Wawali saat memberikan arahan pada peserta lomba kontes wirausaha noasih. (Foto:Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

WONOASIH – Sedikit memutus ketergantungan masyarakat menjadi pegawai atau karyawan, Kecamatan Wonoasih punya inovasi menarik. Ialah dengan menyelenggarakan Kontes Wirausaha Noasih yang telah memasuki tahapan paparan, Rabu (7/8).

“Karena kesempatan itu sangat luas, tidak harus menjadi pegawai. Masyarakat bisa menjadi produsen, menciptakan produk sendiri dan harapannya bisa memperkerjakan warga di lingkungannya,” kata Camat Wonoasih Deus Nawandi.

Peserta kontes wirausaha noasih diikuti 28 orang. Juri kontes ini dari empat unsur, yakni forum CSR (Coorporate Social Responsibility), DKUPP, jurnalis dan seorang ASN sekaligus pengusaha. Mereka yang menang akan mewakili Kecamatan Wonoasih dalam gelaran IKM Award tingkat kota yang dilaksanakan Dinas Koperasi Usaha Mikro Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kota Probolinggo.

Wawali Mochammad Soufis Subri yang hadir dalam penilaian lomba tersebut menyampaikan banyak hal kepada wirausahawan. Menurutnya, dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lebih berdaya dalam mengangkat perekonomian di daerah masing-masing. Pemerintah punya kewenangan lebih pada regulator dan pendampingan.

“Terkait dengan kemandirian ekonomi, yang banyak bergerak adalah masyarakat itu sendiri. Yang perlu saya ingatkan, ekonomi yang tumbuh di daerah itu diawali kesadaran dari masyarakat. Jangan berharap mengucurkan dana dari pemerintah, karena pemerintah memberikan bantuan untuk masyarakat yang punya skill,” jelas Subri.

Untuk itu, ia meminta kecamatan, kelurahan, RW, RT selalu memantau dan mendampingi pemberdayaan masyarakat di wilayahnya. Dengan fungsi sebagai regulator dan pendamping, jika masyarakat dapat berjalan dengan baik maka pemerintah selaku pengguna anggaran dan membantu. “Data harus jelas. Jangan atas dasar like and dislike,” imbuh wawali yang berprofesi sebagai arstitek ini.

Subri juga menuturkan, wirausahawan harus punya konsep yang jelas. Jangan berasumsi mendapat keuntungan besar tetapi omzet kecil. “Sudah ga usum itu. Jadi begini, untunglah Rp 1000 tapi laku 500 produk, dari pada untung Rp 3000 tapi hanya laku sedikit. Ubah konsep dan turunkan keuntungan (yang sesuai). Jadi begini, munculkan peluang, berdayakan ekonomi dan jadilah ekonomi kreatif,” beber pria yang concern bicara soal ekonomi kreatif ini. (famydecta/humas)

Suasana

To change the mindset of people of being a regular employee, Wonoasih Sub-district has another option for them, an interesting innovation, by holding Competition of Noasih Entrepreneur which is now in the phase of presentation.

“We have more opportunities instead of being an employee. By being an entrepreneur, people can be the producers, creating their products, and hiring people in their neighborhood,” the head of Wonoasih Sub-district, Deus Nawandi.

The participants were 28 people. The judges were from 4 different sectors including from CSR forum, Agency of Cooperatives, MSMEs, Trade and Industry (DKUPP), journalist, and a civil servant who is also an entrepreneur. The winner will represent the sub-district in IKM Award held by DKUPP.

Vice Mayor Mochammad Soufis Subri who attended the event said many things to the entrepreneurs. According to him, by doing empowerment, people’s economy will be competitive in increasing the economic sector in the regions. The government must set regulations and facilities.

“Related to economic independence, the ones who do more are the people. I need to remind you all, the growing economy in a region is started with the effort of the people. Do not expect any grants from the government because we only give it to the skillful ones,” Subri said.

Therefore, he asked the sub-districts, urban villages, and the neighborhood to always monitor and assist the social empowerment. By optimizing the function as regulator and facilitator, the government will always help the people if they have good efforts in it. “Data must be clear. Don’t be subjective,”  the vice mayor who is also an architect said.

He also said the entrepreneur must have a clear concept. Many people have a concept to take big profits but eventually get a small turnover. “It’s totally wrong. Let us say that the profit is IDR 1,000 per product, but the product is sold out. This is much better than the profit is IDR 3,000 but the product proved hard to sell. Change this mindset and you must lower the profit. Get the opportunities, get the economy empowered, and be creative,” said Subri who concern more about the creative economy.