Wali Kota: Perbanyaklah Amalan di Bulan Ramadhan

Kamis (15/6), Pemerintah Kota Probolinggo menggelar pengajian umum memperingati Nuzulul Qur’an 1438 Hijriyah/ 2017 M, di halaman kantor pemkot setempat. Pengajian kali ini menghadirkan penceramah KH. Abdullah Syamsul Arifin, pengasuh pondok pesantren Darul Arifin dari Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Hadir dalam kegiatan ini Wali Kota Probolinggo Rukmini, Anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), para asisten dan staf ahli, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Wakil Ketua TP. PKK, lurah beserta istri, para kyai,  tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh organisasi kemasyarakatan, pimpinan instansi vertikal perusahaan perbankan negeri dan swasta, rumah sakit negeri dan swasta, kepala sekolah negeri dan swasta, ketua RW dan anak yatim piatu.

Kegiatan yang digelar Bagian Kesra Sekretariat Daerah Kota Probolinggo mengangkat tema “Dengan peringatan Nuzulul Qur’an, kita mantapkan puasa Ramadhan dengan sikap toleransi Keberagaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”. Pengajian ini diawali pembacaan ayat-ayat Suci Al qur’an oleh Ustad Abdul Manap.

Kabag Kesra Anwar Fanani menginformasikan, undangan sesuai dengan ia edarkan kurang lebih 1.600 undangan.Sebanyak 500 anak yatim  piatu akan menerima bantuan masing-masing mendapat uang tunai Rp 100.000 dan santunan penghafal Al Qur’an sebanyak 30 orang masing-masing mendapat  uang tunai sebesar Rp 500.000.

“Sebagai ajang silaturahmi antara ulama dan umara serta masyarakat dalam rangka syiar Islam di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo. Sebagai momentum untuk motivasi dan minat baca serta memahami dan mengamalkan isi kandungan dari Al qur’an,”ujarnya.

Wali Kota berharap, selama di bulan suci Ramadhan harus dapat menjaga dan menciptakan situasi yang kondusif aman dan tertib. Maka pemerintah mengimbau  kepada masyarakat, tokoh masyarakat para kyai dan pelaku usaha hal-hal sebagai berikut, pemakaian spiker mushola dan masjid dimaksimalkan sampai dengan pukul 22.00 WIB, bagi pelaku usaha dan tempat-tempat usaha mengikuti dan mentaati imbauan dari pemerintah.

Perbanyaklah amalan di bulan Ramadhan serta mengalakkan kegiatan ibadah sosial keagamaan sebanyak-banyaknya, antara lain pelaksanaan zakat, infaq dan sedekah serta lainya. “Melaksanakan bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri dengan suasana damai tentram saling menghormati antar pemeluk agama. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT,” tambahnya.

KH. Abdullah Syamsul Arifin menjelaskan tentang surat  Al-Baqarah ayat 185 Al Jashash, bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia sedangkan surat Al-Baqarah ayat 2 sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Katanya,  2 ayat ini di pertemukan ditarik menjadi satu kesimpulan, Al qur’an sebagai petunjuk seluruh umat manusia tapi tidak semua manusia mau menjadikan Al qur’an sebagai petunjuk, karena yang menjadikan Al qur’an sebagai petunjuk hanyalah orang-orang yang bertaqwa.

”Al qur’an memberikan petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, yaitu mereka beriman kepada yang gaib, yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan kepada mereka, juga memberikan bimbingan, petunjuk dan aturan-aturan syariah bagi umat islam agar memperoleh petunjuk yang benar dalam mengarungi kehidupan di dunia fana,” jelasnya.

Al qur’an bisa menjadi hidayah kalau kita baca dengan baik dan benar, fahami maknanya dan kita amalkan isinya. “Al Qur’an sebagai pedoman hidup, untuk memecahkan dan mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia, baik yang berkaitan dengan persoalan pribadi, keluarga maupun persoalan-persoalan masyarakat, bangsa dan negara,” sambungnya.

Puasa diwajibkan bagi kita dan puasa juga diwajibkan orang-orang sebelum kita, berarti menjadi titik temu antar agama yang satu dengan agama yang lain sama-sama diwajibkan melaksanakan puasa meskipun berbeda caranya. 

“Kita harus tetap menjaga kesatuan dan persatuan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa melihat orang lain agamanya, suku, bahasa, adat istiadatnya sama dengan kita karna perbedaan itu suatu keniscayaan,”tutupnya. (noviati/humas)