Wawali: Harus Mampu Antisipasi Munculnya Masalah Kesehatan

Wawali Soufis Subri memberikan sambutan saat Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Kota Probolinggo tahun 2019. (Foto:Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

MAYANGAN–Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Kota Probolinggo tahun 2019 sudah rampung dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan setempat.Selasa (20/8) pagi, hasil rekomendasi rakerkesda bertema “Kolaborasi Pusat dan Daerah dalam Pelayanan Kesehatan Menju Cakupan Kesehatan Semesta” itu disampaikan kepada Wakil Wali Kota Mochammad Soufis Subri.

Meski pembangunan kesehatan di Kota Probolinggo mengalami peningkatan, tetapi masih ada indikator yang masih perlu diperhatikan. Antara lain prevalensi balita stunting, kematian ibu dan kematian bayi; peningkatan cakupan dan mutu imunisasi; percepatan eliminasi tuberculose (TBC) dan peningkatan pencegahan penyakit menular dan tidak menular.

Rakerkesda ini diharapkan menjadi forum komunikasi dan integrasi antara Pemerintah Kota Probolinggo berserta OPD terkait dan unsur masyarakat lainnya. Mekanisme rakerkesda yang dibagi dalam empat kelompok kerja itu membuahkan rekomendasi.

Suasana Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Kota Probolinggo tahun 2019. (Foto:Agus/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Kelompok 1 terkait pravelansi balita stunting, rekomendasi yang disampaikan antara lain sosialisasi, ambulance untuk ibu hamil, pemberdayaan masyarakat di posyandu, peningkatan kapasitas petugas kegawat daruratan maternal neonatal, pelatihan olahan pangan lokal, evaluasi sistem kewaspadaan pangan dan gizi hingga kontak kader.

Di kelompok 2, tentang peningkatan cakupan dan mutu imunisasi membuahkan rekomendasi sistem pelaporan dasar dokter, bidang yang menggunakan vaksin di luar puskesmas; sertifikasi imunisasi; sosialisasi dan penyuluhan imunisasi kepada kelompok masyarakat; iklan layanan.

Untuk mengatasi percepatan eliminasi tuberculose (TBC) yang dibahas kelompok 3, rekomendasinya penyusun draft rencana aksi daerah TBC paru di Kota Probolinggo dan penguatan jejaring layanan TBC paru melalui pembentuk tim jejaring.

Pada kelompok 4yang membahas peningkatan pencegahan penyakit menular dan tidak menular. Rekomendasi yang disampaikan melaksanakan sosialisasi posbindu PTM pada masyarakat, pembentukan posbindu baru PTN, pemantapan kader posbindu dan penggerakkan anggota masyarakat untuk melaksanakan posbindu PTM.

“Sudah banyak yang sekali yang dilakukan pemerintah mulai dari tahun ini sampai tahun-tahun sebelumnya. Berkaitan dengan gizi buruk dan lainnya. Tapi itu tidak akan pernah cukup karena kesehatan merupakan investasi karena bicara kesehatan, kita menyiapkan sumber daya manusia di Kota Probolinggo,” jelas Wawali Subri, saat penyampaian hasil rakerkesdadi salah satu hotel di Jalan Dr Sutomo.

Menurutnya, memiliki indeks pendidikan yang baik menjadi pola untuk melinierkan urusan kesehatan. Dengan begitu, Dinkes punya beban yang lebih ringan. Kesehatan tidak mungkin ditangani oleh Dinkes saja tetapi bersama pihak-pihak terkait.

“Seluruh stakeholder terutama camat dan lurah, saya berharap bisa lebih intens lagi karena kesehatan adalah hal krusial,” kata Subri. Ia pun meminta perhatian dari pemerintah provinsi dan pemerintah pusat terkait kemampuan meng-create masalah kesehatan di Kota Probolinggo.

Subri pun menyemangati Dinas Kesehatan dan stakeholder di bidang kesehatan ini. “Kami, Bapak Wali dan saya bersama anda semua, tidak boleh ada kata lelah untuk masyarakat Kota Probolinggo. Intinya, kita harus mampu mengantisipasi masalah kesehatan yang mungkin akan muncul. Dan, rekomendasi rakerkesda bisa diimplementasikan dengan maksimal dan bermanfaat bagi masyarakat,” seru wawali. (famydecta/humas)