Jelang Semipro, Gelar Gladi Kolosal Jaran Bodag

Wakil Wali Kota Probolinggo sangat serius melihat gladi bersih kolosal jaran bodag sebelum tampil di Sempiro. (Foto: Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

KANIGARAN – Tampilan jaran bodag secara kolosal baru kali pertama akan ditampilkan saat Seminggu di Kota Probolinggo (Semipro), pada 31 Agustus mendatang. Demi penampilan yang memukau dan berkesan bagi penonton, panitia menggelar gladi bersih disaksikan langsung Wawali Mochammad Soufis Subri, Rabu (28/8) sore.

Ya, Jaran Bodag yang melibatkan 150 penari dari pelajar tingkat SMP/MTs dan SMA/MA/SMK akan beraksi di pertigaan Kodim 0820 di Jalan Panglima Sudirman. “Jadi, ini dapat dikatakan soft openingnya Semipro. Akan menjadi pembeda antara semipro yang sebelumnya dan sekarang. Ini akan menjadi ciri sekaligus ikon kota,” kata Subri, yang ditemui di lokasi gladi bersih.

Sejak pagi hari, 31 Agustus nanti di depan pemkot akan digelar sejumlah acara mulai Festival Ikan Asap. Sore harinya dilanjut Jaran Bodag-Kiprah Lengger-Hadrah berkolaborasi, lalu malamnya ada fashion show muslimah di Sudirman Fashion Street.

Kesenian Jaran Bodag telah diakui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai warisan budaya tak benda. “Jaran Bodag sebagai ikon kota kita angkat, kita explore menjadi sajian yang menarik diikuti anak-anak milenal. Tampilan ini penanda ciri khas budaya dan karakter Kota Probolinggo,” imbuh Subri.

Pesan khusus dari kegiatan tersebut, menurut Subri, sebagai upaya melestarikan seni budaya Kota Probolinggo tetapi kesenian itu bisa diadaptif oleh anak muda.  Saat ini persiapan Semipro mencapai 90 persen. “Sesuai arahan Pak Wali, kami harus memastikan acara secara detail, perlengkapan, SDM di dalam rangkaian kegiatan sehingga satu sama lain mengerti apa dan kapan tugasnya,” tutur Subri.

Tampak Wakil Wali Kota Probolinggo turut ikut melakukan gladi bersih kolosal jaran bodag. (Foto: Rifki/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Di Semipro ke 11, namun Semipro perdana di masa kepemimpinan Wali Kota Hadi Zainal Abidin dan Wawali Subri, tantangannya ada pada menyinkronkan kemampuan, OPD dan keinginan masyarakat seluruh Probolinggo.

Sebab Semipro sangat multi dimensi, mulai dimensi budaya, pendidikan, kesenian, entertaintment, ekonomi kreatif dan edukasi. Wali Kota Habib Hadi menginginkan yang sudah baik untuk diteruskan, sedangkan yang kurang baik diperbaiki.

“Yang belum ada kita sesuaikan kebutuhan dari masyarakat Kota Probolinggo. Terkait dengan sajian kesenian etnis sekarang ada tapi tidak kita lokalisir. Kita tampilkan sehari-hari (selama Semipro), kualitas Semipro masih sama, cuma memang sekarang lebih kedepankan seniman lokal, kearifan lokal. Dengan melibatkan semua anak-anak Kota Probolinggo,” jelas Subri.

Subri menambahkan, masyarakat Probolinggo, anak-anak muda, dewasa bisa hadir menikmati Semipro. Menikmati kolaborasi anak muda dengan seniman, ada kuliner yang disajikan secara apik bagi masyarakat.

Sementara itu, Kabid Promosi Wisata Disbudpar Kota Probolinggo, Suciati Ningsih menjelaskan warisan budaya tak benda ditampilkan agar pelajar generasi muda mau belajar dan mengenal budayanya. “Jaran bodag seperti apa, kiprah lengger seperti apa. Jadi meski tidak masuk kurikulum tapi dikemas dengan cantik supaya mereka tertarik,” katanya.

Kolaborasi Jaran Bodag, Kiprah Lengger dan Hadrah merupakan kolaborasi agar setelah Jaran Bodag, Kiprah Lengger juga diakui hak patennya oleh Kemendikbud. “Hadrah kolaborasi baru biar lebih dikenal masyarakat. Kesenian ini adalah milik masyarakat Kota Probolinggo dan menjadi ciri khas kota,” tutur alumni STPDN yang mengaku kostum kesenian secara kolosal ini akan sedikit disulap agar lebih eye chatcing. (famydecta/humas)