Dewan Ketahanan Pangan Gelar Rakor

Suasana rapat koordinasi terkait tentang ketahanan pangan yang dipimpin oleh Wakil Wali Kota. (Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KANIGARAN – Menghadapi sejumlah permasalahan terkait ketahanan pangan, Dewan Ketahanan Pangan Kota Probolinggo menggelar rapat koordinasi (rakor) yang dipimpin oleh Wawali Mochammad Soufis Subri, Senin (5/8). Pasalnya, ada tiga kecamatan di Kota Probolinggo yang aspek ketersediaan pangan masuk kategori waspada. Yakni Kecamatan Kedopok, Wonoasih dan Kanigaran.

Sedangkan kecamatan dengan aspek ketersediaan pangan rentan adalah Mayangan dan Kademangan. Namun dalam aspek akses pangan, lima kecamatan tergolong aman. Di aspek pemanfaatan pangan, Kecamatan Mayangan, Kedopok, Wonoasih dan Kanigaran kategori waspada. Untuk Kademangan di kategori aman.

Wawali Subri menegaskan, semua OPD yang berada di Dewan Ketahanan Pangan dapat memahami tugas-tugasnya. Ia melihat ada beberapa OPD yang tidak bersinggungan langsung, namun Subri meminta OPD tersebut mengetahui apa tugasnya sebagai Dewan  Ketahanan Pangan.

Salah satu tugas Dewan Ketahanan Pangan adalah mengendalikan sistem ketahanan pangan seperti ketersediaan, distribusi dan konsumsi. “Kondisi ketahanan pangan yang mantap diperlukan mobilisasi yang dinamis dari semua pihak. Pendistribusian harus merata dan aman,” katanya.

Sesuai data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, lahan pertanian di Kota Probolinggo semakin hari semakin mengalami penurunan karena banyaknya alih fungsi lahan yang menyebabkan penurunan produksi tanaman pangan. Data luas baku sawah adalah 1.792,5 hektar yang tersebar di lima kecamatan.

Berdasarkan data perkiraan kebutuhan pangan selama satu tahun, utamanya beras, pada tahun 2019 ini kebutuhan konsumsi beras sekitar 24.038 ton. Jika melihat produksi beras di tahun 2018 sekitar 9.526 ton maka bisa diprediksi Kota Probolinggo mengalami kekurangan pasokan beras.

Nah, langkah yang bisa dilakukan Pemerintah Kota Probolinggo untuk meningkatkan produksi beras antara lain intensifikasi pertanian; perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan; diversifikasi pertanian; penetapan cadangan pangan.

Dari hasil analisa FSVA (Food Security and Vunerability Atlas) atau peta kerentanan dan kerawanan pangan, tingkat ketahanan pangan di Kota Probolinggo masuk kategori aman. Namun ada dua kelurahan yang perlu diwaspadai yaitu Sumber Wetan dan Pakistaji.

Kabid Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Asep Suprapto Lelono menjelaskan, ketersediaan produksi beras yang kekurangan telah dipenuhi dari luar kota. Kekurangan tersebut sekitar 14 ribu ton. Selain bekerja sama dengan luar kota, pihaknya pun terus melakukan sosialisasi, dan penganekaragaman pangan sebagai pengganti beras.

Diakui oleh Asep bahwa sosialisasi tersebut masih belum efektif di masyarakat Kota Probolinggo. “Tapi, pola hidup masyarakat sudah banyak beralih dari beras ke kentang, ketela pohon atau umbi-umbian, banyak masyarakat melakukan diet tanpa karbohidrat atau low carbo. Semakin modern orang makin sadar jaga kesehatan,” jelasnya.

Berkurangnya lahan pertanian di Kota Probolinggo karena digunakan perumahan dan industri. Dinas Pertanian dan KP pun telah berupaya melindungi lahan pertanian pangan berkelanjutan sekitar 1.098 hektar.

Rakor yang digelar di Sabha Bina Pradja itu juga dihadiri Asisten Ekonomi dan Pembangunan Ahmad Sudiyanto, anggota Dewan Ketahanan Pangan Kota Probolinggo termasuk di antaranya kepolisian dan TNI. (famydecta/humas)