Wakil Wali Kota memberikan penghargaan kepada para pemenang lomba show batik Semipro. (Foto: Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)
image_pdfimage_print

MAYANGAN. Wakil Wali Kota Probolinggo, Mochammad Soufis Subri beserta istri, Diah Kristanti terlihat sumringah saat menghadiri penyerahan piala pemenang lomba show batik Semipro 2019, Selasa (3/9), sore. Acara yang berlangsung di dalam tenda dome pameran UMKM Semipro ke XI (stadion Bayuangga) itu, juga dihadiri Asisten Pemerintahan Gogol Sudjarwo dan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Kota Probolinggo, Dwi Putranto Riau. Lomba show batik ini berlangsung selama dua hari, yakni 2 dan 3 September 2019.

Setelah menyerahkan piala kepada para pemenang, Subri menegaskan sangat mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, lomba show batik sangat menginspirasi. Subri mengaku ada banyak hal yang Ia pikirkan tentang bagaimana batik Kota Probolinggo bisa berkembang dan lebih dikenal masyarakat luas ke depan.

“Ini memiliki dampak ekonomi yang luar biasa. Terkait dengan ekonomi kreatif, khususnya batik Kota Probolinggo, saya berharap ke depan semakin tumbuh dan semakin berkembang, semakin banyak kreasinya, dan tentunya semakin dikenal oleh warga di luar Kota Probolinggo. yang paling utama adalah bagaimana para pembatik di Kota Probolinggo ini bisa sejahtera,” ujar Subri.

Ketika ditanya terkait grand design pengembangan batik di Kota Probolinggo, Subri menceritakan banyak hal. Di antaranya, bagaimana Pemerintah Kota Probolinggo akan memulai pengembangan batik ini dari hulu. Seperti aktualisasi data pembatik di Kota Probolinggo, serta akan kembali melakukan pelatihan dan pendampingan bagaimana membatik yang betul dan lebih kreatif.

“Tanpa data yang betul, tidak mungkin. Jadi dari data ini akan kita ketahui, polanya apa? Bagaimana caranya? Berapa kekuatan kita? Regulasi apa yang diperlukan? Sehingga jadi satu kesatuan, dan batik ini menjadi produk unggulan Kota Probolinggo untuk dipasarkan di manapun juga,” jelas Subri.

“Kita juga akan melatih para pembatik ini untuk memasarkan pruduknya. Bagaimana memanage usaha mereka, sekaligus marketingnya. Sehingga mereka tidak hanya mampu berkreasi membuat batik, tapi juga mampu menjual batik ke seluruh Indonesia,” tambah Wawali.

Terkait dengan keunggulan batik Kota Probolinggo, Subri yang seorang arsitek itu punya pandangan tersendiri. Menurutnya, batik Kota Probolinggo ini lebih menyatu dengan alam.

“Dia (batik) banyak menggambarkan alam Kota Probolinggo. Ada batik mangga, ada batik manggur, ada juga kalau tidak salah itu batik kerang. Kota Probolinggo memiliki ciri khas. Dan seluruhnya itu tergabung dalam motif batik Pendhalungan sebenarnya. Dan brand ini yang akan kita jual,” kata Subri.

Istri Wakil Wali Kota Diah Kristanti memberikan penghargaan kepada para pemenang lomba show batik Semipro. (Foto: Welly/Humas dan Protokol Setda Kota Probolinggo)

Pemerintah Kota Probolinggo telah menerima sekitar 150 motif batik kuno Kota Probolinggo dari Tropen Museum, Belanda. Saat ini, motif-motif batik kuno tersebut, tersimpan di Museum Probolinggo. Terkait hal ini, Subri menjelaskan bagaimana kelanjutan dari motif-motif batik kuno ini.

“Nanti kita dorong, para pelaku batik ini bersama dengan LS-nya (instansi pelaksana) DKUPP, agar bagaimana betul-betul batik asli Kota Probolinggo ini bisa dimunculkan kembali. Itu penting, karena dengan mengangkat kembali batik kuno ini akan meretas kembali histori batik di Probolinggo dan akan menjadi ciri Kota Probolinggo kedepannya,” janji Subri.

Ketika ditanya, slogan apa yang akan digunakan Pemerintah Kota Probolinggo untuk mengembangkan batik-batik yang dimilikinya, secara spontan Subri menjawab “Batik Kota Probolinggo Mendunia”.

Gatot Wahyudi, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Kota Probolinggo mengakui, kehadiran lomba show batik Semipro 2019 memiliki dampak yang positif bagi pameran UMKM, khususnya di tenda dome. Menurutnya pengunjung lebih ramai dari pameran UMKM Semipro tahun-tahun sebelumnya.

“Dibanding tahun lalu, saya perhatikan pengunjung stan di tenda dome tahun ini terlihat lebih ramai. Terutama akibat dari lomba fashion ini. Tahun sebelumnya tidak ada lomba-lomba seperti ini, jadi pengunjung itu ya biasa-biasa saja. Terkait dengan omset, nanti akan kami data. Saya harapkan jauh lebih signifikan kenaikannya,” ujar mantan Kabag Humas dan Protokol itu.

Made Malvinas, Ketua Kelompok IKM Batik Probolinggo (KIBPRO) Kota menjelaskan, lomba show batik Semipro 2019 ini dibagi menjadi tiga kelompok umur yaitu A, B, dan C. Untuk kelompok A, peserta dari tingkat TK, kelompok B dari tingkat SD, dan kelompok C dari tingkat remaja, yaitu SMP dan SMA.

Kelompok A dijuarai Cantigie A. H (juara I), Amanda Ramadhani Risky Yuniarto (juara II), dan M. Rizky Aditya (juara III). Kelompok B dijuarai Cheila Gita (juara I), Desti Irah (juara II), dan Arifa Dwianggita Putri (juara III). Kelompok C dijuara Kaylila Syahputri Setyawan (juara I),  Izza Karin (juara II), dan Putri Qaylla M-Z (juara III). (abdurhamzah/humas)

 

 

Probolinggo Vice Mayor Mochammad Soufis Subri along with his wife, Diah Kristanti attended the competition batik show to hand over the prizes for the winners on Tuesday (3/9). It was held for two days on 2 and 3 September 2019.

After handing over the prizes, Subri has stated his appreciation for the event. He has many things to thinks about how to develop the city’s batik motifs to be well known in the future.

“It has an extraordinary economic impact. Talking about the creative economy, especially Probolinggo batik, I hope it will be more developed with more creative, and be well known by other people. The thing is that how the batik creators in the city could increase their welfare,” Subri said.

When asked about the grand design of the batik development in the city, Subri said the government will develop batik from its source including data actualization of batik creators in the city and hold more training on how to make creative batik.

“Without accurate data, it’s impossible. So we need the data, how is the pattern? How many creators we have, and what regulations needed to do this? Then, it would be unity and becomes a great product of the city to be sold,” he explained.

“We will also hold training for the creators to sell their products. How to manage their business and the marketing process. In this case, they will not only create batik but also be able to sell their products throughout the nation,” the vice mayor added.

Subri has also his opinion on the Probolinggo batik motifs. According to him, the motifs created has a close relation with nature.

“It describes more about the city. we have mango batik, manggur, and others. It shows that the city ha characteristics. And it all combined in a batik motif. This is the brand we’d like to sell,” Subri said.

Probolinggo municipal administration has received 150 old batik motifs from Tropen Museum, Holland. At the moment, the motifs have been restored in Probolinggo Museum. Related to this, Subri explained how the government will do with these 150 motifs.

“We will push the creators to create more batiks with these motifs. It’s important. By using these motifs, it will be the city’s characteristics,” Subri said.

Asked about the slogan the government promotes to develop the batik motifs, Subri spontaneously responded: “Probolinggo City Batik Goes International”.

The head of Cooperatives, Micro Business, Trade, and Industry Agency, Gatot Wahyudi admitted the competition has a positive impact on the SME exhibition. Based on the data, there are more visitors coming to the exhibition compared to last year’s.

“We have more visitors this year, thanks to the competition we hold. Talking about the income for the SME, I will publish the data later. I hope we have significant improvement,” he said.

The chairman of Probolinggo Batik Association, Made Malvinas explained the batik show competition is divided into three groups: kindergarten, elementary school, and teenager.