Kontes Burung Berkicau Meriahkan Hari Krida Pertanian

Wali Kota Hadi Zainal Abidin saat penggantangan sangkar burung secara simbolis tanda dimulainya gelaran Gebyar UPSUS SIWAB dan Lomba Burung Berkicau dalam rangka Hari Krida Pertanian ke-47 di Kota Probolinggo, Minggu (21/7) di Lapangan Karya Bakti. foto: Rifki K.I (humas protokol)
image_pdfimage_print

KANIGARAN – Ada yang baru dalam kemeriahan Hari Krida Pertanian ke-47 di Kota Probolinggo. Ialah kontes burung berkicau yang diikuti 600 peserta (burung) dengan biaya pendaftaran gratis. Nilai total hadiah yang diperebutkan senilai Rp 18 juta.

Kontes burung berkicau yang menggandeng Kicau Mania Probolinggo ini dibagi dua kelas, kelas A dan B untuk burung Muray, Lovebird, dan Kenari. Juri kontes ini oleh juri independen pelestasi buruh Indonesia cabang Probolinggo.

“Tujuan kami ingin memfasilitasi peternak burung berkicau di Kota Probolinggo dalam budidaya dan pemasarannya. Menjalin silaturahmi dengan komunitas dan penggemar burung berkicau,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Sukarning Yuliastuti.

Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin sangat mengapresiasi diadakannya lomba burung berkicau ini. Wali kota berharap, kontes ini menjadi salah satu cara agar peternak burung berkicau du Kota Probolinggo tetap konsisten membudidayakannya dan meningkatkan penghasilannya.

“Peserta sampai 600 lebih, ini bagus. Tentunya menjadi harapan semoga ke depan kita kembangkan, perluas dan melibatkan semua unsur. Apapun kegiatannya yang penting mendatangkan manfaat kepada masyarakat akan kami dukung. Ke depan kita gelar lebih besar lagi,” kata Habib Hadi.

Selain lomba burung berkicau, acara yang digelar mulai 21 Juli dan berakhir pada 22 Juli di Lapangan Karya Bakti ini juga ada Gebyar Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (UPSUS SIWAB). UPSUS SIWAB menjadi motivasi peternak dan pelaku usaha baik secara individu maupun kelompok untuk memperbaiki pola budidaya dari tradisional menjadi profesional.

Kegiatan ini juga sebagai wadah promosi kepada kelompok/peternak untuk menunjukkan hasil budidaya ternak sapinya. Pada kesempatan itu, Habib Hadi sempat menceritakan pengalamannya saat dulu menggeluti bisnis sapi. Ia mengaku beberapa kali tertipu saat bertransaksi di malam hari.

Sekitar awal tahun 2000an selalu mencari sapi sampai ke Lumajang, Leces dan Wonoasih. Ia menceritakan, pernah beli sapi tapi saat setelah sampai kandang ekornya lepas. Cerita lainnya, karena membeli malam dan posisi sapi ada di dekat tembok, ia tidak tahu jika perut sapi tidak sempurna.

“Pedagang sapi ini harus dikontrol. Jagal-jagal dan pedagang harus ada pembinaan, nanti akan saya kumpulkan. Rencananya, operasional pasar hewan nanti juga tidak sampai malam hari,” ujarnya saat sambutan pembukaan gebyar rangkaian Hari Krida Pertanian, Minggu (21/7) pagi.

Menurutnya, mengurangi jam operasional pasar hewan lebih pada faktor keamanan bagi pedagang dan pembeli. Sebelum memberlakukan aturan tersebut, wali kota akan mengundang jagal dan pedagang untuk memberikan pemahaman. “Agar mereka bekerja nyaman, tidak ada yang kena manipulasi seperti fakta yang pernah saya alami dulu,” ujar Habib Hadi. (famydecta/humas)