Subri Harapkan Keberadaan Pelabuhan Berdampak Bagi Kota Probolinggo

Suasana saat Wakil Wali Kota Probolinggo, Mohammad Soufis Subri gelar audiensi dengan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Kota Probolinggo. (Foto: Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KANIGARAN –  Wakil Wali Kota Probolinggo, Mohammad Soufis Subri menerima kunjungan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Kota Probolinggo, Senin (26/8). Pertemuan berlangsung di ruang transit kantor Wali Kota Probolinggo.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai, Agus Eka Wijaya mengatakan bahwa kedatangannya ke kantor wali kota dilatarbelakangi karena kurang bergeliatnya pelabuhan Tanjung Tembaga Kota Probolinggo. Padahal pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang cukup besar.

Agus mengatakan, kurang bergeliatnya pelabuhan itu karena belum menjadi kawasan pabean. Di mana bea cukai belum hadir di pelabuhan tersebut. Namun, bukan berarti pelayanan tidak bisa dilakukan di pelabuhan tersebut. Akan tetapi, prosesnya yang terlalu panjang secara administrasi yang bertentangan dengan keinginan pemerintah dalam menekan waktu sesingkat – singkatnya

“Semoga ke depan Pelabuhan Tanjung Tembaga menjadi kawasan pabean dan tentunya ini menjadi peluang bagi Pemerintah Kota Probolinggo untuk mengambil posisi di situ,” ujarnya.

Selain itu, Agus juga ingin menjadi bagian atau katalisator dalam pembangunan di Kota Probolinggo. Di mana jika di Kota Probolinggo ada perusahaan atau UMKM yang hasil produksinya diekspor ke luar negeri, Ia meminta izin agar diperbolehkan mendatangi perusahaan/UMKM tersebut. Tujuannya untuk memberikan sosialisasi tentang adanya fasilitas fiskal dan non fiskal yang memungkinkan bisa di gunakan untuk meningkatkan produksi atau daya saing di luar negeri.

Agus juga berterima kasih karena selama ini Pemerintah Kota Probolinggi telah membantu pihaknya dalam melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat Kota Probolinggo.

Menyikapi kondisi itu, Subri mengatakan untuk membangun Kota Probolinggo, tidak bisa sendiri. Butuh penguatan di berbagai lini yang terkait.

Subri juga menjelaskan terkait kawasan pabean, Pemerintah Kota Probolinggo merasa memiliki laut, mempunyai pelabuhan yang sedemikian luar biasa, akan tetapi seakan – akan Pemkot bukan tuan rumahnya.

“Ke depan, kami menginginkan masukan dari pihak bea cukai terkait masalah apa yang harus kita masuki di situ. Karena memang perkembangan pelabuhan kita bertahap, sehingga gregetnya tidak kelihatan, kita hanya hanyut di dalamnya,” ujar Subri.

“Saya berharap ada kajiannya dari sudut pandang bea cukai tentang kawasan pabean di pelabuhan. Jujur kami tidak punya keahlian di bidang ini. Karena menurut konsep kami, permasalahan Kota Probolinggo dapat diatasi jika pelabuhan dapat diolah dengan baik. untuk potensi fiskal ekspor/import ini merupakan ranah dari bea cukai , Monggo dilakukan sosialisasi kepada perusahaan maupun UMKM yang melakukan ekspor/impor,” kata Subri.

“Silahkan jika mau sosialisasi yang terpenting membawa kebaikan bagi pelaku usaha. Dan, untuk data perusahaan ataupun UMKM yang melakukan ekspor dapat ditanyakan ke dinas terkait,” pungkas Subri. (Mita/Humas)