MAN 2 Juara Lomba Jula Juli

image_pdfimage_print

 

Jula-Juli merupakan kesenian khas Jawa Timur, kesenian yang membawakan syair-syair puisi dan kidungan dalam pertunjukan ludruk dengan bahasa mengkritik. Kidungan mempunyai arti seni baca puisi atau kisah dalam sastra lisan Jawa yang dilagukan serta bisa diiringi tabuhan.

Tahun ini, Pemerintah Kota Probolinggo menggelar Semipro (Seminggu di Probolinggo) yang didalamnya ada lomba Jula-Juli Pelajar 2017, Jumat, (19/8) malam, di halaman Museum Kota Probolinggo. Selain memeriahkan Semipro, lomba ini juga dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-72 serta Hari Jadi Kota Probolinggo ke-658.

Tepat pukul 19.30 Wali Kota Rukmini hadir membuka dan memulai lomba, nampak hadir pula para Kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) dan para pelaku seni di Kota Probolinggo. Lomba Jula Juli diikuti oleh 13 kelompok pelajar, 9 kelompok dari pelajar SMP/sederajat dan 3 kelompok dari pelajar SMA/sederajat.

Juri pada malam itu adalah pembina-pembina kesenian di Kota Probolinggo diantaranya Mukadi, Muji Rahayu dan Maryati. Kriteria penilaian Juri pada lomba ini adalah peserta harus menggunakan bahasa Jawa/Madura, tema tentang pendidikan, kostum dan durasi tampil maksimal 15 menit.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Agus Efendi menjelaskan, dalam laporannya lomba ini bertujuan sebagai penguatan nilai seni yang bernilai asli warisan leluhur. Melestarikan Jula-Juli yang merupakan kesenian khas Jawa Timur, memberikan ruang kepada generasi muda untuk lebih kreatif dan inovatif sehingga kesenian daerah tidak punah dan kesenian Jula-Juli ini lebih dikenal dan disukai tak hanya dikalangan pelajar tapi juga masyarakat umum.

“Ada yang berbeda ditahun ini, penampilan para peserta yang tahun lalu lebih banyak menyajikan tetembangan namun ditahun ini lebih banyak menampilkan kidungan,” ungkap Agus Efendi.

Wali Kota Probolinggo yang hadir malam itu mengaku sangat mengapresiasi dengan diadakannya lomba ini. Di zaman era globalisasi khawatir dengan anak-anak yang terseret hal-hal negatif seperti kenakalan remaja, narkoba, dan hal buruk lainnya. Lomba ini juga merupakan kesempatan para pelajar melestarikan dan mengembangkan seni budaya Indonesia. “Saya bangga apabila setiap anak benar-benar menikmati masa remajanya dengan hal-hal yang positif,” ungkap Rukmini. 

Mereka yang lolos dalam lomba ini adalah kelompok Mandrapro Exist dari MAN 2 di posisi pertama, juara 2 kelompok Mandara SMKN 2, juara 3 kelompok Songo SMPN 10, juara Harapan 1 kelompok Suara Buana SMPK Mater Der, juara Harapan 2 kelompok Cahaya 9 SMPN 9, dan juara HArapan 3 kelompok Komak SMPN 6. (malinda/humas)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.