Serahkan Santuan Jaminan Kematian PTT Pemkot

Wali Kota Hadi Zainal Abidin bersama Wawali Mochammad Soufis Subri menyerahkan santunan jaminan kematian untuk ahli waris almarhum Untung Cahyono, Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Kecamatan Kedopok. (Foto: Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KEDOPOK – Wali Kota Hadi Zainal Abidin bersama Wawali Mochammad Soufis Subri didampingi Kepala BPJS Ketenagakerjaan KCP Probolinggo Agus Dwi Fitrianto menyerahkan santunan jaminan kematian untuk ahli waris almarhum Untung Cahyono, Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Kecamatan Kedopok.

Santunan itu diterima oleh istri almarhum, Wiwik Agustiningsih di rumahnya, di Jalan Sunan Bonang RT 2 RW 2, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok. Saat Lurah Jrebeng Kidul Abdul Halik dan Camat Kedopok Imam Cahyadi juga berada di lokasi.

Kepada Wali Kota Habib Hadi, Wiwik menceritakan, suaminya meninggal karena penyakit jantung yang diderita. Sebelum meninggal pada 31 Juli lalu, almarhum Untung sudah dirawat di RSUD dr Mohamad Saleh selama sepekan. Merasa enakan, maka ia pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan.

Beberapa lama di rumah tiba-tiba sakitnya kambuh dan dibawa lagi ke RSUD dan akhirnya meninggal dunia. Almarhum yang lahir di tahun 1981 itu meninggalkan dua orang anak, Sindy Ayu yang masih SD di SDN Kedopok 2 dan Ahmad Fahmy, baru berusia beberapa bulan.

“Semoga apa yang diberikan ini bisa membantu kebutuhan sehari-hari, untuk ibu dan anak-anaknya. Gunakan untuk keperluan lain-lain. Tidak ada maksud apa-apa dengan pemberian santunan ini. Tetapi ini adalah hak ahli waris atas pembayaran BPJS Ketenagakerjaan setiap bulannya,” tutur Wali Kota Habib Hadi kepada Wiwik, yang banyak diam saat itu.

Ya, santunan jaminan kematian ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Kota Probolinggo dengan BPJS Ketenagakerjaan sejak dua tahun lalu. Melalui APBD yang diberikan untuk gaji PTT, dibayarkan ke BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp 11.500 per bulan per orang.

“Mohon maaf jika ada sedikit keterlambatan. Ini nominalnya bulat tidak berkurang sedikit pun dan kami berikan non tunai melalui rekening. Ini adalah bentuk kepedulian Pemerintah Kota Probolinggo kepada pegawainya,” ujar Agus yang mengaku siap mencairkan santunan kematian dalam waktu dua hari, selama berkas sudah lengkap.

“Hati-hati ya kalau ada yang telpon, meminta uang untuk ditransfer. Waspada jika ada yang memanfaatkan kondisi panjenengan (istri almarhum). Kroscek atau minta tolong ke Pak Lurah atau Pak Camat, tidak apa-apa,” sambung Wawali Subri. (famydecta/humas)