Laju Inflasi Kota Probolinggo Masih Kondusif

image_pdfimage_print

 

Kota Probolinggo baru saja meraih penghargaan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Inovatif tingkat Kabupaten/Kota. Namun upaya untuk mengendalikan inflasi daerah tak berhenti di situ saja. Jumat (11/8) pagi, Wali Kota Rukmini bersama TPID setempat menggelar Talk Show interaktif di Radio Suara Kota FM.

Menurut perwakilan BPS Kota Probolinggo, Maksus, hingga bulan Juli kondisi inflasi di Kota Probolinggo masih dalam kondisi yang baik. Beberapa komoditi mengalami inflasi dan beberapa pula mengalami deflasi. Kelompok sandang dan pendidikan termasuk kelompok yang mengalami inflasi. 

“Penyumbang deflasi yang cukup signifikan adalah bawang putih, jeruk, tomat sayur, pisang, ikan kembung, tarif kendaraan travel, dll. Di Jawa Timur hanya ada dua kota yang mengalami deflasi antara lain Kediri sebesar 0,11% dan Kota Probolinggo sebesar 0,07%,” jelas Maksum.

Sedangkan laju inflasi di Kota Probolinggo hingga bulan Juli lalu sebesar 2,45% dan year on Year sebesar 2,75%. Jumlah tersebut masih jauh di bawah inflasi Jawa Timur yang mencapai 0,15%.  Menurut Maksus, secara umum Kota Probolinggo masih berada di posisi 2 terendah di Jawa Timur untuk laju inflasi year on year. 

Maksus menjelaskan bahwa selain mengalami deflasi, beberapa komoditi lain juga merupakan penyumbang inflasi yang signifikan termasuk telur ayam, ikan tongkol, dan bimbingan belajar. “Bimbingan belajar mengalami inflasi karena pada bulan Juli lalu sudah mulai masuk tahun ajaran baru,” jelas Maksus.

Terkait bimbingan belajar, Kepala Disdikpora, Maskur menjelaskan bahwa kurikulum yang diterapkan di sekolah sebenarnya sudah mencukupi. Namun masih banya orang tua yang beranggapan bahwa putra putrinya masih memerlukan pelajaran tambahan. Hal ini lah yang menyebabkan bimbingan belajar menjadi penyumbang inflasi.

“Perlu saya sampaikan pula bahwa terkait sumbangan insidentil di SD dan SMP itu tidak ada. Namun untuk SMA, kewenangannya ada di pemerintah provinsi,” jelas Maskur.

Sementara itu, perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Jaka Setiawan menyatakan bahwa angka inflasi di Kota Probolinggo menunjukkan hasil yang positif. Hal ini dikarenakan angka tersebut masih di bawah target nasional sebesar 4%. 

“Dengan laju inflasi year on year di Kota Probolinggo sebesar 2,75%, hal ini menunjukkan bahwa harga komoditi di Kota Probolinggo sangat terjaga dan terkendali,” terang Jaka.

Kepala Dinas Perikanan setempat, Budi Krisyanto yang turut hadir dalam acara ini menyatakan bahwa ikan tongkol yang menjadi penyumbang inflasi hingga bulan Juli lalu sudah mengalami penurunan meskipun tidak banyak.

“Yang penting adalah bagaimana pemerintah dapat mendorong masyarakat agar semakin bijak dalam mengonsumsi makanan dan tidak bergantung pada jenis makanan tertentu, agar lebih bervariasi lagi misalnya dengan mengonsumsi ikan. Hal ini penting sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat cerdas,” jelas Budi.

Di sesi penutup, Wali Kota Rukmini menyampaikan harapannya agar pelaporan harga barang tetap dilakukan secara konsisten tiap hari sebelum jam 9 pagi sehingga pemerintah dan TPID bisa mengetahui permasalahan yang ada dan bisa lebih sigap dalam mengatasinya.

“Program pengendalian inflasi di OPD terkait harus lebih diefektifkan dalam rangka kondusifitas perekonomian di Kota Probolinggo. Saya juga berharap dukungan segenap masyarakat Probolinggo apabila menemukan isu tentang ketersediaan bahan pokok, lapor ke pemda melalui instansi pemerintahan terdekat misalnya kelurahan atau kecamatan,” tutur Rukmini. (alfienhandiansyah/humas)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.