Ketika Habib Hadi Kunjungi Mak Sunak, Jamaah Calon Haji dari Hasil Jualan Kacang

Wali Kota Hadi Zainal Abidin. Jumat siang bersilaturahmi ke rumah nenek Sunak sebelum berangkat menjalankan ibadah haji (Foto:Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KANIGARAN – Niat merupakan modal utama bagi seseorang untuk mewujudkan hajatnya. Terlepas seperti apa kondisinya, niat pasti akan menguatkan semangat untuk mencapai hajat tersebut. Inilah yang dialami Sunak, nenek penjual kacang goreng, yang berangkat haji. Ia termasuk bagian dari 155 jamaah calon haji Kota Probolinggo.

Kisah Mak Sunak –sapaan akrabnya- menarik perhatian Wali Kota Hadi Zainal Abidin. Jumat siang, orang nomor satu di kota mangga itu bersilaturahmi ke rumah nenek kelahiran 1 Juli 1954 tersebut. Kepada Habib Hadi, warga Jalan Cokroaminoto Gang Meranggi itu menceritakan bagaimana ia bisa menabung uang sehingga bisa berangkat haji.

Janda dengan satu anak dan dua cucu ini mendaftar haji pada 2011 lalu. Dengan membayar Rp 25 juta. “Saya tidak ingat menabung sejak kapan, sampai bisa terkumpul uang itu. Pokoknya, saya nabung sedikit-sedikit, dikasih orang saya tabung,” cerita Mak Sunak ke Habib Hadi.

Setiap hari, Mak Sunak berjualan kacang goreng yang ia titipkan di kios-kios dan dijajakan di pasar. Ia membeli kacang mentah lalu dibuang kulit arinya, digoreng dan dibumbui kemudian dibungkus plastik. Per bungkus ia jual seharga Rp 400 sampai Rp 500.

“Saya nabung di bank kecil. Kalau sudah satu tahun, saya pindah ke yang besar. Saya tidak melihat berapa nabungnya, pokoknya ada bersapa saja saya tabung,” lanjut Mak Sunak.

Yang menarik, Mak Sunak punya kebiasan nabung uang Rp 500 setiap hari dimasukkan ke dalam baskom di atas lemari. Setiap tiga bulan, uang itu diambil untuk menggelar pengajian anak yatim.

Mendengar cerita itu, Habib Hadi pun merasa kagum dan bergumam lirih. “Masyaallah. Masyaallah..,” ucapnya beberapa kali.

“Jika sudah ada takdir untuk berangkat (menunaikan haji) dan ada niat, insyaallah berangkat. Jangan mikir apa-apa, jangan mikir oleh-oleh karena yang biasanya ditunggu itu. Oleh-oleh yang bagus itu ya doa,” kata Habib Hadi.

“Doakan kami, doakan warga Kota Probolinggo selalu sehat. Jangan pikirkan yang ada disini, fokus pada ibadahnya selama disana,” pesan wali kota.

Uang recehan hasil dari berjualan kacang goreng (Foto: Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

 Berangkat Lebih Cepat

Sejatinya, Mak Sunak baru berangkat pada 2020 mendatang. Namun, beberapa waktu lalu Acun, anak Mak Sunak menerima surat dari Kementerian Agama. Saat itu diinfokan, bahwa Mak Sunak berangkat lebih cepat dari perkiraan.

Mak Sunak tercatat sebagai jamaah calon haji yang bakal berangkat 8 Juli nanti. “Ibu saya tidak bisa baca, jadi pas saya bacakan langsung senang pas tahu kalau berangkat tahun ini,” terang Acun.

Di lingkungannya, Mak Sunak dikenal sebagai sosok yang dermawan dan baik pada anak-anak. Ia tinggal sendirian di rumah, anaknya bersama sang istri di tempat lain.

“Mak Sunak kalau nggoreng kacang disini (samping rumah) pakai tumang. Kadang anak-anak diberi sama Mak Sunak kacang. Orangnya memang telaten dan gemi, kalau dikasih orang langsung ditabung. Jalan sendiri menjual kacangnya,” cerita Endang Ningsih, tetangga Mak Sunak.

Bagi Habib Hadi, cerita Mak Sunak menjadi sebagai contoh bagi seluruh masyarakat yang punya niatan untuk berhaji. Setiap hari mengumpulkan uang dari hasil jual kacang, lanjut Habib Hadi, seperti membuka pikiran kita, selain punya usaha ditambah dengan niatan.

“Niat adalah modal utama. Semoga warga Kota Probolinggo yang punya niatan bisa cepat mendapat panggilan. Masyarakat yang ingin betul-betul dan punya niat, jangan ragu-ragu, sisihkan dan kumpulkan terus,” tutur orang nomor satu di Kota Probolinggo, yang berharap ibadah haji tahun ini dapat terlaksana sesuai rukun wajib dengan sempurna. (famydecta/humas)

With a firm intention, everyone can accomplish what he/she is wishing for. It will be the main source of spirit to make it comes true. This is what Sunak, a fried-peanut-selling granny, who makes her dream to go on pilgrimage comes true.

The story of Mak (Granny) Sunak has got the mayor’s attention. Hadi Zainal Abidin, popularly known as Habib Hadi, went to the house of Mak Sunak who was born on July 1st, 1954. To Habib Hadi, the granny living on Jl. Cokroaminoto, Meranggi Alley tells about her story, saving her money for making her dream going on pilgrimage comes true.

A widow with a son and two grandsons, Mak Sunak has registered herself in 2011 by paying IDR 25 million. “I cannot remember the first day I started saving. The thing is I always save my money. When someone gives me money, I put it into my savings,” Mak Sunak tells Habib Hadi.

For the daily livelihood, Mak Sunak is selling fried peanuts she puts in kiosks. She also sells the peanut at the traditional market. She buys raw peanuts, being fried and seasoned before packed in plastic.

“I put my savings in a small bank. I transfer the saving to a bigger bank once a year. I don’t care how much I can do the saving. All I can do is saving as much as I can,” Mak Sunak continued.

Interestingly, she has another saving in a basin on a cupboard. She saves IDR 500 every day and once she has saved for three months, it is taken to hold ‘pengajian’ (a gathering at which Islam is discussed) with orphans.

Habib Hadi responded to the story by keeping telling “Masyaallah. Masyaallah”.

“If it’s your destiny and you have a firm intention, then you will go on pilgrimage. You don’t need to bring some souvenirs as everyone else does. The best souvenir is praying,” Habib Hadi said.

“Pray for us, for Probolinggo people. Focus on your pilgrimage process there,” said the mayor.

Mak Sunak to Go Sooner

Originally, Mak Sunak will leave for Mecca in 2020. However, a couple days ago, Acun – her son – has received a letter from the Ministry of Religious Affairs. The letter said that Mak Sunak can go on pilgrimage sooner than expected.

She was registered as a would-be pilgrim who will go on July 8th. “She cannot read, and I was the one who read the letter for her,” Acun said.

In her neighborhood, Mak Sunak is known as a generous woman. She lives alone at her home while her son is living with his wife at the other places.

“She always fries the peanuts using a ‘tumang’, an old traditional stove-like-heating tool. She often gives the peanuts to my kids. She loves saving money,” Endang Ningsih tells about her neighbor.

To Habib Hadi, the story of Mak Sunak can be an example for all people who have the intention to go on pilgrimage. Collecting money from selling peanuts, Habib Hadi continued, has opened our mind that we can make our dreams come true by doing efforts and praying.

 “Firm intention is a must. Hopefully, Probolinggo people have the same intention as Mak Sunak does. People who have firm intention to go on pilgrimage, you all don’t hesitate, you just need to save your money to reach your goal,” said Habib Hadi who hopes the pilgrimage praying can be done without any serious challenges.