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ke XIV tahun 2019 di Semarang, Rabu (3/7) malam.

Bayuangga Batik Carnival ini satu dari 68 kontingen pawai budaya tersebut. Ada makna dalam kehadiran Bayuangga Batik Carnival di kegiatan malam itu. Konsep ini terinspirasi dari kehidupan yang harmonis antara beberapa etnis yang hidup berdampingan di Kota Probolinggo.

Di Kota Probolinggo ada sejumlah etnis seperti Jawa, Arab, Madura dan Tionghoa. Dengan keanekaragaman budaya itu kota yang dikenal dengan kota angin ini dapat saling menghormati satu sama lain.

“Kota Probolinggo ini terletak di pesisir pantai utara. Kondisi tersebut dapat menciptakan suatu pencampuran budaya yang dinamakan pendalungan. Keharmonisan etnis yang ada di Kota Probolinggo inilah yang ingin kami kenalkan kepada seluruh masyarakat di Indonesia melalui pawai budaya APEKSI ini,” ujar Kabid Promosi Wisata Disbudpar Kota Probolinggo, Suciati Ningsih.

Menariknya, dalam kegiatan yang dibuka oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Ketua Dewan Pengurus APEKSI Pusat Airin Rachmi Diany itu, kontingen dari Kota Bayuangga ini juga mengenalkan ikon kota yakni buah mangga.

Barisan Bayuangga Batik Carnival juga membawa buah mangga khas Kota Probolinggo yang siap dibagikan ke masyarakat. Berada di urutan nomor 13, kontingen Kota Probolinggo yang melibatkan Kang Yuk ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Semarang.

Wali Kota Hadi Zainal Abidin dan Ketua TP PKK Aminah Hadi Zainal Abidin pun memberikan support kepada pendukung terlaksananya Bayuangga Batik Carnival. Mereka bertepuk tangan dan melambaikan tangan ke arah kontingen dari Kota Probolinggo

Sambil berjalan dan menunjukkan aksi, kontingen Bayuangga Batik Carnival berpenampilan memukau dan elegan. “Kegiatan semacam ini harus kita manfaatkan untuk semakin mengenalkan potensi dan budaya yang dimiliki Kota Probolinggo,” imbuh Suci-panggilan akrabnya. (famydecta/humas)

Wali Kota Probolinggo Habib Hadi beserta istri memberikan support kepada pendukung terlaksananya Bayuangga Batik Carnival (Foto Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Probolinggo municipal administration presented Bayuanga Batik Carnival, with Pendalungan as the main theme, in a cultural parade held in the event of the Indonesian City Governance Association (APEKSI) XIV, 2019 in Semarang, Central Java, Wednesday (3/7).

Bayuangga Batik Carnival has been one of 68 participants of the parade. Bayuangga Batik Carnival on its sense has a concept to tell. It was inspired by a harmonious life among diverse ethnicity in Probolinggo city, living in coexistence.

Probolinggo is a city with many ethnicities in it. Javanese, Arabic, Madurese, and Chinese ethnic are the ones living in coexistence, to respect each other.

“Probolinggo city is located on the North Coast of Java Island. This creates a cultural mixing called Pendalungan. The ethnic harmony in the city would be the one we will introduce to all Indonesian people by presenting the carnival in this event,” the head of Tourism Promotion division of Tourism and Culture Agency of Probolinggo city, Suciati Ningsih.

The interesting point of the carnival performance in the event, opened by the Semarang Mayor Hendrar Prihadi, is that they introduced the icon of Probolinggo city – mango. The performers of the carnival brought the typical mango of Probolinggo and give them to the Semarang residents.

Probolinggo Mayor, Hadi Zainal Abidin and the Chairman of TP PKK (Family welfare Group) Aminah Hadi Zainal Abidin showed their support to the performers of Bayuangga Batik Carnival, giving them a big applause.

Walking and showing some attractions, Bayuangga Batik Carnival has dazzled the people. “An event alike should be well utilized to promote the potential of culture Probolinggo city has,” Suci added.