Ngopi Bareng, Wawali Minta Apersi Jaga Kualitas dan Taati Aturan

Suasana APERSI Wilayah Kota Probolinggo menggelar acara ngopi bareng Wakil Wali Kota Probolinggo. (Foto: Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KADEMANGAN – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Wilayah Kota Probolinggo menggelar acara Ngopi Bareng dengan tema Habis Gelap Terbitlah Terang, Rabu (28/8) di Lava – Lava Hotel dan Resto. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Probolinggo, Mochammad Soufis Subri, Kepala BPN Kota/Kabupaten dan perbankan serta pengembang yang tergabung dalam Apersi.

Ketua Apersi Kota Probolinggo, Anmari mengatakan tujuan bersilaturahmi bersama ini tidak lain untuk mencari solusi dan jalan keluar. Dimana para pengembang gelisah dengan habisnya kuota subsidi rumah, di sisi lain ada beberapa bank yang masih memiliki kuota subsidi rumah.

“Kami berharap pihak perbankan dapat membuka untuk program – program apa saja yang ada pada masing – masing bank tidak ada yang ditutup – tutupi, sehingga kami dapat bersinergi bersama untuk membangun Kota Probolinggo,” katanya.

Ia juga menjelaskan banyak aturan yang diturunkan oleh pemerintah terkait rumah subsidi, ini tidak lain untuk memberikan hunian layak untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah, karena memang rumah subsidi sangat diharapkan oleh masyarakat. “Kami ingin membantu masyarakat dengan cara membuka rumah subsidi, akan tetapi jika tidak didukung oleh pihak keuangan (perbankan) kami kesulitan dalam masalah pendanaan,” ujar Anmari.

Wawali mengatakan bahwa tahun 2020 pemerintah pusat menggelontorkan dana sebesar Rp 7,1 triliun untuk Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang nantinya akan disalurkan pada 25 bank pelaksana. Ini merupakan potensi yang cukup besar bagi pengembang maupun perbankan.

“Sekarang pemerintah lebih membuka peluang agar bisa bersaing secara sehat untuk melayani masyarakat yang  berpenghasilan rendah. Dan, kalau bisa  para perbankan jangan terlalu ribet, pakai kebijakan lokal saja, kalau bisa dijalankan ya dijalankan saja karena ini sasarannya adalah MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah),” ujar Subri.

Ia juga menyampaikan pemerintah semakin tahun semakin memperhatikan masyarakat, dengan adanya  aturan yang semakin ketat, bukan berarti pemerintah menekan para pengembang akan tetapi ini untuk kebaikan bersama.

“Masyarakat sekarang ini semakin cerdas, semakin canggih apalagi ada media sosial. Tetap jaga kualitas bangunan, jangan karena ingin nilai lebih tapi kualitas dikorbankan ini bisa merusak image kepada  masyarakat dan perbankan,” pesan wawali.

“Jangan terobos aturan, hati – hati dalam memilih lahan agar tidak berurusan dengan pemerintah. Dan, jangan hanya mendirikan bangunan saja tapi tunjukkan kualitasnya,” sambungnya.

Siang itu, acara ngopi bareng dilanjutkan paparan oleh masing – masing perbankan yang masih mempunyai kuota rumah bersubsidi. Bank yang masih memliki kuota diantaranya BNI, Mandiri, BCA serta Bank Jatim Syariah. (mita/humas)