Wali Kota Ingin Pembatik Menjaga Kualitas Karya

KANIGARAN – Wali Kota Probolinggo Hadi Zainal Abidin ingin batik khas buatan pembatik Kota Probolinggo menjaga kualitas dan siap bersaing. “Pembatik kota harus mandiri, jangan mau diperalat. Kita punya 150 motif (kuno) yang banyak, kreasikan. Pembatik harus punya daya saing dengan daerah lain,” ujar wali kota yang suka batik berwarna soft ini.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Habib Hadi saat bertemu dengan Kelompok IKM Batik Probolinggo (KIPRO) Kota, Rabu (28/8) di ruang transit kantor wali kota. Diketuai Made Malvinas, KIPRO Kota menyampaikan berbagai hal terkait pembatik yang mulai ada sejak tahun 2008 silam lalu itu. KIPRO Kota sendiri baru dibentuk pada tahun 2012.

“Terima kasih kami masih diberi kesempatan membatik. Karena tanpa Pemkot Probolinggo (DKUPP), kami tidak ada apa-apanya. Bagi kami batik bukan hanya sekadar kain tapi juga budaya. Kami tidak ingin batik printing masuk di Kota Probolinggo,” kata Made, yang berprofesi sebagai guru di SMAN 3 itu.

KIPRO Kota didirikan bukan untuk kumpul-kumpul saja, tapi juga sebagai wadah saling mengkoreksi hasil karya, mengontrol kualitas sampai pemilihan motif dan warna batik. Pembatik juga mengeluhkan seragam sekolah yang tidak menggunakan batik, berbeda dari sebelumnya.

Menurut wali kota, ia tidak pernah memberikan kebijakan soal siswa sekolah boleh atau tidak menggunakan seragam batik. Yang diatur dalam pendidikan gratis berupa kelengkapan sekolah adalah kain seragam merah putih (untuk SD), biru putih (untuk SMP), pramuka dan olahraga. “Nanti biar dikroscek sama DKUPP ke Disdikpora,” kata Habib Hadi ke Kepala DKUPP Gatot Wahyudi yang mendampingi saat pertemuan berlangsung.

Orang nomor satu di Kota Probolinggo ini juga berpesan, pembatik bisa menjaga warna saat membuat seragam baik itu kantor atau sekolah. “Jaga mutu kualitas. Jangan hanya oper nota saja, paham kan?,” tuturnya diangguki 16 pembatik yang hadir kala itu.

Habib Hadi berharap, KIPRO Kota bukan wadah semata tetapi harus bisa tegas kepada anggotanya. Jika ada yang tidak sesuai pesanan langsung ditegur karena bisa merusak kredibilitas pembatik lainnya.

“Kalau sampai warnanya tidak sama (untuk seragam), ya malu. Di-guyubkan pembatik-pembatiknya. Kalau semua pembatiknya guyub berarti pembinaannya DKUPP ada hasilnya,” terang Habib Hadi yang tidak suka motif hewan di kain batik.

Dalam pertemuan tersebut, pembatik mengaku sudah lega bisa bertatap muka dengan wali kota secara langsung dan dapat menyampaikan uneg-unegnya. Saat itu para pembatik juga ditantang membuat motif yang akan dipilih wali kota sendiri. Batik itu akan dipakai oleh wali kota saat bertugas keluar kota sekaligus mempromosikan batik karya pembatik Kota Probolinggo. (famydecta/humas)